Kita Tercipta untuk Membaca

Agustus: Gus Mus dan Indonesia

Judul           : Pahlawan dan Tikus

Penulis        : A Mustofa Bisri

Penerbit      : Diva Press, Jogjakarta

Cetak           : 2019

Tebal           : 120 halaman

ISBN           : 978 602 391 728 0

Sebulan, sebelum si pujangga berusia 75 tahun, buku berjudul Pahlawan dan Tikus. Buku terbit di Jogjakarta tapi berita-berita penangkapan para “tikus” terus bertambah. Di Jakarta, KPK memberi daftar panjang kasus-kasus korupsi di hari-hari menjelang pemuliaan Indonesia, 17 Agustus 2019. Buku penting di kerja kesusastraan A Mustofa Bisri (Gus Mus). Puisi-puisi digubah masa 1990-an, mengingatkan situasi di masa Orde Baru. Pada 2019, kita membaca sambil mesem mengandung marah dan benci melihat ulah kaum koruptor atau kaum politik terlalu cerewet memamerkan kebebalan.

Kita membaca buku sambil memberi pertimbangan makna peringatan usia Gus Mus sudah mencapai 75 tahun. Hari itu seperti mendapat pendamping religius-politis. Pada saat berulang tahun, umat Islam memperingati Idul Adha, 11 Agustus 2019. Peristiwa bersejarah dan religius. Di Indonesia, Idul Adha mengingatkan sapi dan kambing. Ingatan tak lagi terlalu jauh. Orang-orang telanjur capek mengurusi politik atau hajatan demokrasi disambung rebutan jatah menteri. Rebutan itu “memalukan” saat kaum miskin sudah tak perlu lagi “rebutan” daging kurban. Perkara pembagian daging kurban mengalami pembenahan, tak ingin lagi mengulang petaka-petaka di masa lalu.

Gus Mus memberi gubahan puisi berjudul “Kurban”. Kita membaca lacak sejarah dan pemaknaan: di sana/ barangkali ibrahim, hajar, dan ismail pun mengawasi/ lautan kafan kepasrahan berputar-putar/ mengitari titik bumi/ allahu akbar!/ meluap-luap di pelataran suci/ mencoba menyapu sampah dalam diri selama ini/ allahu akbar. Ibadah haji dilangsungkan dalam suasana meredakan situasi demokrasi. Kita di jeda demi memikirkan-menjalankan ibadah untuk memenuhi amalan-amalan kemanusiaan dan kebangsaan. Puisi bakal terbaca setiap tahun, mengartikan Idul Adha dan ibadah haji. Puisi mungkin bisa dicantumkan di buku pedoman haji atau dibacakan bagi jemaah sebelum berangkat ke Tanah Suci.

Baca juga :  Tuhan dan Kebebalan Berdemokrasi

Orang-orang belum “menghabiskan” daging sapi dan kambing di rumah, peristiwa akbar diselenggarakan di Kelenteng Sam Poo Kong, Semarang, Jawa Tengah, 14 Agustus 2019. Peristiwa menjauhi sibuk politik seperti di Jakarta. Tokoh terpenting di peristiwa akbar adalah Gus Mus. Peringatan usia mencapai 75 tahun. Para tokoh hadir bergabung bersama ribuan santri. Para seniman memberi hadiah-hadiah berupa omongan, lukisan, tepuk tangan, puisi, dan lain-lain. Di panggung, Inayah Wahid menghadiahi humor memanen tawa. Ia pun memberi puisi. Hadiah sesuai kebiasaan Gus Mus menggubah puisi. Kita belum sanggup hadir di acara, mencukupkan penghormatan dengan membaca buku berjudul Pahlawan dan Tikus.

Peristiwa itu hangat, luwes, dan seru ketimbang penantian orang-orang untuk peristiwa formal-serius berupa pidato kenegaraan di gedung parlemen (16 Agustus 2019) dan upacara bendera di istana. Sebelum serius dan khidmat, orang-orang diajak di acara penghiburan tanpa pidato kenegaraan dari Gus Mus. Pidato formal memang tak ada. Gus Mus bukan presiden tapi sahabat Gus Dur tercatat sebagai presiden. Gus Mus tak memiliki hasrat jadi pejabat. Ia memilih menghuni pondok pensantren, bukan ruang-ruang kekuasaan atau ruang-ruang berlimpahan duit. Ia memilih menulis, melukis, mengaji, dan lain-lain. Pilihan tak harus menjadi berita harian seperti kerepotan para tokoh menginginkan jadi menteri atau mengincar jadi ketua di MPR.

Gus Mus sudah tua tapi belum capek memikirkan Indonesia agar mulia. Usia mengingatkan kalender. Kita membaca puisi berjudul “Lembar-Lembar Kalender Tua”, ikhtiar Gus Mus mengartikan usia dengan amalan, menghindari buruk dan sesalan. Gus Mus menulis: Lembar-lembar kalender tua/ Yang sekalipun dengan hati-hati/ Kurobek/ Tercampak juga/ Menyampah/ Menyumpal tong usia/ Kalaupun menyisakan/ Ruang/ Barangkali tinggal serongga/ Duri/ Penyesalan belaka. Usia bergerak di detik-detik terasa cepat berputar. Hari-hari tak bisa dilambatkan atau dihentikan di tumpukan angan atau kemalasan. Usia bertambah dan manusia semakin sampai ke perhitungan segala perbuatan dan “penghasilan” makna. Gus Mus tak mau sia-sia atau menimbun sesalan.

Baca juga :  Puisikah Alquran?

Setelah peristiwa di Semarang, kita sampai ke peringatan Hari Kemerdekaan, 17 Agustus 2019. Indonesia sudah merdeka 74 tahun. Gus Mus berusia 75 tahun. Gus Mus lahir dan pemberi makna Indonesia seperti beriringan dalam mengartikan Agustus(an). Kita mulai memiliki dua ingatan: 10 Agustus 1944 (Gus Mus) dan 17 Agustus 1945 (Indonesia). Pada saat Soekarno-Hatta di peristiwa pembacaan teks proklamasi, Gus Mus masih di gendongan ibu. Pada 1945, orang-orang semakin membuat puncak pengertian “ibu pertiwi”, Gus Mus memandangi takjub sang ibu sambil menikmati belaian dan curahan kasih. Gus Mus diasuh ibu, di pangkuan “ibu pertiwi”.

Selisih usia setahun mengesahkan keinginan Gus Mus memuliakan Indonesia melalui puisi berjudul “Putra-Putra Ibu Pertiwi”. Puisi tak ingin bersaing dengan lantunan “Ibu Pertiwi” di film berjudul Bumi Manusia, mulai diputar di gedung bioskop pada 15 Agustus 2019. Kita belum sempat atau berminat menonton mendingan simak puisi Gus Mus: Bagai wanita yang tak ber-ka-be saja/ Ibu pertiwi terus melahirkan putra-putranya/ Pahlawan-pahlawan bangsa/ Dan patriot-patriot negara// (Bunga-bunga/ kalian mengenalnya/ Atau hanya mencium semerbaknya)// Ada yang gugur gagah dalam gigih perlawanan/ Merebut dan mempertahankan kemerdekaan// (Beberapa kuntum/ dipetik bidadari sambil senyum/ Membawanya ke sorga tinggalkan harum)// Ada yang mujur menyaksikan hasil perjuangan/ Tapi malang tak tahan jadi bajingan// (Beberapa kelopak bunga/ ditenung angin kala/ Berubah jadi duri-duri mala). Puisi itu tak dipilih menghiasi omongan tokoh politik. Ia justru membuat pantun-politik berharap mendapat pujian telah berani memberi sindiran rebutan jatah kursi menteri. Ia mesti belajar ke puisi-puisi gubahan Gus Mus agar bermutu dalam memberi sambutan atau pidato di pelbagai acara.

Baca juga :  Si Pendongeng

Kita akhiri mengingat Gus Mus dan Indonesia di Agustus dengan puisi pendek menggemaskan berjudul “Soal”. Puisi sulit mendapat jawaban berlatar Indonesia mutakhir: Rakyat – (Penguasa + Pengusaha) : (Umara + Ulama) +/ (Legislatif – Eksekutif) + (Cendekiawan x PKI) = ? Ah, Gus Mus membikin kita pusing dua belas keliling. Puisi mirip soal ujian di “sekolah demokrasi” dengan murid-murid suka bengong dan mengantuk. Begitu.

 

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *