Agama dan Sains, Perlukah Dipertentangkan?

Buku Ulil Asbhar Abdalla

Resensi-Review Buku Sains Religius Agama Saintifik – Pada tahun 2020, masyarakat dunia menghadapi sebuah wabah infeksi penyakit mematikan yang bernama virus corona (Covid-19). Wabah (pandemi) ini mengubah berbagai tatanan kehidupan manusia, salah satunya adalah memaksa umat beragama untuk melakukan pola keberagamaan yang baru.

Masyarakat, khususnya para agamawan seolah-olah dituntut untuk ‘menurut’ pada sains (kedokteran) sebagai otoritas dalam menangani wabah Covid-19. Namun, tidak semua kelompok agamawan beserta umatnya menerima dan peduli akan hal itu. Apalagi yang menasihati adalah ilmu kedokteran dalam hal protokol pencegahan dan penularan. Sebagian kaum agamawan lebih memilih untuk pasrah kepada Tuhan.

Bentuk ketidakpedulian tersebut antara lain yakni mereka tetap memilih berkerumunan (berjamaah) dalam menjalankan ritual keagamaan. Kelompok ini beralasan, jika Tuhan tidak mau mereka tertular, tentunya mereka akan baik-baik saja. Sebaliknya, jika Tuhan menghendaki mereka tertular, pasti mereka akan tertular.

Agama dan Sains yang ‘Tak Harmonis’

Jauh sebelum pandemi corona, seorang filosof, Astoronom, fisikawan Italia Galileo Galilei pernah dihukum oleh pihak Gereja sebab pembelaannya terhadap sains. Galileo berpendapat bahwa bumi dan planet-planet yang lainlah yang bergerak mengelilingi matahari.

Hanya saja, para teolog Kristen menentang pendapat Galileo. Mereka menganggap filosof ini berusaha meruntuhkan pandangan mereka yang telah mapan saat itu, yaitu bumi sebagai pusat alam semesta.

Fenomena di atas bisa menjadi contoh bagaimana hubungan agama dan sains terkadang tidak ‘akur’. Dengan kata lain, seakan-akan relasi antara agama dan sains tidak pernah berjalan dengan harmonis.

Buku berjudul Sains “Religius”, Agama “Saintifik”: Dua Jalan Mencari Kebenaran nampaknya tepat untuk membaca perdebatan kedua kutub tersebut. Sebagai penulis, Haidar Bagir dan Ulil Abshar Abdalla menjawab kesan hubungan antara agama dan sains yang dianggap tidak harmonis tersebut, khususnya dalam agama Islam.

Akar Konflik antara Agama dan Sains

Buku tersebut memuat pandangan menarik dari Ian Graemer Barbour seorang ilmuwan asal Amerika yang menekuni teologi dan sains. Ia membagi empat macam tipologi hubungan antara agama dan sains, yaitu konflik, independensi, dialog, dan integrasi.

Dari keempat macam hubungan ini, Barbour menyimpulkan, pertentangan hubungan antara agama dan sains masih dapat bertemu dalam satu titik. Titik hubungan tersebut bersifat integrasi dan dialog.

Pandangan ini menurut saya lebih dapat diterima, sebab keduanya dapat saling menguatkan dan berjalan beriringan. Misalnya dalam hal untuk memahami dan menanamkan keyakinan yang kuat atas eksistensi Tuhan. Maka, seseorang membutuhkan nalar kritis terhadap wujud atau desain dalam alam ini.

Dalam Islam sendiri, menurut Ulil Abshar tidak ada masalah pertentangan antara agama dan sains. Saya sendiri sepakat dengan pendapatnya soal ini, karena faktanya Islam sejak awal masa kenabian tidak pernah alergi sains.

Pada masa Nabi Saw. pun sains kedokteran telah berkembang. Dalam riwayat hadits, Nabi menyuruh orang-orang yang sakit agar pergi mencari pengobatan.

Ulama Muslim yang Saintis

Banyak nama ulama Muslim seperti Abu Bakar al-Razi, Ibnu Haitsam, al-Farabi, dan Ibnu Khaldun, tidak pernah mempertentangkan agama maupun sains. Bahkan, tidak sedikit mereka merupakan seorang saintis dalam berbagai bidang keilmuan.

Al-Ghazali memberikan pujian terhadap kedokteran, matematika, ilmu, dan teknologi pertanian, industri (tenun), juga ilmu politik. Tidak hanya al-Ghazali, Imam Syafi’i menganggap ilmu kedokteran sebagai ilmu yang paling utama setelah ilmu fiqih (ilmu tentang yang halal dan haram).

Bahkan, sekelas Sayyid Qutub yang dikenal dengan tokoh radikal Ikhwanul Muslimin pun menunjukkan kepercayaan yang kuat pada apa yang disebut dengan hukum alam dan metode saintifik (hal. 76).

 

buku sains dan agama

Dalam buku ini, Ulil Abshar menegaskan, hubungan agama dengan sains yang berkonflik merupakan khas Barat. Orang-orang Barat, tepatnya Eropa Barat, memiliki sejarah yang spesifik sehingga mereka punya trauma kepada Tuhan, kepada agama.

Salah satu penyebabnya adalah dulu ketika gereja itu berkongsi dengan raja-raja, dengan negara, politik. Mereka mempraktikkan agama yang bengis sekali terhadap sains. Akhirnya, para saintis dendam kepada geraja.

Masih menurut Ulil, kita sebagai umat Islam sebetulnya tidak ada masalah, karena kita tidak mewarisi trauma keagamaan semacam itu. Orang-orang Baratlah yang mewarisi trauma keagamaan semacam ini.

Problemnya, kata Ulil, karena Barat sekarang ini dominan di segala bidang, dan peradaban ilmu, khususnya sains, maka pandangan Barat yang melihat agama dengan sains ini konflik itu bisa memengaruhi banyak orang, termasuk dilingkungan kita (hal. 139).

Akar Konflik Agama dan Sains

Senada dengan Ulil, dalam karya ini Haidar Bagir berpendapat, terdapat dua akar yang menyebabkan konflik antara agama dan sains. Pertama, kurangnya kemampuan bersikap kritis. Kedua, situasi psikologis akibat kemuduran politik umat Islam yang melahirkan mental underdog pasca perang Salib.

Barat dengan hegemoni politiknya mempunyai sejarah panjang menjajah negeri-negeri Muslim selama berabad-abad. Hal itu pada gilirannya melahirkan pengerasan politik identitas di sebagain Muslim (hal. 78).

Selain itu, tandas Haidar Bagir, karena sains saat ini dikuasi oleh Barat yang notabenya mereka non-Muslim, maka mereka (Muslim) berpikir bahwa ini (sains) harus di tolak.

Buku karya dua tokoh fenomenal, Haidar Bagir dan Ulil Abshar Abdalla, ini sangat layak bagi siapa pun untuk membacanya. Gagasan dan wacana kritis keduanya dapat kita temui dalam buku menarik ini. Tentunya dapat menjadi suplemen vitamin bagi benak dan batin kita.

Kedua penulis menyajikan dengan gaya yang santai, ringan, dan yang pasti tanpa kehilangan argumen-argumen pentingnya. Alhasil, isu-isu sains maupun agama yang selama ini orang pandang berat, kita dapat menikmati dan memahaminya dengan mudah.

 

Judul Buku: Sains Religius Agama Saintifik: Dua Jalan Mencari Kebenaran

Penulis: Haidar Bagir dan Ulil Abshar Abdalla

Penerbit: Mizan

Penyunting: Ahmad Baiquni dan Azam Bahtiar

Cetakan 1: Agustus 2020

Tebal: 169 halaman

ISBN: 978-602-441-178-7

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *