5 Kritik Pendidikan Milenial Menurut Kitab Wazaif al Muta’allim

Kitab kuning pesantren

Kritik Pendidikan Milenial – Budaya pesantren memang secara realitasnya tidak dikenal oleh masyarakat non pesantren, termasuk pengkajian kitab. Pengkajian kitab pada umumnya hanya dapat diakses oleh kalangan sendiri. Hal ini sangat disayangkan, kerena banyak hal yang pada dasarnya perlu di ketahui oleh khalayak umum termasuk non pesantren.

Zainal Abidin Munawwir adalah pengarang kitab Wazaif al Muta’allim. Beliau adalah seorang Kiai di Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta. Kiai Zainal adalah sosok Kiai ahli fiqh yang produktif dalam menulis, hal tersebut dibuktikan lahirnya sepuluh karya luar biasa, salah satunya ialah kitab wazaif yang disebutkan di atas.

Kitab Wazaif adalah kitab yang secara spesifik membahas mengenai etika murid dalam belajar. Kitab ini memang sejenis dengan kitab Ta’lim Muta’allim, tetapi terdapat beberapa perbedaan dalam aspek pembaruannya. Perbedaan yang lainnya ialah aspek pengambilan dalil-dalil sebagai penguat argumen beliau, sehingga pembaca mendapatkan informasi yang valid, berkualitas dan terpercaya.

Kiai Zainal dikenal sebagai sosok yang ahli fiqh, sehingga beliau memiliki tingkat kehati-hatian yang tinggi. Hal tersebut dibuktikan dengan berbagai referensi yang digunakan dalam penyusunan karya-karya beliau. Selain itu, ada kisah tentang Kiai Zainal yang berkembang di kalangan santri.

Kisah tentang seorang supir yang mengatarkan beliau pergi lalu melewati pom bensin hanya untuk numpang lewat, bukan membeli bensin. Sang supir merasa terlalu lama menunggu lampu merah akhirnya menerobos dengan cara masuk ke sebuah pom bensin. Alhasil, Kiai Zainal memintanya untuk kembali ke pom bensin tersebut dan membeli bensin di sana. Sebab, Kiai Zainal sangat berhati-hati dan takutkan jika hal tersebut termasuk kategori ghosob.

Kisah tersebut adalah salah satu gambaran mengenai bentuk kehati-hatian beliau terhadap sesuatu. Sehingga, tidak kaget lagi jika karya-karya beliau berisi dengan referensi yang kuat dan lengkap serta berisi berbagai hal yang mengandung anjuran untuk berhati-hati.

Baca juga :  Menilik Kembali Penormalan Sekolah di Era “New Normal”
Tentang Kitab Wazaif Al Muta’allim

Kitab wazaif disusun dengan latar belakang kegelisahan Kiai Zainal terhadap fenomena yang ada dalam dunia pendidikan. Kegelisahan tersebut penulis sebut sebagai kritik, sebab poin-poin tersebut adalah catatan yang perlu direnungi dan dipertimbangkan ulang. Usai menghadirkan kritik tersebut Kiai Zainal menyajikan sebongkah saran yang begitu gemilang bagi dunia pendidikan yaitu sebuah karya yang berjudul Wazaif Al Muta’allim.

Bagi penulis kritik tersebut cocok untuk dibaca oleh berbagai generasi, khususnya generasi milenial. Mengapa generasi milenial? sebab, mereka adalah generasi yang lahir di tengah kemajuan zaman yang tanpa terasa mengikis etika-etika yang ada. Sehingga, perlunya melanggengkan teknologi dan etika murid dalam belajar walaupun dalam dunia yang penuh dengan kemajuan seperti sekarang ini.

Berikut lima (5) kritik tentang pendidikan milenial dalam kitab Wazaif Al Muta’allim karya KH Zainal Abidin Munawwir:

Pertama, Qosru al-Ba’

Seseorang yang mencari ilmu dalam waktu singkat namun terburu-buru ingin dipanggil ustadz. Padahal secara kapasitas masih dalam taraf kulit belaka atau dasar. Fenomena demikian tentu sangat marak di era sekarang, banyak orang-orang yang belum memiliki kapasitas yang cukup untuk menjadi seoarang guru namun sudah berani menggurui orang lain. Hal tersebut bermunculan karena efek kemajuan teknologi yang menghadirkan kemudahan yang dianggap dapat diandalkan dan dapat digunakan secara instan.

Baca juga :  Belajar Ketulusan Cara Fizi Serial Upin & Ipin dalam Meminta Maaf
Kedua, Maddiy

Artinya, yakni materialis. Sesungguhnya menuntut ilmu hanya kerena ingin mendapatkan uang adalah hal yang tidak tepat. Sejatinya niat yang lurus adalah lilahi ta’ala yang selanjutnya akan melahirkan berbagai kemudahan serta keberkahan ilmu dalam bentuk nikmat dan rezeki yang berlimpah. Fenomena ini juga sangat banyak terlihat di era sekarang. Padahal jika sejak awal belajar hanya kerena ingin menghasilkan uang secara sedang menggaungkan hawa nafsu yang tidak ada ujungnya.

Ketiga, Muru’ah Mujab

Artinya, mencari ilmu hanya keran ingin mendapatkan ijazah dan gelar. Dua hal tersebut adalah sekedar legalitas belaka, ruhnya ilmu yang sesungguhnya adalah pemahaman dan mengamalkan ilmu tersebut. Hal ini tentu sangat penting diketahui oleh banyak generasi kita, agar mereka mengerti sisi mana yang penting dalam mencari ilmu.

Keempat, Abbiy

Artinya, memilih-milih tempat belajar atau guru yang terkenal saja, sehingga ia tidak mau belajar dan berguru pada yang tidak memiliki ketenaran. Fenomena ini juga sangat sering terjadi, pengaruh informasi yang begitu cepat menyebar akhirnya beberapa orang mengikuti ustadz yang sedang viral saja.

Padahal, secara kapasitas ustadz yang viral tersebut tidak mumpuni dalam bidang agama. Tetapi, karena terkenal beberapa orang senang mengikuti tren yang sedang berkembang. Dan hal tersebut menurut Kiai Zainal adalah hal yang perlu dikritisi, berguru dan mendapatkan ilmu tidak harus pada majelis atau guru yang terkenal saja, melainkan bisa pada siapa saja dan dimana saja.

Baca juga :  Gus Dur dan Kritik Nalar Generasi Milenial
Kelima, Mujawiz

Artinya, orang yang mencari ilmu hanya kerena ingin dekat dengan sang guru dan menyalahgunakan kedekatan tersebut. Seringkali fenomena ini terlihat di masa sekarang adalah soal relasi yang tidak sehat. Beberapa urusan yang belibet akan beres jika kita memiliki kenalan dengan orang dalam. Hal tersebut adalah sikap yang tidak tepat jika yang diposisikan dengan guru kita. Dan kita memiliki niat belajar karena ingin mencapai relasi yang memberikan kemudahan dalam urusan ribet tersebut.

Uraian diatas bagi penulis cukup jelas mengenai pentingnya menjaga etika bagi seorang murid. Hal demikian sudah seharusnya diketahui oleh setiap generasi, termasuk generasi milenial. Sebab, Kritik yang semacam ini selanjutnya mampu memberikan ruang refleksi pada kita semua sebagai murid yang hidup di tengah kemajuan teknologi yang memberikan kemudahan dalam mengakses berbagai kebutuhan.

Budaya instan, mengkuti tren, dan cepatnya penyebaran informasi yang menjadi teman baik dan akrab dengan kehidupan kita ternyata tidak seutuhnya baik dalam segala bidang. Kita harus cerdas dalam menempatkannya.

Demikian kritik tentang pendidikan milenial dalam kitab Wazaif Al Muta’allim karya KH Zainal Abidin Munawwir: Semoga kita semua selalu diberikan kemudahan dalam segala hal dan dapat memetik pelajaran dari berbagai hal. Sekian.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *