Aktivis Muslimah dalam Pandangan Islam

Aktivis Muslimah dalam Pandangan Islam

Aktivis Muslimah dalam Pandangan Islam

Kehadiran perempuan-perempuan seperti Sasa, Asfinawati, Kalis Mardiasih, Fathimah Fildzah Izzati, hingga Okky Madasari dalam gelombang penolakan Omnibus Law adalah sebuah potret yang meneguhkan bahwa perempuan tidak dapat terpisah dari dinamika perubahan sosial, ekonomi, politik, budaya, hingga agama.

Sebagai seorang muslimah yang juga turut terlibat dalam gerakan penolakan Omnibus Law, saya melihat “Sasa” dan perempuan-perempuan lainnya sebagai momen untuk melakukan pendefinisian ulang mengenai bagaimana menjadi “perempuan salihah” dalam masyarakat muslim kita. Sosok-sosok seperti mereka perlu dilirik para muslimah muda sebagai “the one who I look up to” ketika ia tumbuh dewasa nantinya.

Menjadi seorang perempuan aktivis memang tidaklah mudah. Mereka seringkali dianggap menyebalkan hingga dilabeli sebagai “pembangkang”. Label-label tersebut hadir sebab sistem patriaki yang memproduksi pengetahuan.

Bahwa perempuan haruslah feminin dalam artian rapuh, lemah, tidak memiliki agensi bersuara. Logika subordinasi pun digunakan seolah mengharuskan perempuan harus taat kepada entitas yang berkuasa di atasnya, baik laki-laki atau bahkan negara.

Namun, hal tersebut bukanlah hal yang bisa kita jadikan alasan untuk melimitasi gerak perempuan. Sebab nyatanya, sejak era nabi potret-potret perempuan yang menjadi aktivis banyak diceritakan dalam hadis-hadis nabi. Misalnya saja  Ummu Ri’lah al-Qusyairiyyah dan Ummu Salamah.

Dalam beberapa hadis, Ummu Ri’lah dan Ummu Salamah diceritakan sebagai seorang muslimah yang tak segan untuk bertanya langsung kepada Rasulullah mengenai hal-hal yang mengganjal di benak mereka. Keresahan mengenai perempuan yang mendapatkan diskriminasi oleh budaya Arab era itu mendorong mereka kerap berkonsultasi kepada Rasulullah.

Aktivisme dalam rangka menuntut hak misalnya. Dapat kita lihat dari salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Abi Sa’id Hudri.

Diceritakan bahwa terdapat seorang perempuan yang menuntut majelis belajar dari Rasulullah. Ia menginginkan majelis dari Rasulullah untuk perempuan sebagaimana yang diberikan Rasulullah kepada laki-laki. Alih-alih sang perempuan didiskreditkan suaranya, justru Rasulullah mengabulkan tuntutannya dengan memberikan sebuah hari khusus untuk perempuan belajar kepadanya.

Potret-potret agensi muslimah di era kenabian yang berani berbicara ini sesungguhnya merupakan sebuah pengingat bagi kita. Bahwa perempuan pun harus bersuara untuk mempertanyakan dan menuntut posisinya, kewajiban, hingga hak-hak yang harus diberikan olehnya.

Dalam artian aktualnya saat ini, perempuan juga harus berani bersikap atas kezaliman dan ketidakbaikan yang terjadi baik dalam level keluarga, agama, hingga negara.

Dalam sudut pandang Islam, aktivisme sendiri bisa kita kategorikan sebagai upaya jihad. Merujuk pada definisi jihad menurut Syaikh Yusuf Al-Qardhawi. Dalam Fiqih Jihad, beliau mendefinisikan jihad sebagai mencurahkan segenap upaya di jalan Allah untuk melawan keburukan dan kebatilan di mana pun sesuai kemampuannya.

Aktualisasinya baik berupa aktivitas hati berupa niat dan keteguhan; aktivitas lisan berupa dakwah dan penjelasan; aktivitas intelektual berupa pemikiran dan ide; serta aktivitas tubuh berupa perang dan lain sebagainya.

Artinya pekerjaan aktivisme sendiri merupakan wujud implementasi dari empat bentuk aktivitas jihad yang Syaikh Yusuf Al-Qardhawi jabarkan. Terlebih dalam sebuah hadis dinyatakan :

“Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda : Siapa yang melihat kemunkaran maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.” (H.R. Muslim)

Nahi mungkar dalam skema aktivisme perempuan juga senada dengan konsep muslih yang dikemukakan oleh Imam Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin. Muslih menurut Imam Ghazali adalah pribadi lebih aktual dari salih yang bertindak baik secara pribadi. Muslih mengusahakan kerja-kerja kebaikan yang tak hanya diperuntukkan bagi dirinya sendiri, tetapi juga manusia lain dan alam di sekitarnya.

Muslimah Salihah dan Muslihah

Hal ini berarti, keterlibatan muslimah dalam aktivisme—dengan tujuan memperbaiki masyarakat, negara, hingga lingkungan—adalah definisi menjadi muslimah yang tak sekadar salihah. Tetapi juga muslimah yang salihah dan muslihah. Apalagi tuntutan mengerjakan kebaikan tidak ditujukan spesifik kepada laki-laki saja, tetapi merupakan kewajiban setiap muslim apapun jenis kelaminnya.

Namun perlu diperhatikan bersama bahwa, menjadi perempuan muslihah tidak boleh sekadar berbuat dan menyeru salih saja. Kita perlu untuk merefleksi salih dengan konsep salih yang dijelaskan oleh Syaikh Mutawalli Sya’rawi dalam Tafsir asy-Sya’rawi mengenai Surah al-Anbiya ayat 105.

Hal ini dikutip oleh Cecep Zakarias dalam tulisannya berjudul Makna Saleh dan Macam-macamnya yang mengandung perintah Allah kepada manusia untuk mengatur dan mengelola lingkungannya dengan berbuat saleh (kebaikan).

Menjabarkan ayat tersebut, Syaikh Sya’rawi membagi salih menjadi dua bentuk. Yakni saleh duniawi yang berdasarkan pada dimensi etis—atau yang lebih akrab dikenal dengan “panggilan jiwa”—dengan pertimbangan akal sehat yang bersifat universal.

Sedangkan saleh duniawi bermakna bahwa keimanannya kepada Allah menjadi landasan bagi aktivitas kebaikan yang dilakukannya dan didasarkan pada syariat yang diturunkan oleh-Nya.

Artinya, meneguhkan semangat salihah dan muslihah dalam kerangka aktivisme setidaknya memiliki konsekuensi bahwa muslimah tidak cukup untuk salih secara rasional saja. Tetapi juga harus melandasinya dengan keimanan. Lebih jauhnya, aktivisme yang dilakukan oleh muslimah harus tetap mempertimbangkan rasionalitas dan syariat agama.

Setiap wacana, metode, hingga realisasi dari aktivisme yang dilakukan harus dipikirkan dengan akal sehat dan prinsip-prinsip ajaran agamanya. Sehingga, salih dalam mengupayakan perubahan yang muslimah lakukan memiliki dimensi vertikal sebagai bentuk pengesaan Tuhan dan dimensi horizontal sebagai bentuk pemanusiaan insan.

Untuk itulah menjadi muslimah aktivis sendiri memiliki misi untuk menjadi pribadi utuh dan adil atas setiap status yang mengonstruksinya. Hal ini dimaksudkan agar ke depan banyak muslimah kita mewarnai aktivisme di Indonesia dengan kepribadian yang luar biasa. Yakni memiliki keteguhan berpikir dan bertindak dengan landasan akal dan syariat.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *