5 Tips dari Imam Ghazali agar Shalat Kita Khusyu’

shalat khusyuk

Shalat merupakan salah satu ibadah mahdah (murni) yang Allah perintahkan kepada setiap Muslim mukallaf. Ia merupakan wasilah seorang hamba berhubungan dengan Tuhan. Juga sebagai pencegah perkara keji dan mungkar.

Syekh Muhammad Bin Salim Ba Basil dalam “Is’adur Rofid” Juz 1: Hal: 86. menerangkan bahwa salah satu prasyarat diterimanya shalat adalah khusyu’. Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din mengutip hadis Nabi menyatakan:

Berapa banyak orang yang shalat namun hanya mendapat keletihan dan kepayahan dan tidak mendapatkan pahala.” (Ihya’ Ulum Al-Din. Hal: 163).

Tips Khusyu’ Ala Al-Ghazali

Maka di sinilah perlunya kita belajar metode Khusyu’. Khusyu’ termasuk syarat batin yang harus terpenuhi oleh Mushalli (Orang Shalat). Dalil tentang hal ini di antaranya adalah Al-Qur’an Surat Thaha ayat 14:

“واقم الصلاة لذكري ”

Ayat tersebut mengindikasikan bahwa lafadz amar (perintah) “اقم” menunjukkan wajib. Kata “dzikir-ingat” adalah lawan dari “ghaflah-lalai-lupa”. Oleh karena itu menurut Qasim al-Dismasqi “Seseorang yang lalai dalam shalatnya, bagaimana ia akan diterima di sisi-Nya?”

Al-Ghazali dalam Kitab Ihya’ ulum al-Din, Juz 1 Hal: 159, juga menukil Surat Al-A’raf Ayat 204:

Baca juga :  Menikmati Salat, Meraih Khusyuk

“ولا تكن من الغافلين”

Janganlah engkau termasuk orang yang lalai.

Teks  ayat tersebut  merupakan bentuk nahi (larangan). Setiap  lafadz nahi maka hukum asalnya menunjukkan  tahrim (haram). Al-Ghazali menafsiri lafadz “ghaflah-lalai” dengan tenggelamnya seseorang dengan pikiran-pikiran duniawi.

Al-Ghazali juga menyelipkan berbagai hadis nabi yang mencela orang yang tidak khusyu’ dalam shalat, di antaranya :

من لم تنهه صلاته عن الفخشاء والمنكر لم يزدد من الله الا بعدا  

Barang siapa yang shalatnya tidak mampu mencegah dari perkara keji dan munkar maka ia akan bertambah jauh dari Allah.”

Menurut Al-Ghazali, shalatnya orang yang lalai  tidak akan mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Oleh karena itu al-Ghazali memberikan sebuah tips agar shalatnya Khusyu’ antara lain:

Khudur Al-Qalbi

Khudur al-Qalbi (hadirnya hati) dalam shalat merupakan  tindakan  mendasar yang harus diusahakan dengan betul-betul oleh Mushalli. Maka cara yang pertama ini mushalli harus menyertai amal dengan ilmu. Karena amal tanpa ilmu bagaikan pohon tak berbuah. (Ihya’ Ulum Al-din, Juz I, hal: 164)

Cara menghadirkan hati yang Al-Ghazali tawarkan adalah dengan cara menolak semua lintasan-lintasan pikiran liar.  Maka al-Ghazali menganjurkan agar sebelum masuk waktu shalat mushalli harus bersiap diri dengan mengosongkan lintasan pikiran dari segala pernak-pernik duniawi.

Baca juga :  Rabithah, Instrumen Khusyuk dalam Shalat

Sehingga pikirannya hanya tertuju pada Dzat Yang Esa. Bahkan 1 jam sebelum shalat dianjurkan untuk mengingat akhirat dan berdzikir kepada Allah.

Tafahum, Memahami Makna Bacaan dalam Shalat

Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Juz 1 Hal: 162, menyatakan bahwa pemahaman terhadap beberapa bacaan dalam shalat itu muncul setelah hadirnya hati.  Maka tidak ayal jika Al-Ghazali mengurut tafahhum pada peringkat yang kedua, karena konektivitas tafahhum dan khudur  secara otomatis.

Namun menurut Al-Ghazali “tidak semua manusia memahami makna al-Qur’an, tasbih, dan bacaan lain di dalam shalat.”

Ketika mushalli mampu menerapkan tafahum di dalam bacaan shalat, maka ia akan mampu memahami segala tindakan nyata di luar shalat. Sehingga amaliyah  shalatnya mampu mewarnai kehidupan dan mencegah perkara keji dan mungkar. Maka di sinilah shalat yang ia kerjakan akan bernilai mahal di sisi-Nya.

Ta’dzim, Pengagungan

Ta’dzim (pengagungan) merupakan runutan setelah khudur dan tafahhum. Ketika seseorang mampu menghadirkan  hatinya bersama Allah serta  memahami seluruh makna bacaannya, namun ia masih mengabaikan  pengagungan kepada-Nya, maka di situlah masih terdapat kekurangan karena masih meninggalkan satu tips yaitu ta’dzim.

Haibah

Ini merupakan langkah keempat yang perlu diaplikasikan dalam mencapai derajat Khusyu’ dalam shalat. Haibah  adalah penunjang  atas pengagungan, bahkan dalam  definisi  yang lain dikatakan bahwa haibah adalah perasaan takut yang bersumber dari rasa hormat.  (al-Ghazali, Ihya’ Ulum Al-Din, Juz 1. Hal: 162).

Baca juga :  Menikmati Salat, Meraih Khusyuk
Rajadan Haya’

Raja’ adalah pengharapan kepada Allah sedangkan haya’ adalah rasa malu. Penyebab timbulnya raja’ adalah kelembutan Allah, kedermawanan-Nya, keluasan nikmat-Nya, keindahan ciptaan-Nya, dan pengetahuan akan kebenaran janji-Nya.

Sedang haya’ muncul melalui perasaan yang serba kurang sempurna dalam beribadah dan pengetahuannya akan ketidakmampuan menunaikan hak-hak Allah.

Lima tips yang digagas al-Ghazali merupakan hadiah bagi Muslimin untuk menggapai rahmat Allah yang sangat luas. Kelima tips tersebut sangat baik kita aplikasikan, sebagai satu upaya agar shalat kita khusyu’. Wallahu a’lam bis shawab.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.