3 Asas Hukum Islam Sebagai Landasan Ijtihad

Hukum Islam

Tiga (3) asas hukum Islam ini sangat penting untuk diketahui sebagai landasan ijtihad bagi para ulama. Tujuannya agar saat istimbat al-ahkam as-syar’iyyah (menggali hukum-hukum syariat) dapat menghasilkan hukum-hukum yang solutif dan berorientasi maslahat. Sebagaimana jargon dalam ijtihad: al-Maslahat Qiblatul Mujtahidin (maslahat adalah qiblat bagi para mujtahid).

Syekh Muhammad Ali as-Sayis menyebutkan asas – asas hukum Islam (at-Tasyri’ al-Islamy) sebagai landasan ijtihad dalam kitab Tarikh al-Fiqh al-Islamy sebagai berikut:

Pertama, Adam al-Haraj (Tidak Memberatkan)

Hukum Islam hadir bukan untuk memberatkan manusia melainkan untuk mempermudah dan mengatur kehidupan mereka dengan baik.  Adam al-Haraj sangat tampak sekali ketika syariat Islam memberikan keringanan-keringan hukum bagi yang uzur karena sakit, perjalanan, atau haid dan sebagainya.

Ada beberapa ayat yang menjadi landasan konsep ini di antaranya Surat al-Baqarah ayat: 185, an-Nisa’ayat: 27, al-Maidah ayat:6, al-Hajj ayat: 78, dan al-‘A’raf ayat: 157.

Konsep tersebut juga diperkuat oleh beberapa hadis, salah satunya dari sahabat Anas bin Malik, Nabi Saw. bersabda;

يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا

Pemudahlah (oleh kalian) dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat lari (atau membuat enggan). (HR. Bukhari, Shahih al-Bukhari, juz 1, hal. 25)

Syekh Muhammad Ali as-Sayis mengatakan bahwa berdasarkan penelitian para fuqaha’ sumber-sumber takhfif (keringan hukum) ada 7 di antaranya: (1) Isqath al-Ibadah (mengugurkan ibadah) seperti haji tidak wajib bila diduga tidak aman diperjalanan misalnya kondisi perang antara negara; (2) An-Naqsh Min al-Furuud (mengurangi beberapa fardhu) misalnya 4 rakaat shalat zuhur boleh di-qashar (menjadi 2  rakaat) saat perjalanan; (3) Al-ibdal (mengganti ibadah) misalnya mengganti wudu dengan tayamum karena tidak ada air.

Baca juga :  Bagaimana Hukum Transaksi Kripto? Berikut Hasil Kajian Ulama Indonesia
Kedua; Taqlil at-Takalif (Meminimalisir Pembebanan Hukum)

Meminimalisir taklif merupakan salah satu manifestasi karakter syariat Islam yang membedakannya dengan syariat umat sebelumnya. Ini dibuktikan dengan firman Allah surat al-Maidah ayat 101-102:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al-Qur’an itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan(kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.  Sesungguhnya telah ada segolongsn manusia sebelum kamu menanyakan hal-hal yang serupa itu(kepada Nabi mereka), kemudian mereka tidak percaya kepadanya.

Ada beberapa hadis yang mendukung maksud Al-Qur’an sebelumnya. Dari Ibnu Abbas, dia berkata; Rasulullah berkhotbah; wahai manusia, sesungguhnya Allah mewajibkan haji kepada kalian. Lalu al-‘aqra’ bin habis berkata; Ya Rasul, apakah diwajibkan setiap tahun? Nabi menjawab; andaikan aku menjawab (setiap tahun) nicaya wajib ditunaikan dan kalian tidak akan mampu, sebenarnya kewajiban haji satu kali sedangkan lebih dari itu disebut sunnah. (HR. Al-Hakim, al-Mustadrak ‘Ala al-Shohihain, hadis ke-3214, juz 2, hal. 350)

عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ

Dari Amir bin Sa’ad bin Abi Waqash dari ayahnya, Rasulullah bersabda; sesungguhnya orang yang paling besar dosa atau kedholimannya dari kaum muslimin adalah orang yang bertanya tentang sesuatu yang tidak haram lalu karena pertanyaanya maka diharamkan (HR. Bukhari, hadis ke-7289, Shahih al-Bukhari, juz 9, hal. 95)

Dari Abi Sta’lab al-Khusyany, Rasulullah bersabda; sesungguhnya Allah mewajibkan beberapa fardhu, maka jangan kalian tinggalkan, memberikan batasan atau had maka jangan sampai kalian lampaui, dan mengharamkan beberapa hal maka jangan melanggarnya selian itu Allah tidak membahas beragam hal sebagai rahmat bagi kalian bukan karena lupa oleh karenanya jangan membahasnya. (Imam Nawawi, al-Adzkar an-Nawawiyyah, hal. 409)

Baca juga :  Ronggasasmita, Pujangga Keraton dari Tarekat Sattariyah
Ketiga, At-Tadarruj Fi at-Tasyri’ (Gradual dalam Memberikan Aturan Hukum)

Sebelum Islam datang, bangsa Arab sudah memiliki aturan sosial tersendiri yang bercorak liberal. Hal itu ditandai dengan perlakuan kaum elite yang menindas rakyat jelata, lalu para lelaki menjadi subjek, hingga wanita sebagai objek  yang sering kali mendapatkan diskriminasi baik dalam ruang lingkup keluarga maupun publik.

Selain itu kelompok kapitalis terus melakukan tindakan zalim untuk ‘mencekik’ pelaku ekonomi menengah kebawah dan kasus-kasus lainnya.

Melihat konteks sosial tersebut, apabila hukum Islam yang ideal langsung diberikan secara keseluruhan dalam waktu yang sangat singkat niscaya secara tabiat aturan-aturan yang dibawa oleh Rasulullah cenderung ditolak.  Oleh sebab itu, Islam sebagai agama yang berprinsip rahmatan lil alamin harus masuk ke tanah Arab dengan pelan-pelan (step by step).

Berikut beberapa contoh hukum Islam yang diterapkan secara bertahap oleh syariat:

Hukum minum khamr (arak)

Pada awalanya Al-Qur’an menyampaikan bahwa madharat arak lebih besar dari manfaatnya (al-Baqarah; 219). Kemudian larangan minum arak mulai diberlakukan, hanya saja masih sebatas di waktu shalat (an-Nisa’; 43). Akhinya minum arak dilarang secara total dan mutlak bahkan sampai dikategorikan sebagai tindakan setan yang tercela dan harus dijauhi (al-Maidah; 90-91).

Hukum berzina

Di awal syiar Islam, saksi yang diberikan pada pelaku zina hanya berkutat pada ditahan di dalam rumah sembari mendapatkan ocehan atau cacian dari masyarakat (an-Nisa’; 15). Lalu akhirnya syariat menetapkan hukum rajam bagi pezina muhshan (memiliki pasangan dengan pernikahan yang sah).

Baca juga :  Apakah Sah Jika Shaf Shalat Jamaah Tidak Rapat?  

Keterangan sumber hukum ini sebagaimana yang sudah masyhur dalam hadis salah satunya riwayat Imam Bukhari dari sahabat Ibnu Umar. Sedangkan hukum bagi perawan atau ghair muhshan yang melakukan zina mendapat sanksi dengan hukuman jild, yakni didera (cambuk) 100 kali (an-Nur; 2).

Hukum berperang

Pada saat komunitas Muslim masih sangat sedikit jumlahnya dan belum kuat, Allah memeritahkan umat Islam untuk memaafkan, bersabar atas kedhaliman musuh dan tidak memerangi mereka (al-An’am; 106, al-A’raf; 199 dan al-Hajr; 85).

Namun, setelah kaum Muslimin bertambah banyak dan kekuatan mereka mulai tampak, Allah mengizinkan untuk melawan untuk berperang (al-Hajj; 39). Bahkan, setelah mereka menyadari pentingnya perang dalam rangka mempertahankan diri dari serangan musuh, maka akhirnya perang diwajibkan (al-Baqarah; 190-191, al-Anfal; 39 dan at-Taubah; 36).

Demikian 3 asas hukum Islam sebagai acuan ketika memecahkan problematika umat yang semakin kompleks. Asas ini penting untuk dipegang dalam ijtihad seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, sehingga ijtihad hukum-hukum Islam selaras dengan prinsip utama agama; rahmatan lil ‘alamin. Wallahu a’lam.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.