4 Amalan Pagi Hari Menurut Imam Al-Ghazali

Amalan Pagi Hari Menurut Imam Al-Ghazali – Waktu pagi merupakan waktu istimewa karena menjadi waktu yang paling efektif untuk mengerjakan suatu pekerjaan. Di waktu ini kondisi fisik dan pikiran manusia sedang berada dalam keadaan segar setelah diistirahatkan pada malamnya. Sehingga baik fisik maupun pikiran akan siap untuk menjalankan segala pekerjaannya.

Pada sebagian waktu pagi ini ada waktu yang cukup menentukan yaitu selepas salat subuh sampai terbitnya Matahari. Waktu ini merupakan waktu peralihan bagi fisik dan pikiran setelah istirahat menuju aktivitas.

Oleh karena itu, waktu yang penting ini perlu diisi dengan kegiatan yang dapat mendorong perasaan positif sehingga merasa lebih bahagia dan siap untuk menjalani hari.

Amalan Pagi Hari Menurut Al-Ghazali

Berikut ini 4 amalan pagi hari dalam Islam menurut Imam al-Ghazali dalam Bidāyah al-Hidāyah. Keempat amalan ini dilakukan pada waktu pagi selepas Sholat Subuh sampai tebitnya Matahari, yaitu berdoa, berzikir, membaca Al-Qur’an dan bertafakur.

Pertama, Imam al-Ghazali menganjurkan kita semua untuk berdoa selepas salat subuh karena waktu setelah salat fardu ini merupakan salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa. Dengan berdoa pada pagi hari ini berarti kita telah menyerahkan segala harapan kepada Tuhan yang maha mengatur segala yang terbaik untuk kita.

Syekh Nawawi yang menulis syarah (penjelas) mengenai kitab ini kemudian menambahkan tata cara untuk berdoa. Doa hendaknya didahului terlebih dahulu dengan memuji Allah dan bersalawat kepada Nabi Muhammad SAW, baru kemudian menyebutkan hajat yang diinginkan. Setelah itu ditutup dengan sholawat kepada Nabi Muhammad, karena Allah akan menerima apa yang ada di antara dua sholawat.

Kedua, waktu setelah subuh ini hendaknya juga diisi dengan berzikir. Dengan berzikir ini akan menimbulkan ketenangan dalam hati sehingga menimbulkan perasaan yang positif.

Imam al-Ghazali kemudian memberikan urutan zikir yang hendaknya dibaca setelah Sholat Subuh yaitu:

Dzikir 1

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لاَ يَمُوْتُ، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Tidak ada tuhan selain Allah, yaitu dzat yang maha esa yang tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi Allah-lah segala kekuasaan dan segala pujian, yang menghidupkan dan yang mematikan sedangkan Dia merupakan zat yang hidup dan tidak mati, ditangan-Nya segala kebagusan dan dia yang maha menguasai segala sesuatu.”

Dzikir 2

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْمُلْكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ

“Tidak ada tuhan selain Allah yang memiliki segala kerajaan dan kebenaran serta yang maha menampakkan.”

Dzikir 3

لا إِلَهَ إِلا اللهُ الْوَاحِدُ القَهَّارُ، رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا العَزِيزُ الغَفَّارُ

“Tidak ada tuhan selain Allah yang maha esa lagi maha menundukan, yang memiliki langit dan Bumi serta segala yang ada diantaranya, Tuhan yang maha perkasa lagi maha mengampuni.”

Dzikir 4

سُبْحَانَ اللهِ, وَالْحَمْدُ للهِ، وَلَا إِلهَ إِلَّا اللهُ, واللهُ أَكْبَرُ، ولَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ

“Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan selain Allah, Allah maha besar, tidak ada daya dan upaya kecuali pertolongan Allah yang maha tinggi lagi Maha Agung.”

Dzikir 5

سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ

“Maha suci Allah lagi Maha Bersih, Tuhan para malaikat dan Jibril.”

Dzikir 6

سُبْحَانَ اللَّهِ ، وبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

Dzikir 7

“Maha suci Allah dengan segala pujian, maha suci Allah yang Maha Agung.”

Dzikir 8

أسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ الَّذِي لاَ إلَهَ إلاَّ هُوَ، الحَيُّ القَيُّومُ، وَأَسْأَلُهُ التَوبَةَ وَالمَغْفِرَةِ

Dzikir 9

“Aku meminta ampu kepada Allah yang maha agung, yang tidak ada tuhan selain Dia yang hidup dan yang berdiri sendiri, Aku memohon taubat dan ampunan kepada-Nya.”

Dzikir 10

اَللَّــهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَع ذَا اْلجَدِّ مِنْكَ اْلجَدّ

“Ya Allah tidak ada yang dapat menghalangi bagi apa yang Engkau berikan, tidak ada yang mampu memberi apabila Engkau halangi, tidak ada yang mampu menolak apa yang Engkau putuskan, dan orang yang mempunyai kekayaanpun tidak mampu memberi manfaatkan kekayaannya itu kepada-Mu.”

Dzikir 11

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّد وَصَحْبِهِ وَسَلِّم

“Ya Allah curahkanlah rahmat sejahtera kepada Nabi Muhammad, kepada keluarganya dan kepada para sahabatnya.”

Dzikir 12

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dengan nama Allah yang tidak akan dapat memberikan bahaya apa-apa yang ada di langit dan di bumi karena disebut nama-Nya, dan Dia Tuhan yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Bacaan-bacaan tersebut menurut Imam al-Ghazali hendaknya diulangi 100 kali, jika tidak mampu maka 70 kali dan jika tidak mampu lagi maka cukup hanya 10 kali saja. Mengulangi bacaan zikir sebanyak 10 kali ini sesungguhnya sangatlah singkat dan mungkin tidak sampai memakan waktu 10 menit.

Ketiga, menurut Syekh Nawawi dalam syarah kitab Bidāyah al-Hidāyah, membaca Alquran ini bisa menjadi ibadah yang mengumpulkan keutamaan dari zikir, tafakur dan doa apabila disertai dengan bertadabur terhadapnya.

Oleh karena itu Imam al-Ghazali juga menganjurkan untuk mengisi waktu pagi ini dengan membaca Al-Qur’an. Syekh Nawawi kemudian memberikan tambahan keterangan yang dikutip dari ihya’ bahwa pada waktu pagi ini hendaknya membaca beberapa ayat yang telah dijelaskan keutamaanya dalam hadis-hadis seperti surat al-Fatihah, ayat kursi, akhir surat al-Baqarah yaitu ayat 285-286, surat Ali Imran ayat 18 dan 26, al-Taubah ayat 128, al-Fath ayat 27,  al-Isra ayat 111, lima ayat pertama dalam surat al-Hadid dan tiga ayat terakhir surat al-Hasr.

Keempat, hendaknya juga mengisi waktu setelah salat subuh dengan bertafakur mengenai dosa dan berniat untuk berbuat kebaikan serta merencanakan untuk berbuat ketaatan sepanjang hari.

Imam al-Ghazali kemudian melanjutkan bahwa yang sangat penting juga dalam bertafakur ini adalah mengingat kematian. Hal ini karena sangatlah rugi bagi siapa saja yang tidak mempersiapkan datangnya kematian ini.

Demikian amalan pagi berupa berdoa, berdzikir, membaca Al-Qur’an dan bertafakur. Dengan melakukan aktivitas tersebut setidaknya kita telah memulai hari dengan menghadirkan Allah dalam hati kita.

Hadirnya Allah dalam hati ini akan menjadi kontrol diri dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Dengan begitu, diharapkan nantinya kita akan mampu untuk menghindar dari maksiat dan hal-hal yang tidak bermanfaat.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *