3 Tips Mengatasi Gejala OCD dalam Ibadah

Semua orang mungkin pernah mengalami ragu-ragu ketika melaksanakan ibadah. Misalnya  ketika shalat lupa hitungan rakaat, ketika berpuasa terlintas ragu sudah niat atau belum, dan sebagainya.

Sebagian orang menyikapi perasaan ragu tersebut berpegang pada salah satu kaidah fikih اليقين لا يزال بالشك (keyakinan tidak dapat dihilangkan dengan keraguan).

Saya pernah bertemu dengan beberapa orang, salah satunya sebut saja si Abdul. Ia bermasalah dengan perasaan ragu-ragu berlebihan dalam ibadah.

Contohnya ketika berwudhu, ia selalu mengulang-ulang wudhunya karena selalu berpikir bahwa apa yang ia lakukan tidak sempurna sehingga hampir seluruh pakaiannya basah kuyup sehabis berwudhu.

OCD dan Ibadah

Dalam hal ini, Abdul sedang terkena gangguan OCD. Lalu apa itu OCD? Lalu apa hubungan kondisi ragu-ragu (Jawa: mamang) dalam ibadah?

Dalam ulasan situs Halodoc, OCD (Obsessive Compulsive Disorder) atau gangguan obsesif-kompulsif adalah gangguan kesehatan mental ketika pengidapnya memiliki pikiran yang tidak terkendali atau dorongan untuk melakukan sesuatu yang muncul berulang-ulang (kompulsif).

Orang dengan OCD tidak dapat mengendalikan pikiran dan perilakunya yang berlebihan, selalu merasa cemas, dibanjiri perasaan bersalah. Bahkan, diserang kepanikan jika tidak melakukan perilaku berulang yang muncul dari pikirannya. Kabar buruknya adalah OCD merupakan penyimpangan syaraf dan genetika yang tidak bisa disembuhkan dan berpotensi menurun.

Baca juga :  Melacak Sejarah Pengobatan Qur’ani

Bentuk perilaku OCD bisa bermacam-macam bentuknya, dan ragu-ragu dalam melaksanakan ibadah, merasa pelaksanaan ibadahnya tidak sah, selalu merasa berdosa karena alasan tidak rasional, merupakan salah satu bentuk OCD.

Tips Mengatasi OCD dalam Ibadah

Setidaknya ada tiga (3) tips untuk mengatasi OCD yang berbentuk kecemasan, perasaan berdosa, atau ragu-ragu berlebih dalam ibadah.

Pertama, menerima ketidaksempurnaan dalam bentuk apapun. Yang artinya, sebagai contoh, ketika dalam sholat kita harus berulang-ulang mengulang takbir karena cemas niat kita tidak sah.

Dalam konteks ini, maka kita harus menerima dalam shalat kita memang tidak pernah bisa sempurna dan hal ini berlaku untuk semua ibadah.

Mengenai perkara apakah Allah menerima ibadah kita atau tidak, hal itu adalah urusan Allah dengan catatan kita sudah melaksanakan ibadah sesuai dengan syarat dan rukun ibadah. Allah sesungguhnya menerima ibadah bukan karena kesempurnaaan ibadah kita, namun karena kasih sayang-Nya.

Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dia-lah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang (az-Zumar : ayat 53)

Tujuan langkah pertama ini adalah membentuk pemikiran bahwa pikiran orang-orang yang memiliki rasa mamang (was-was) dalam ibadah itu tidak muncul atas kehendak sendiri dan merupakan penyimpangan yang akan mengganggu aktivitas ibadah mereka.

Baca juga :  3 Cara Tawakal kepada Allah Saat Wabah Corona

Kedua, mengalihkan pikiran pada hal lain ketika pemikiran untuk berlaku impulsif ini muncul, kemudian fokus pada pemikiran lain tersebut.

Misalnya, saat selalu cemas wudhu tidak sah sehingga berpikir harus mengulang wudhu, segeralah mengalihkan pemikiran bahwa berlebihan dalam menggunakan air merupakan bentuk dari mubazir, dan mubazir adalah hal yang dilarang Allah. Fokuslah pada pengalihan pikiran mubazir tersebut.

Dengan mengalihkan pikiran yang ada di benak mereka, langkah ini melatih orang yang was-was dalam ibadah untuk mengatasi keresahan dengan memaksa meyakini pikiran yang lebih baik daripada pikiran OCD tersebut.

Ketiga, hal yang tidak kalah penting dalam mengatasi perasaan mamang dalam ibadah ini adalah berdo’a kepada Allah agar dijauhkan dari pikiran-pikiran tidak masuk akal yang mengganggu ibadah kita.

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan-Nya manusia, Raja Manusia, Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang membisikkan  (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia” (an-Nas : ayat 1-6)

Semoga kita bisa melaksanakan ibadah dengan khusyu’ tanpa terganggu faktor lain di luar ibadah yang kita laksanakan.

Seberapa keras usaha kita untuk mencapai kesempunaan ibadah, tidak jarang selalu ada faktor lain yang merusak nilai ibadah kita. Dengan sifat Rahman Rahim, semoga Allah selalu menerima ibadah kita yang selalu penuh kekurangan.

Baca juga :  Bimaristan, Geliat Medis Abad Pertengahan

Sumber Bacaan:

Mark Manson, The Subtle Art of not Giving a F*ck: Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat (Pendekatan yang Waras demi Menjalani Hidup yang Baik), Jakarta: Penerbit Grasindo, 2018.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *