4 Stasiun Hati Manusia dalam Ajaran Tasawuf

stasiun hati

Hati–baik berupa fisik maupun spiritual–adalah salah satu aspek vital bagi kehidupan manusia. Ia menempati titik pusat anggota tubuh dan berperan signifikan terhadap perkembangan jasmani dan rohani.

Hati juga bisa dikatakan sebagai inti dari manusia. Jika ia sehat, maka seluruh anggota tubuh dan jiwa akan sehat pula, begitu juga sebaliknya.

Hati adalah sebuah tempat antara wilayah antara Kesatuan (ruh) dan daerah keanekaragaman (nafs). Jika hati mampu melepaskan selubung nafsu yang melekat padanya, ia akan berada di bawah pengaruh ruh dan bersih dari segala kotoran. Sebaliknya, jika hati dikuasi nafsu, dia menjadi keruh dan dipenuhi oleh berbagai kotoran.

Berkenaan dengan hati yang terlepas dari selubung nafsu, Jalaludin Rumi pernah bersenandung:

Bila cinta memanggil hati
untuk datang kepadanya,
Hati akan terbang lepas
dari semua makhluk ciptaan

Dalam terminologi sufi, hati menggambarkan substansi spiritual yang terletak antara ruh dan nafs. Maksudnya yaitu suatu substansi yang merupakan tempat terwujudnya sifat-sifat ketuhanan dan kemanusiaan.

Dari sanalah semua pengetahuan dan kesempurnaan ruh serta penyingkapan Perwujudan Ketuhanan berasal. Hati adalah hakikat yang meliputi hakikat jasmani dan rohani.

Hakim at-Tirmidzi, seorang sufi besar abad ke 3 Hijriah yang menginspirasi Ibnu ‘Arabi dan Al-Ghazali, dalam buku Biarkan Hatimu Bicara (2011) memiliki pandangan tentang klasifikasi hati dalam ajaran Tasawuf. Ia menjadi empat (4) stasiun hati, yaitu dada (shadr), hati (qalb), hati-lebih-dalam (fuad), dan lubuk hati (lubb). Dalam istilah lain, stasiun hati kadang juga disebut lapisan atau level hati.

Baca juga :  Jalaluddin Rumi: Perempuan adalah Manifestasi Sempurna Tuhan  

Keempat stasiun hati ini saling tersusun secara berlapis bagaikan lingkaran. Sedangkan dada merupakan bagian terluar dan lubuk hati adalah intinya.

Menurut ilmu Tasawuf, tiap-tiap stasiun mewadahi cahaya sendiri. Dada mewadahi cahaya amaliah dari bentuk praktik agama. Hati mewadahi cahaya iman. Hati-lebih-dalam mewadahi cahaya makrifat, atau pengetahuan akan kebenaran spiritual. Sedangkan lubuk hati mewadahi dua cahaya, yakni cahaya kesatuan dan cahaya keunikan yang merupakan refleksi wajah ilahi.

1. Dada (Shadr) Sebagai Bagian Hati Terluar

Dada dalam bahasa Arab adalah shadr yang berarti “hati dan akal.” Sebagai bentuk kata kerja sh-d-r bermakna pergi, memimpin, dan juga melawan atau menentang. Karena terletak di antara hati dan diri rendah (hawa nafsu), shadr juga bisa diistilahkan hati terluar. Ia adalah tempat bertemunya hati dan hawa nafsu serta mencegah agar salah satu pihak mendominasi pihak lainnya.

Dada adalah wilayah pertempuran utama antara kekuatan positif dan negatif dalam diri seseorang. Jika kekuatan positif kuat, maka dada akan dipenuhi oleh cahaya dan berada di bawah pengaruh jiwa ilahi yang terletak di lubuk hati. Sebaliknya, jika dada didominasi oleh perasaan negatif seperti dengki, syahwat, dan kesombongan, maka shadr akan menjadi gelap dan mengeras.

Shadr diisi oleh cahaya amaliah yang secara langsung dipengaruhi oleh kata-kata dan perilaku baik. Semakin banyak ibadah, perkataan, dan perbuatan baik, maka semakin terang pula cahaya amaliah. Selain itu, di sana juga tersimpan berbagai pengetahuan duniawi yang didapatkan melalui pembelajaran dan pengajaran guna mencari penghidupan serta mengurus hal-hal di dunia.

Baca juga :  3 Amalan yang Dapat Mencegah Hati yang Keras dan Membatu
2. Hati (Qalb) Sebagai Tempat Cahaya Iman

Hati berisikan prinsip-prinsip pengetahuan yang mendasar. Ia bagaikan mata air yang mengisi kolam pengetahuan di dalam dada (shadr). Hati adalah akar dan dada adalah cabang yang diberi makanan oleh hati. Pengetahuan batin dari hati maupun pengetahuan duniawi dari dada sama-sama penting dan tidak bisa dipisahkan. Demikian menurut Robert Frager dalam Psikologi Sufi Untuk Transformasi Hati, Jiwa, dan Ruh (2002: 64).

Jika pengetahuan duniawi mencakup informasi mengenai berbagai hal yang penting bagi keberlangsungan hidup. Oleh sebab itu  maka pengetahuan batiniah adalah pemahaman terhadap realitas yang menyertai tindakan seseorang. Tujuannya agar mampu memberi makna kehidupan. Pengetahuan ini berkaitan erat dengan praktik pengetahuan duniawi.

Hati juga berisikan cahaya iman, sebuah cahaya konstan yang terus menerus ada tiada henti layaknya sinar matahari. Perbuatan buruk manusia tidak mampu mempengaruhi cahaya ini, ia hanya menyelubungi layaknya tirai-tirai pertunjukan teater. Setiap manusia memiliki cahaya iman yang merupakan refleksi dari cahaya ilahi, hanya saja terkadang cahaya ini tertutupi oleh perbuatan dosa.

3. Hati-Lebih-Dalam (Fuad) Sebagai Tempat Penglihatan Batiniah

Hati-lebih-dalam adalah tempat penglihatan batiniah dan inti cahaya makrifat. Makrifat berarti “kearifan batiniah” atau “pengetahuan hakikat spiritual.” Hati dan hati-lebih-dalam sangat berkaitan erat dengan sulit untuk dibedakan. Keduanya saling melengkapi ibarat dua sisi koin. Jika hati mengetahui, maka hati-lebih-dalam melihat, sehingga yang gaib menjadi nyata dan keyakinan menguat.

Penglihatan hati-lebih-dalam adalah penglihatan sejati yang tak terselubung apapun, sehingga segala hal yang terlihat adalah nyata adanya dan apa adanya. Hati-lebih-dalam tidak akan pernah mendustakan apa yang telah dilihatnya. Kearifan sejati sesungguhnya datang dari perpaduan pengetahuan batiniah dari hati dan penglihatan batiniah dari hati-lebih-dalam.

Baca juga :  Sejarah Sufisme di Dunia Islam: Kemunculan Tarekat Sufi (1)
4. Lubuk Hati (Lubb) Sebagai Inti dari Hati Manusia

Dalam bahasa Arab lubb bermakna “inti” atau “esensi.” Lubuk hati adalah inti dari hati manusia yang luas dan cahayanya tidak terperikan. Ia bagaikan matahari yang tak bergeming, sementara segala sesuatu berputar mengelilinginya.

Lubuk hati adalah pondasi hati dan agama. Di dalamnya terdapat cahaya kesatuan dan cahaya keunikan yang menjadi dasar dari cahaya-cahaya lainnya.

Lubuk hati dialiri oleh air kemurahan Allah dan pondasi-pondasinya dipadati oleh cahaya-cahaya kepastian. Allah memupuk lubuk hati secara langsung tanpa perantara apapun–Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?–sehingga sama sekali tidak ada yang mampu mempengaruhinya termasuk hawa nafsu.

Mereka yang telah berpaling dari berbagai sifat dan tindakan buruk serta terbebas dari selubung-selubung hati akan mampu menerobos ke dalam lubuk hati. Hal ini karena tidak ada hijab atau penghalang dalam hati kecuali sifat dan tindakan buruk manusia. Mereka inilah yang Allah Swt sebut sebagai “orang yang dikehendaki mendapatkan kebenaran, hikmah, dan kearifan hakiki.” Wallahu a’lam.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *