5 Obrolan Sufistik Ini Bisa Gugah Spiritualitas Kita

KH M. Luqman Hakim adalah seorang pengajar ilmu Tasawuf yang produktif berselancar di media sosial untuk berbagi hikmah dan cerita yang bernuasa sufistik. Melalui akun twitter @KHMLuqman, Kiai Luqman Hakim sering membagikan obrolan pendek yang bernuansa sufistik. Berikut ini 5 obrolan yang bisa gugah spiritualitas kita sebagai umat muslim:

5 Tahun Tidak Sholat

“Sholat, nggak merubah nasibku, Kang. Lima tahun saya tidak sholat, nasibku berubah bagus. Aku tambah kaya…” katanya pada santri dengan bangga.

“Berarti sudah lima tahun anda disiksa Allah…”

“Mana buktinya?”

“Selama lima tahun anda tidak mengenal-Nya. Itu buktinya.”

Orang itu menggigil.

Baca juga :  ‘New Normal’: Cara Sufi Menuju Tuhan
Menertawakan Diri Sendiri

“Hatiku kemrungsung (hati tidak tenang) akhir-akhir ini?” Ibu-ibu bertanya.

“Itu bukan hatimu.”

“Lalu?”

“Nafsumu.”

“Lalu gimana Kyai?”

“Hahaha…”

“Lhoh ini serius Kyai, kok diketawain…”

“Ya itu jawabannya. Kamu harus tertawain diri sendiri.”

Ibu itu tidak puas, pulang.

Sampai di rumah ia tertawa sendiri.

Baca juga :  Abu Yazid al-Bustami, Sufi yang Minta Diajari Sholat Malam
Cermin Kepala Binatang

Seorang penempuh Jalan Sufi menangis, namun ada bangga dalam dirinya.

“Kyai, saya lihat manusia kepalanya pada berubah jadi binatang.”

“Itu cermin nafsumu sendiri yang sedang dibersihkan,” jawab Kyai.

“Astaghfirullaah, aku pikir aku lebih baik dibanding mereka. Ternyata itu aku.”

Baca juga :  Ajaran Sufisme Jawa dalam Khazanah Mistik Islam Kejawen
Soal Ciptaan-Nya

“Alam ciptaan-Nya ini apakah batu loncatan atau semacam jembatan ‘tuk mengenal-Nya, Kyai?”

“Yo, ora.. (Ya, tidak..)”

“Lalu buat apa?”

“Alam ciptaan-Nya fana, kok jadi jembatan. Itu kan mustahil.”

“Bagimana mengenal-Nya?”

“Kenali Dia dengan Dia. Karena Dia Yang Ada. Baru kamu lihat-lihat Ciptaan-Nya.”

Baca juga :  Urgensi Urban Sufisme dalam Masyarakat Kota
Wali Majdzub dan Santri

Seorang wali minta secangkir kopi pada santri.

“Hahaha, ini bukan kopi tapi Asma’ Allah.”

Santri terkejut, gemetaran.

“Saya juga Asma Allah. Jadi si Asma’ mau meminum Asma’ hahaha…”

Santri semakin menggigil. Hampir terseret majdzub.

Lalu tiba-tiba

“Alhamdulillaaah…sudah jadi kopi. hehehe. Jadzab itu yang bagus sejenak saja. Habis itu sadar. Nah, yang sempurna itu sadar. Ada ruang dan waktu…”

Santri tadi lega.

“Boleh saya habiskan kopinya Kyai?”

“Boleh… Sak cangkir dan cawannya juga boleh. hahaha…”

(M. Zidni Nafi’)

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *