Adab Menurut Ibnu Hajar al-‘Asqalani

Ibnu Hajar

Ibnu Hajar al-Asqalani adalah penyusun kitab “Bulugh al-Maram” yang dikaji hampir di semua pesantren di Indonesia. Kitab Bulugh al-Maram merupakan kumpulan hadis yang dipilih melalui standar kesahihan dengan  memungut hadis-hadis terbaik yang tentunya bersanad shahih.

Kitab itu diambil dari tujuh sumber hadis terkenal, yaitu Shahih al-Bukhori, Shahih Muslim, Sunan an-Nasa’i, Sunan Ibn Majah, Sunan Abu Daud, Sunan Turmidzi, dan terakhir Sunan Ahmad.

Tulisan ini hendak merangkai serpihan konsep adab yang dirumuskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani, khususnya dalam Kitab Bulugh al-Maram. Namun sebelum lebih jauh, alangkah lebih baiknya kita mengenal lebih dekat siapa Ibnu Hajar ini.

Profil Ibnu Hajar

Ibnu Hajar lahir di Mesir, 22 Sya’ban 773 H/18 Februari 1372 M. Dengan nama lengkap Syihabuddin Abu al-Fadhl Ahmad Ibn Ali Ibn Muhammad Ibn Muhammad Ibn Ali Ibn Mahmud Ibn Hajar, Al-Kinani, al-‘Asqalay, Al-Syafi’i, al-Mishri. Kemudian dikenal dengan nama Ibnu Hajar.

Ibnu Hajar memperoleh pendidikan pertamanya dari sang ayah, yakni Nuruddin Ali (wafat 777 H/ 1375 M) seorang ulama tersohor yang dikenal sebagai mufti sekaligus dikenal sebagai penulis sajak-sajak keagamaan. Menurut beberapa catatan, ketika usia Ibnu Hajar menginjak 5 tahun, ia sudah masuk ke sekolah agama.

Baca juga :  Zaman Disrupsi: Peradaban Bangsa yang Mulai Tergerus

Di usianya ke-9 beliau telah hafal Al-Qur’an. Sedangkan ketika usia 11 tahun telah belajar hadis kepada Syaikh Afiduddin al-Naisabury di Makah dan belajar hadis Bukhari kepada Syaikh al-Makky.

Gelar yang diraihnya pun beragam, ada yang menganugerahinya al-‘Allamah. Kata “al-‘Allamah” merupakan Sighah al-Bulaghah (secara sederhana dapat dipahami sebagai sifat yang mengandung arti banyak atau sangat) dari kata “al-’alim”.

Jika kata ‘alim memiliki arti orang yang mengetahui atau orang berilmu, maka kata ’allamah diartikan sebagai orang yang sangat memiliki ilmu. Sementara gelar kehormatan lain yang direngkuhnya adalah “al-hafizh”.

Sedangkan al-Asqalani adalah nama kota yang masuk dalam wilayah Palestina dekat Ghuzzah yang dinisbatkan kepada Ibnu Hajar. Sebagaimana kebanyakan tokoh pemikir Muslim lain yang banyak menisbatkan nama tempat yang dilekatkan dengan namanya. Seperti halnya al-Kindi, al-Razi, al-Makki dan lain sebagainnya.

Adab dalam Kitab Bulughul Maram

Kitab tersebut memuat bab yang secara khusus membahas bab Adab yang mengandung 16 (enam belas) Hadis Nabi Sallahu ‘alaihi wassalama. Dari hadits nomor 1467 sampai 1482.

Secara garis besar apabila kita mau menarik gagasan etis atau adab dari Ibnu Hajar ini, akan ditemukan pembagiannya seperti ini yang sangat ditekankan Ibnu Hajar.

Baca juga :  10 Adab dan Tugas yang Harus Dimiliki oleh Pencari Ilmu
Adab terhadap Allah

Pertama, adab terhadap Allah. Jika dilihat dari hadis-hadis yang termuat di dalamnya, segala tindak-tanduk kehidupan manusia tidak bisa lepas dari ketentuan Allah SWT. Hal ini pun tampak jelas bagaimana seseorang hendaknya bersyukur atas segala karunia nikmat yang diberikan-Nya.

Penganjuran saling mengucap salam yang secara tidak langsung menyerahkan segala kesalamatan hidupnya pada Allah semata, menunaikan segala bentuk tindakan semata-mata lillahi ta’ala, dan kesemuaanya tidak lepas dari-Nya termasuk merasakan kehadiran Allah dalam hatinya.

Adab terhadap Diri Sendiri

Kedua, adab terhadap diri sendiri. Hal ini tampak bagaimana Ibnu Hajar memungut hadis-hadis yang terkait erat dengan diri sendiri. Bagaimana adab kita yang seharusnya saat makan, mulai dari menggunakan tangan kanan, tidak berlebihan, jangan sambil berdiri termasuk juga minum.

Dan terpenting adalah mensyukuri segala nikmat dan rezeki yang dilimpahkan Allah SWT dengan tidak menyia-siakan nikmat yang telah diturunkan. Lagi-lagi kesemuanya mengharap keberkahan yang melibatkan Allah sebagai Sang Pencipta.

Adab terhadap Sesama

Ketiga, adab terhadap sesama. Paling tidak akan ditarik menjadi beberapa poin, a) menebar keselamatan dan kasih sayang serta kedamaian; b) kepedulian sosial dan saling mengajak dalam kebaikan; c) menghindari sifat sombong. Baik itu dalam sikap maupun sifat yang berkaitan erat dengan interaksi sosial; d) toleransi, semangat saling menghormati dan menghargai. Jangankan menyakiti berbisik saja ketika ada orang lain saja tidak dibolehkan; e) menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda.

Baca juga :  Download Kitab Al Hikam Terjemahan Bahasa Indonesia PDF

Dari ketiganya dapat ditarik simpulan bahwa simpul-simpul etis yang dirumuskan Ibn Hajar al-Asqalani telah mengonsepsikan adab yang mencakup hubungan yang terbilang komplit. Yang telah meliputi hubungan manusia dengan Allah (Hablun min Allah), manusia terhadap dirinya sendiri, dan hubungan dengan sesama (hablun min al-nas). Wallahu A’lam bi al-Shawab.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *