Adab Santri: Bersanad “Kainun” dan “Mustaqirrun”

Adab Santri Bersanad Kainun dan Mustaqirrun

Ketika santri belajar nahwu pada pokok bahasan mubtada’-khabar, terutama tentang khabar “syibhu jumlah” pasti akan menemukan kata kunci كاءن (kainun) dan مستقر (mustaqirrun).

Khabar syibhu jumlah ialah predikat berupa susunan kata tapi bukan kata majemuk yang dalam bahasa Arab identik dengan susunan kata berbentuk jar-majrur dan dzaraf-madzruf. Contohnya:  زيد في الدار (Zaid ada di dalam rumah) dan زيد عندك (Zaid tetap di sampingmu). Kata fid-dari dan indaka merupakan khabar (predikat) dari mubtada’ (subyek) berupa kata Zaid.

Dalam susunan gramatika bahasa Arab, selagi khabar bukan berbentuk kalimat majemuk maka ketentuan dasarnya harus di-i’rab rafa’ mengikuti i’rabnya mubtada’. Hal ini karena predikat tak bisa berdiri sendiri kecuali dengan bantuan subyek. Makanya predikat harus selalu mengikuti dan menyesuaikan diri dengan subyek.

Etika Bersanad

Sama halnya santri harus selalu mengikuti dan menyesuaikan diri di hadapan kiai. Begitupun muqallid (pengikut mazhab) harus ikut pandangan mujtahid (peletak dasar mazhab), selagi mereka belum bisa berpendapat dan bersikap mandiri. Inilah etika (adab) bersanad yang seharusnya dijunjung tinggi.

Namun apabila santri dan muqallid sudah berkiprah di lingkungan tersendiri maka ada kemungkinan mereka dituntut beradaptasi dengan lingkungan barunya. Kemungkinan tak sama dan berbeda dengan suasana tatkala mereka masih dalam lingkaran kiai dan mujtahid panutan mereka.

Baca juga :  Adab Menurut Ibnu Hajar al-‘Asqalani

Demikian gambaran khabar syibhu jumlah dalam kehidupan nyata. Santri punya pandangan agak beda dengan kiainya. Muqallid yang sudah menjadi muttabi’ terkadang memiliki pandangan hukum dengan pendiri mazhabnya. Semua pada dasarnya lumrah terjadi di dalam kehidupan ini.

Hanya saja bukan berarti santri maupun muqallid itu memisahkan diri dan memproklamirkan diri apalagi menghujat kiai dan mujtahid yang telah lama diakui. Kalau demikian berarti mereka telah memutuskan mata rantai keilmuan dan keulamaan.

Sepandai apa pun santri dan muqallid harus tetap menyandarkan diri kepada tokoh panutannya. Dari luar mungkin kelihatan berbeda, akan tetapi dari sisi dalamnya harus selalu mengikat dan menyatu.

Hal ini seperti yang dilakukan para ahli nahwu tatkala membaca teks berbentuk mubtada’-khabar syibh jumlah (jar-majrur dan dzaraf madzruf). Dalam kaitan ini mereka pasti akan memberi catatan di bawah bahwa khabar syibh jumlah itu hakikatnya terdapat pada kata “kainun” dan “mustaqirrun”. Bukan pada khabar jar majrur maupun dzraf-madzruf.

Jadi, kalau ada santri melalaikan hubungan dengan kiainya berarti sama dengan khabar syibh jumlah yang melalaikan jejak sanad keilmuan dan keulamaannya. Sampai kapan pun jejak sanad keilmuan dan keulamaan santri dengan kiainya tak akan bisa terhapus. Seperti kuatnya muatan kata “kainun” (ada) dan “mustaqirrun” (tetap ada).

Baca juga :  Tentang Hidup dan Setelahnya
be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.