7 Hal yang Dilakukan Gus Dur Saat Menulis Esai

Gus Dur Muda Menulis

Jauh-jauh hari Abdurrahman Wahid atau Gus Dur telah mewanti-wanti dan memberi contoh agar masyarakat Indonesia banyak membaca dan menulis. Apalagi di tengah realitas masyarakat yang terbentur dengan kemajuan teknologi informasi yang cepat menguap.  Hal itu, menjadi rekonstruksi cara berpikir yang ilmiah sehingga tidak mudah termakan berita hoaks.

Selama hidupnya, Gus Dur sendiri sangat aktif menulis esai. Bahkan, kumpulan esainya yang pernah dimuat di Koran Tempo, dibukukan dan diberi judul ‘Tuhan Tidak Perlu Dibela’, dan masih banyak lagi.

Pernah suatu ketika, kala itu Goenawan Muhammad sedang menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, tiba-tiba Gus Dur datang ke kantor Tempo dan meminjam mesin ketik. Setelah dua jam, Gus Dur menyerahkan naskah esainya kepada Goenawan Muhammad. Dan ia pun pulang sambil mengantongi uang dari redaktur itu.

Memang harus diamini, meskipun beliau pernah menjabat sebagai Presiden dan Ketua Umum Pengurus Besar Nadlatul Ulama, sebagian besar penghasilan Gus Dur tetap berasal dari dunia tulis menulis.

Kunci Gus Dur dalam Menulis Esai

Jika menilik lebih dalam tulisan-tulisan Gus Dur, bisa didapati berbagai rubrik seperti filsafat, budaya, agama, politik, atau sejarah yang dibahas dengan gaya anekdot yang ringan dan jenaka.

Produktivitas tulisan Gus Dur bukan kebetulan atau tanpa sengaja, namun ada kunci di balik karya-karyanya. Paling tidak ada 7 (tujuh) hal penting yang dilakukan Gus Dur saat menulis esai, sebagaimana dikutip dari buku “Sang Kosmopilit” karya Hairus Salim.

Pertama, investasi bacaan yang tinggi. Gus Dur sejak kecil memang suka membaca. Entah novel, buku filsafat, sejarah, atau pun buku sastra, ia lahap semuanya. Dari berbagai macam bacaan dan analisis yang tajam, membuatnya cepat dalam menulis artikel yang berbobot dan ringan dibaca.

Kedua, Gus Dur tidak hanya membaca buku berbahasa Indonesia, tapi juga bahasa asing seperti Arab dan Inggris. Ketika intelektual Indonesia belum mendengar nama-nama penulis asing, Gus Dur telah lebih dulu membaca karya mereka.

Bahkan, bisa dikatakan beliaulah  yang mempopulerkan. Seperti, Hasan Hanafi, cendekiawan Mesir, dan Chaim Potok, pengarang novel ‘My Name is Ascher Lev’, pertama kali disebut dan dikenalkan ke publik oleh Gus Dur.

Dalam artikel-artikel yang Gus Dur buat, sering kali ditemui istilah dan referensi bahasa asing. Cukuplah menunjukkan bahwa beliau akses bacaan asingnya cepat dan luas.

Ketiga, dalam mendeskripsikan sesuatu dalam setiap tulisannya, begitu jeli dan diksinya enak dibaca. Seperti ketika beliau menggambarkan Kiai Masyhuri Said yang ahli berdagang. Dalam judul esainya, beliau tulis “Kiai Dolar Berdakwah”, berikut cuplikannya:

“Gerak-geriknya memang mirip wanita. Serba luwes, termasuk caranya berbicara dan tertawa seakan-akan manja. Belum lagi kegemarannya memukulkan tangan pada lengan orang lain yang diajaknya berbicara untuk menekankan ungkapan yang sangat luwes, “Ah, masa begitu, Mas!”

“Gaya kewanitaan itu lebih-lebih terlihat dalam ketelitiannya memilih barang dan kepandaiannya untuk tawar-menawar dalam hal apa pun, dengan menunjukkan hal-al kecil sebagai points untuk tawarannya sendiri.”

Keempat, Gus Dur adalah pengamat dan kritikus sosial-budaya yang tajam. Misalnya, dalam masalah praktik ibadah umat Muslim tentang penggunaan mikrofon yang bising, dalam tulisannya beliau memberi judul “Islam Kaset dan Kebisingannya”. Atau tentang isu-isu jihad yang mengatasnamakan Islam, beliau membuat tulisan dengan judul “Tuhan Tak Perlu Dibela”.

Kelima, Gus Dur berani menyumbangkan gagasan-gagasan baru yang berbeda dalam tulisannya, walaupun hal itu mengandung risiko yang besar. Seperti mengkritik umat Islam yang terlalu mementingkan formalitas, beliau membuat tulisan berjudul “Pribumisasi Islam”. Atau ketika mengkritik penguasa (Rezim Suharto) yang zhalim terhadap demokrasi, beliau membuat tulisan dengan judul “Demokrasi Bukan-Bukan”.

Keenam,  kemampuan tajam Gus Dur dalam merefleksikan suatu masalah. Bisa dilihat dalam berbagai tulisan-tulisannya yang dimuat di Jurnal Prisma dan makalah-makalah konferensi yang ia buat. Refleksi ini ditandai dengan berbagai rumusan masalah yang berbobot yang ditujukan terhadap suatu isu.

Bagi Gus Dur sendiri, kapasitas seorang intelektual bukan diukur dari seberapa tepat jawaban yang diberikan, melainkan dari rumusan masalah yang diajukan masyarakat dan bangsanya.

Ketujuh, dalam setiap tulisannya, Gus Dur sering menyelipkan humor-humor yang berbau satire. Selain bernada tawa, tulisan humor yang ia buat mengandung makna-makna yang secara tak langsung menjadi kritik yang tajam. Hal inilah yang menjadi haluan pola pikir yang Gus Dur kembangkan dalam menulis.

Mungkin, dulu Pemerintahan Order Baru era Soeharto tidak menangkap dan memenjarakan Gus Dur karena kritikannya yang bersifat tak langsung, yaitu kritik yang bernada satire dan humor. Dan inilah kelebihan yang beliau miliki.

Di akhir usianya, penglihatan Gus Dur sudah sepenuhnya tertutup. Tapi, masihlah beliau rajin menulis. Beliau menulis dengan cara mendikte. Bagaimanapun juga, menulis dan membaca telah melekat dengannya.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *