Ajaran Sufisme Jawa dalam Khazanah Mistik Islam Kejawen

Upaya untuk melacak hakikat dari ajaran sufisme Jawa memang bukan perkara yang mudah. Apalagi dalam sufisme Jawa begitu banyak unsur-unsur yang jalin-menjalin dan menyatu secara sinkretik, dengan kepekaan yang tinggi.

Perjalanan melacak kembali hakikat sufisme Jawa mengharuskan untuk menggali akar-akar sufisme Islam (tasawuf). Termasuk juga akar-akar dari mistik Hindu-Budha yang kedatangannya di Jawa begitu menyejarah. Keduanya merupakan unsur sufisme Jawa, yang jejak-jejaknya cukup jelas.

Sufisme Jawa adalah sebuah konsep keilmuan yang mencoba mempertemukan antara khazanah kepustakaan Jawa dan kepustakan santri. Di dalamnya tampak berusaha menyerap unsur-unsur ajaran sufisme Islam dan dipertemukan dengan tradisi mistik kejawen untuk memperhalus dan meningkatkan aspek kerohanian serta etika ilmu kejawen.

Hal ini dilakukan untuk mempertahankan dan memelihara serta melestarikan kontinuitas kebudayaan kejawen di satu pihak. Di pihak lain berupaya mendukung terciptanya stabilitas sosial budaya dengan karya-karya yang bisa menjembatani jurang perbedaan antara lingkungan kebudayaan kejawen dengan lingkungan kebudayaan pesantren.

Di sini tampak jelas bahwa sufisme Jawa berpangkal pada pertemuan dua khazanah. Yakni, kepustakaan mistik kejawen dan kepustakaan sufisme Islam. Dari keduanya melahirkan konsep sufisme Jawa. Hal ini juga menunjukkan bahwa kaitan antara perkembangan ajaran sufisme Islam dan mistik kejawen memang sangat erat.

Sisi-Sisi Mistik

Ajaran sufisme Jawa mengembangkan berbagai macam konsep-konsep ajaran hasil perenungan dan penghayatan kejiwaan yang bersifat mistik. Konsep-konsep ajaran sufi pun tersebar luas kala itu dan melahirkan sejenis kepustakaan baru dalam bidang sufisme.

Apalagi ajaran para sufi muslim ini dijiwai oleh romantika cinta rindu untuk melihat dan ber-‘asyik-ma’syuk dengan Tuhan, kekasih mereka. Cetusan perasaan cinta rindu ini tentu diungkapkan dalam sastra puisi yang amat halus dan indah. Maka sejak pertumbuhan ajaran sufisme ini mengilhami perkembangan syair-syair keagamaan, baik yang diungkap dalam bahasa Arab maupun sastra-sastra daerah seperti dalam bahasa Persia, Turki, Urdu dan sebagainya.

Pengaruh ajaran sufisme ini ternyata juga mengilhami lahirnya sastra Nusantara, baik sastra Melayu, apalagi sastra Jawa dan Sunda. Dalam sastra Jawa, pengaruh sufisme ini mengilhami lahirnya tiga jenis sastra Jawa-Islam, yaitu serat suluk, primbon, dan serat wirid. Di samping itu, menghilhami pula munculnya berbagai macam hikayat atau cerita-cerita keislaman. Ada yang berbentuk puisi (sekar macapat), ada pula cerita-cerita babad yang bersifat roman kesejarahan.

Baca juga :  Tasawuf dan Tarekat Virtual

Meski begitu, teori sufisme Jawa begitu kompleks dan beragam. Interpretasi esoterik dan eksoterik terhadap berbagai macam doktrin Islam, simbolisme Jawa, dan berbagai literatur lainnya dilakukan dengan memakai prinsip-prinsip metafora. Yang signifikan di sini adalah bahwa aspek-aspek tradisi tekstual sufi telah masuk dalam tradisi lisan dan dikombinasikan kembali oleh orang Jawa dalam formulasi-formulasi sufisme.

Para sufi Jawa pada umumnya sepakat dengan interpretasi eksoterik serta pentingnya moralitas dan ketenangan. Ini sebagai prasyarat yang diperlukan untuk mencapai tingkat mistik lebih lanjut. Namun, masalah-masalah esoterik dibicarakan dalam bentuk analogi, simbolisme, dan metafora. Kendati ada konsensus mengenai tujuan-tujuan pengalaman mistik dan stuktur jalannya, tetapi detal-detailnya sangat berbeda.

Sering dikemukakan bahwa setiap orang harus mencari metodenya sendiri yang unik dalam mendekati Allah. Dan bahwa ciri sejati seorang mistikus adalah kemampuan untuk menembus bentuk esoterik dari beragam bentuk simbolik, dengan mencapai kebenaran esoterik universal yang mendasari semuanya.

Dalam konsep sufisme Jawa tentang mistik kesatuan juga memiliki berbagai macam istilah. Di antaranya kasampurnaan, yang biasanya diterapkan pada orang mati, dan ma’rifat. Lebih umum lagi adalah metafora “kesatuan hamba dengan tuan” (jumbuhing kawula gusti”, dan “menyatu dengan Allah” (manuggaling kawula Gusti”, yang juga dijumpai dalam sufisme Islam. Tingkatan ini menuntut ketundukan multak ego kepada kehendak Tuhan.

Kalangan sufisme Jawa, seperti kebanyakan sufi, meyakini bahwa tingkat itu hanya bisa dicapai sebentar. Jika itu bisa dipertahankan, maka bentuk-bentuk spiritual lainnya dalam sufisme Jawa, seperti wahyu, kasakten, dan kramat, sudah tidak perlu lagi.

Baca juga :  Ain al-Qudzat; Sufi Martir dari Hamedan

Banyak sufi Jawa mengaku bisa mencapai tingkat kesatuan mistik dalam waktu singkat. Pencapaian ini dipandang sebagai sumber bimbingan dan berkah untuk mistikus itu, keluarganya dan komunitasnya.

Melalui pencapaian kesatuan mistik itu, sang mistikus mengemukakan suatu pemahaman mengenai kehendak Allah dan hukum kosmik, dan karena itu mampu menetapkan syarakat-syarakat kedamaian dan ketenangan yang membantu perkembangan spiritual dan kesejahteraan dunia komintas tersebut.

Sufisme Jawa tentang Ketuhanan 

Menurut Simuh (2015), dalam berbagai karya yang membahas tentang sufisme Jawa seperti suluk dan primbon, tema kajian yang paling menonjol adalah hubungan antara manusia dengan Tuhan. Dalam sufisme, orang tidak berani merumuskan pandangan panteisme secara terang-terangan lantaran bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an, dan tentu ditentang oleh masyarakat muslim.

Oleh karena itu, paham ini selalu diungkapkan kalmat-kalimat yang mendua arti dan mengandung maksud yang tersembunyi. Dalam berbagai suluk juga dipertahankan dengan rumusan “tunggal pan tan tunggal, loro pan tan loro”.

Gagasan manunggaling kawula Gusti sendiri pertama kali muncul bersamaan dengan era kekuasaan kerajaan Demak akibat pengaruh sufisme Islam. Yakni ajaran tentang insan kamil (manusia sempurna) yang dalam sufisme Jawa diungkapkan dengan konsep manunggaling kawula Gusti (union-mistik), yakni pembebasan manusia yang mutlak seperti kemutlakan Tuhan sendiri. Karena manusia telah jadi Tuhan seperti halnya konsep Wisnumurti atau Bimasakti.

Secara histosis, sufisme Jawa berkembang dan membentuk berbagai macam aliran tarekat yang memuncak pasca kemerdekaan Indonesia. Sebagai gerakan tarekat, aliran sufisme Jawa juga merupakan upaya untuk memasyarakatkan ajaran sufisme Jawa (mistik Islam kejawen). Karena munculnya aliran-aliran sufisme Jawa seperti halnya tarekat. Ia lebih menekankan segi-segi laku praktis seperti persujudan, sehingga dengan demikian bisa dimasyarakatkan kepada orang lapisan awam. Walaupun orang sanggup samadi dengan sempurna tetap hanya golongan khawas, namun orang awam bisa dilatih sujud menurut kadar kuasanya masing-masing.

Baca juga :  Pengakuan Seorang Pejuang Khilafah

Sufisme Jawa dalam arti mistik Islam kejawen murni memang umumnya hanya bisa dinikmati oleh kalangan yang sudah khawas. Sehingga ajaran-ajaran yang berkaitan dengan fana’ dan makrifat kepada Allah memang sangat sulit diterima dan dihayati oleh kalangan orang-orang awam.

Memadukan Islam dan Kejawen

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sufisme Jawa adalah sebagai salah satu konsep kebatinan Islam yang ada di Jawa merupakan anak kandung dari ajaran-ajaran Islam. Mereka memang memadukan berbagai unsur yang ada dalam mistik kejawen. Tetapi, unsur-unsur itu disesuaikan dengan ajaran sufisme Islam, agar sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan sunnah hadits Nabi. Dengan kata lain, Simuh beranggapan bahwa sebuah penghayatan spiritual yang mendalam menunjukkan bahwa ruang lingkup agama Islam searah dengan mistik kejawen.

Ajaran sufisme Jawa memang merupakan inti terdalam yang dijiwai dan diwarnai seluruh aspek kebudayaan mistik Jawa dan sufisme Islam yang hingga kini masih mengakar dalam kebudayaan masyarakat Jawa. Bahkan dalam masa pembangunan ini muncul beratus-ratus aliran kebatinan dan tarekat yang mencerminkan kebangkitan kembali, atau revitalisasi mistik Islam kejawen.

Inti ajaran sufisme Jawa adalah kepercayaan bahwa manusia bisa menjalin hubungan langsung secara pribadi dengan Allah dan alam gaib dengan jalan meditasi. Hasil kontak langsung dengan Allah inilah yang menjadi kebanggaan, kebesaran, dan kebebasan manusia.

Maka ajaran ini melahirkan sejumlah orang kecil golongan elite sufi Jawa yang dapat menguasai dan pempunyai ilmu gaib. Merekalah yang disebut sebagai wali Allah. Oleh karena itu, sufisme Jawa memberi keyakinan untuk menanamkan untuk menambah kewibawaan seseorang dengan penguasaan ilmu yang dikatakan serba gaib (keramat).

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *