Ajengan Aban [Cerpen]

“Total, ada sekitar 600 ajengan yang berhasil kami ajak turun dari gunung,” ujar Ajengan Aban seraya menatap para santrinya dengan pandangan teduh. Tak ada jumawa dalam kata-katanya itu, malah terkesan nada pilu. “Kami berdebat panjang dengan mereka tentang perjuangan Islam, apakah harus mendirikan negara dengan pemberlakuan syariat Islam atau menerima Republik Indonesia. Di mata mereka, kami yang membela RI ini diibaratkan sebutir jagung di atas kotoran anjing.”

Ajengan berusia 62 tahun itu menarik nafas panjang. Ia tampak agak lelah seusai mengajar sejak pagi hingga sore ini. “Kalau saja mereka tetap bertahan, keukeuh tak mau turun, pasti pesantren di Priangan ini akan habis.” Setelah menyebut sejumlah nama ajengan yang mengasuh pesantren-pesantren besar di Priangan Timur yang sebelumnya ia jumpai di pegunungan di kawasan Ciamis, ia pun menutup pengajian di sore itu.

Beranjak dari kursinya dan keluar dari pintu mesjid bagian selatan, Ajengan Aban tak segera menuruni tangga seperti biasanya. Ia tampak termenung sambil memegang tiang penyangga atap. Tatapannya lurus ke arah timur, ke gunung Cikurai yang tak terhalang apa pun. Kenangan lama tiba-tiba menghampirinya. Ia ingat kembali pada pertemuan keluarga malam itu, yang memutuskan agar dirinya bergabung dengan TNI, 25 tahun yang lalu.

Riungan keluarga Pesantren Curug malam itu berlangsung dalam suasana yang tegang. Aban, ajengan muda yang sangat diandalkan keluarga, baru saja keluar dari penjara Garut karena tuduhan terlibat dalam gerakan Darul Islam. Ini kali yang kedua ia dipenjara dengan tuduhan yang sama. Ia duduk dengan gelisah dikelilingi kakak, adik, paman, sesepuh kampung, dan ibunya. Harus ada jalan keluar agar kejadian ini tidak terus berulang.

Curug, nama kampung kecil di kaki gunung Puntang, Garut. Lokasinya bisa dicapai dengan berjalan kaki sekira 500 meter dari jalan besar berbatu yang menyambungkan Simpang menuju Pangauban dan seterusnya ke gunung Puntang lalu ke gunung Papandayan. Pesantren Curug, begitu dikenal oleh khalayak, dikelilingi oleh sawah sejauh mata memandang. Di sebelah barat tampak Gunung Puntang dan di timur Gunung Cikurai berdiri menjulang. Air jernih mengalir tak berhenti sepanjang waktu.

Pesantren Curug didirikan oleh Ajengan Iyo, ayahanda Aban, pada 1916. Semenjak sang pendiri wafat pada 1944, Ma Uwe, ibunya Aban, menjadi sesepuh yang dihormati dan didengar setiap kata-katanya. Sepulang dari Pesantren Cintawana Tasikmalaya dan Cipari Garut, Aban meneruskan amanah mengelola pesantren. Ia pulang untuk menemani Ajengan Encur, kakaknya, yang sudah lebih dahulu mukim dan mengajar santri.

Memasuki awal tahun 60-an itu situasi sungguh tak nyaman untuk kelangsungan pesantren. Ajengan muda seperti Aban dipaksa keadaan harus nincak parahu dua. Siang menghormati kehadiran TNI yang berpatroli, sementara malam harus melayani kepentingan DI yang mencari keperluan logistik.

“Bagaimana sebaiknya kita ini? Ikut DI, ditangkap TNI. Memihak TNI, dimusuhi saudara-saudara sendiri, dituduh berkhianat pada perjuangan.” Ma Uwe memecah kesunyian. “Pengajian-pengajianmu disukai para santri, Aban. Ema senang, pesantren kita jadi ramai kembali. Tapi kalau kamu bolak-balik dipenjara, mereka tak lama lagi akan bubar,” sambungnya tanpa menyembunyikan kekhawatirannya.

“Ini sungguh simalakama. Maju jurang mundur jungkrang, ” ujar Ajengan Encur, menambah ketegangan malam itu.

Aban tak segera menjawab. Pikirannya masih penuh dengan berbagai hal. Dibui selama dua bulan mempertemukannya dengan banyak orang yang tak mengerti mengapa mereka harus masuk ruang isolasi itu. Mereka saling berbagi dan sama-sama bertanya, mengapa upaya untuk memperjuangkan tegaknya syariat Islam bisa disalahkan? Aban merenungi dirinya yang sehari-hari hanya mengajar santri. Ia membuat syair-syair berbahasa Sunda yang berisi tuntunan Rukun Iman dan Rukun Islam untuk dihafal santri-santri pemula. Ia mengajar tata bahasa Arab untuk santri yang lebih besar.

Baca juga :  Arti Senyum Kiai Idris [Cerpen]

Memang, ia kerap menerima tamu di malam hari, kawan-kawannya di pesantren yang memilih berjuang di gunung. Ia menyisihkan beras dan lauk pauk yang mereka perlukan, sekedar memberi dukungan moral atas perjuangan mereka. Ia berjuang dengan mengajar santri. Mereka berjuang dengan mengangkat senjata.

“Apakah kamu punya cara untuk keluar dari kesulitan ini?” tanya Ma Uwe sambil menelisik raut muka Aban. “Hanya kamu yang diincar TNI selama ini. Mungkin karena kamu dianggap paling berpengaruh. Apakah mungkin jika kamu jadi tentara, menjadi seorang TNI?”
Semua terhenyak. Tak ada yang menduga dengan pertanyaan itu.

“Bukankah TNI yang sudah dua kali memenjarakan Aban?” tanya Ajengan Encur dengan nada menggugat. “Apa tidak ada kemungkinan lain?”

Ma Uwe menatap tajam ke arah Encur lalu ke arah Aban.

“Bagaimana menurutmu, Kang Aban?” tanya Nyai Ena, adik perempuannya, mencairkan suasana. “Apakah mungkin Akang bergabung dengan tentara?”

Aban menarik nafas panjang.

“Saat di penjara, memang ada tawaran kepada kami, para pengasuh pesantren yang sama-sama dibui, untuk bergabung sebagai imam tentara, yang akan diperbantukan untuk mengehentikan saudara-saudara kita yang berjuang di gunung,” tutur Aban. “Hanya saja, saya belum bisa menerima tawaran itu. Rasanya berat harus mengkhianati perjuangan saudara-saudara kita.”

Aban lalu menuturkan pembicaraannya bersama sahabat kentalnya yang bernama Ajengan Marko. Keduanya berdialog panjang mempertimbangkan untung dan ruginya menerima atau menolak tawaran dari pihak TNI itu. Kalau menolak, risikonya akan selalu dicurigai TNI dan pesantren tidak akan tenang melangsungkan kegiatan. Jika menerima, mereka harus korban perasaan dengan perjuangan orang-orang gunung.

“Kalau menurut ushul fiqih,” Ajengan Encur menyambung penjelasan adiknya, “jika kita menghadapi dua bahaya, maka kita dianjurkan untuk mengambil bahaya yang paling ringan di antara keduanya. Menurut Aban, di antara pilihan menerima dan menolak itu, mana yang paling ringan madaratnya?”

“Saya dan Ajengan Marko bersetuju, menerima tawaran untuk bergabung menjadi tentara, lebih ringan akibatnya. Setidaknya, kegiatan pesantren kita tidak lagi terganggu.”
Ma Uwe tampak lega. “Besok pagi, berziarahlah ke makam ayahmu di Paguha. Ema percaya, kalau ayahmu masih ada, dia akan setuju dengan keputusan ini.” Perempuan sepuh yang berwibawa itu menutup pertemuan.

Terhitung sejak 1960, Aban pun resmi berdinas sebagai seorang militer dan ditugaskan di Ciamis, salah satu basis perjuangan DI. Ia menjadi tentara setelah mengikuti serangkaian ujian yang dipermudah, khususnya saat mengikuti ujian fisik. Termasuk soal usianya yang saat itu sudah memasuki 37 tahun.

Maklumlah sejak kecil ia hanya mengaji dan setelah dewasa mengajar santri. Ia bahkan tak pernah memegang cangkul karena begitu dimanja oleh keluarga yang berharap ia menjadi ajengan yang masyhur. Ia diterima sebagai tentara karena dianggap ahli agama atau disebut Imam Tentara. Ia dan kawan-kawannya akan dijadikan sebagai negosiator yang akan menjumpai para ajengan yang berjuang di gunung, mengajak mereka untuk turun dan kembali ke pangkuan Republik Indonesia.

Kepergian Aban menjadi tentara benar-benar mengurangi ketegangan di lingkungan pesantren. Tak ada lagi tuduhan Pesantren Curug mendukung gerombolan yang selama ini sangat mengganggu jalannya pengajian. Orang tua santri tak lagi ketakutan kalau-kalau anak mereka juga ikut ditangkap dan dipenjara seperti Ajengan Aban.

Baca juga :  Ketika Agama Diseret Paksa oleh Pemeluknya

Kehidupan militer kemudian mengubah kehidupannya. Pergaulannya yang kian luas dengan ulama-ulama muda dari berbagai daerah, yang sama-sama memasuki dunia tentara, membuka wawasan dan cakrawala berpikirnya. Mereka secara leluasa merumuskan konsep bela negara dan bela agama yang tidak saling menafikan.

Mendiskusikan pemikiran-pemikiran baru tentang dunia Islam dari bacaan-bacaan yang tersedia. Mereka dipertemukan oleh situasi dan kondisi yang sama yang mendorong untuk berubah pandangan dalam banyak hal. Mereka bersepakat pada satu kesimpulan bahwa gerakan DI merupakan pemberontakan terhadap negara yang sah. DI adalah suatu upaya mendirikan negara di dalam negara. Mereka bersepakat bahwa Republik Indonesia harus diselamatkan. Mereka mengorbankan waktu, tenaga dan jiwa, meninggalkan dunia pesantren yang jadi nadi kehidupan mereka, demi menjaga keutuhan Republik. Mereka menerobos semak belukar, naik-turun pegunungan untuk menjumpai kawan-kawan yang bersimpang jalan. Lalu beradu logika dan berbantah dalil mengenai cara perjuangan Islam yang harus dilakukan. Namun, bukan perdebatan panjang itu yang ternyata membuat kawan-kawan mereka luluh, melainkan soal kelangsungan pesantren di masa depan. Jika tetap berjuang di gunung, siapa yang akan melanjutkan amanah mengelola pesantren, sementara kemenangan secara politik dan milter sudah tidak mungkin lagi diraih.

Segerombolan burung terlihat terbang menuju ke arah gunung Cikurai. Aban masih berdiri tegak seraya sesekali membetulkan letak serbannya yang tertiup angin. Perjalanannya sebagai tentara yang telah merubah kehidupannya itu mengundang konsekuensi yang tak bisa ia hindari. Perubahan itu ternyata tak bisa diterima oleh semua keluarga serta masyarakat, dan menjadi benih pergunjingan di kampung Curug dan sekitarnya. Aban yang sesekali pulang berkunjung kepada ibunya, dipandang sudah terbawa ajaran baru, yang berbeda dengan tuntunan yang diajarkan ayahnya.

Setelah menjadi tentara, Aban memang menjadi sosok yang berbeda. Tubuhnya menjadi lebih berisi berkat latihan fisik yang diikutinya. Rasa percaya dirinya kian besar karena tak ada lagi ancaman yang ia khawatirkan. Juga bacaan kitabnya semakin luas. Sebagai tentara ia mendapatkan kemudahan untuk memperoleh kitab-kitab yang lebih membuka wawasannya. Bukan sejenis kitab yang biasa ia kaji sebelumnya. Ia mulai berkenalan dengan para pemikir Islam modern yang mempertemuakannya dengan cara pandang baru terhadap satu persoalan. Ia mendapatkan keasyikan baru dalam menekuni hukum Islam. Ia hanya tersenyum kecut saat saudara-saudaranya menggunjingkan jumlah salat tarawihnya, jarangnya ia ziarah kubur, atau karena ia tak pernah lagi mau memimpin tahlilan.

Angin di senja itu bertiup sepoi-sepoi menerpa wajah Aban yang masih berdiri menatap Cikurai. Seorang cucunya datang menghampiri dan mengajaknya segera kembali ke rumah. Aban mengusap-usap kepala anak lelaki berusia 12 tahun itu dan mengajaknya berdiri di sampingnya.

Memasuki pertengahan 1965, ketika hubungan politik antara Indonesia dan Malaysia memanas, Aban dan kawan-kawannya diperintahkan untuk meneruskan tugas ke Kalimantan Barat yang berbatasan dengan Malaysia, sebagai bagian dari operasi Ganyang Malaysia. Saat melaporkan rencana itu kepada keluarga, serempak mereka mengajukan keberatan.

“Kamu punya sudah punya sembilan anak, tidak baik kalau istrimu ditinggal sendiri, apalagi sekarang tengah mengandung anak kesepuluh,” ujar Haji Gojali, mertuanya, mengingatkan dengan raut wajah yang menampakkan rasa kurang suka. “Istrimu juga tidak mungkin ikut serta karena hidup di sana pasti sangat berat,” lanjutnya sambil menatap wajah menantunya itu.

Keluarganya di Curug juga tidak ada yang setuju dengan kepindahan lokasi tugas itu. “Pesantren kita ini tidak akan tambah maju kalau kamu tak pernah ada waktu untuk mengajar,” ujar Ajengan Encur dengan nada menggugat. “Setelah tugas ke Kalimantan, entah kemana lagi nanti kamu akan ditempatkan.”
Aban bimbang antara meneruskan karier yang tengah dinikmatinya dan pertimbangan keluarga yang tidak mungkin pula diabaikannya.

Baca juga :  Membangun Agama Cinta

“Carilah jalan terbaik agar semua bisa menerima,” ujar Nyai Isoh, istrinya.
Aban berkonsultasi pada rekan-rekan dinasnya dan guru-gurunya di pesantren. Ia tak lupa meminta nasehat dan restu ibunya. Akhirnya ia sampai pada keputusan untuk untuk keluar dari dinas ketentaraan dan mengajukan pindah tugas ke Departemen Agama, tepatnya ke bagian pengadilan agama.

Dengan tugas baru inilah ia semakin tekun mendalami hukum Islam dan kealimannya mulai dikenal luas di wilayah Garut. Aban lalu memutuskan untuk membuka pesantren baru yang berjarak sekira satu kilometer dari Curug, tepatnya di kampung Pakuwon. Ia memindahkan tanah warisan orang tua dan membeli sebagian tanah untuk rumah dan pesantren. Ia membangun asrama santri dan yang atasnya didirikan mesjid dengan lantai kayu. Tiba waktunya memberi nama pesantren barunya itu, ia tak lagi menggunakan nama setempat seperti yang dilakukan oleh orang tua dan guru-gurunya, ia memilih nama baru, Darul Huda.

Sebagai pegawai negeri, ia berangkat pagi dengan berjalan sekira 1,5 KM menuju jalan raya untuk mendapatkan angkutan ke arah kota Garut. Pagi ia berjalan menurun, sore saat pulang, ia berjalan menanjak. Begitulah hari-hari ia lalui. Praktis ia hanya punya waktu untuk memberi pengajian setelah subuh dan malam hari seusai waktu magrib. Dengan rutinitas seperti itu, tak banyak santri yang datang untuk mukim. Sebenarnya ia memang sangat menikmati masa-masa dinas militernya.

Dalam tempo singkat, ia telah turut serta menghentikan pemberontakan bersenjata paling panjang dalam sejarah Indonesia. Tetapi setelah pemberontakan itu usai, tugasnya dalam militer tak akan berbeda dengan prajurit yang lain. Tak lagi istimewa.

Di sela-sela waktunya ia menelaah bermacam kitab yang memenuhi lemari yang diletakkan di ruang depan. Selain hukum Islam ia juga menekuni bidang tafsir Alquran. Ia mempunyai jadwal rutin untuk memberikan khutbah Jumat di Masjid Agung Garut. Setiap menjelang puasa, bersama tim rukyat dari Kantor Departemen Agama Garut, ia pergi ke Pantai Pameungpeuk untuk memastikan awal puasa. Menjelang lebaran tiba, sebuah bingkisan yang biasanya berisi sarung, diterimanya dari pengirim yang sama, Gubernur Jawa Barat.

Setiap bulan puasa pula, Ajengan Aban membuka pengajian yang diikuti oleh pelajar tingkat menengah dan mahasiswa. Ia menyampaikan berbagai materi seperti pengantar ilmu tafsir dan hadits, tajwid, tata bahasa Arab, dan sejarah Islam. Pengajian puasanya selalu diikuti oleh banyak santri. Sekalipun usianya kian lanjut, caranya mengajar masih tetap disukai. Bahasanya lugas dan sesekali diselingi humor. Libur panjang setahun sekali itu tampak sangat dinikmatinya, berbagi ilmu dengan anak-anak muda dari pagi hingga malam hari. Kadang ia menyelanya dengan berbagi pengalaman dari masa perjuangan. Seperti sore itu, Ramadhan 1406 H, saat kenangan lama tiba-tiba menyergapnya.

“Bismillahi … tawakkaltu,” ujarnya lirih.

Arak-arakan awan terbawa angin menyamarkan pandangan ke arah Cikurai. Aban menengok ke arah cucunya yang menarik tangannya dan meyadarkannya untuk segera beranjak pergi.

“Ayo Aki, waktu berbuka sebentar lagi tiba,” ujar cucunya.

“Ayo,” jawabnya seraya menuruni tangga masjid menuju rumahnya.

***

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *