Aktualisasi Wawasan Keislaman dan Kemanusiaan

Judul Buku   : Membumikan Islam: dari Romantisme Masa Silam Menuju Islam Masa  Depan

Penulis           : Ahmad Syafii Maarif

Penerbit         : IRCiSoD Diva Press

Cetakan          : I Agustus 2019

Tebal               : 296 halaman

ISBN               : 978-602-7696-76-1

 

Buku ini, bisa dibilang merupakan salah satu sumbangan penting di antara wacana kritis dalam diskursus keislaman di Indonesia kontemporer. Karya yang awalnya berasal tulisan lepas, makalah, dan pokok-pokok diskusi yang dijalani penulis selama beberapa tahun ini, menarik untuk dibahas dan dikaji ulang secara serius.

Buku berjudul, Membumikan Islam: dari Romantisme Masa Silam Menuju Islam Masa Depan, karya Ahmad Syafii Maarif atau yang lebih akrab dipanggil Buya Syafii ini, memberikan kita gambaran sekaligus cara pandangan kritis atas semangat kebangkitan peradaban Islam yang dimotivasi oleh romantisme sejarah kejayaan peradaban Islam beberapa abad silam.

Melalui buku ini Buya Syafii, hendaknya membangun gagasan besar. Setidaknya hal itu, kita bisa membaca pada lima tema besar: Alquran dan beberapa kajian, agama dan budaya masyakarat, dakwah dan perubahan masyarakat, Islam dan politik di Indonesia serta demokrasi dan nilai-nilai insani. Dari kelima gagasan ini, Islam harus dipandang sebagai sebuah dinamika, proses, dan aktivisme sosial yang tumbuh berkembang (membumi) di tengah-tengah masyarakat.

Islam sebagai sebuah gagasan dan ekspresi peradaban, sejak abad 20 hingga abad ini dihadapkan pada pelbagai pradoks kemanusian yang semakin komplek. Misalnya, dalam sistem kekuasaan politik presentatif hingga akhir pertengahan abad 20, atau  sejak berakhirnya kolonialisme Barat atas negara-negara bermayoritas Muslim (misalnya, Turki, Sudan, Maroko, Pakistan, serta negara lainnya), umat Islam masih mengalami banyak kesulitan dalam mengembangkan sistem dan gagasan-gagasan politik, antara emokrasi, kerajaan, atau sistem otoriter.

Baca juga :  Idul Fitri dan Pesan Kemanusiaan

Paradoks lain yang menimpa umat Islam adalah romantisme sejarah yang sarat penuh dengan dosa-dosa, pertumbuhan ekonomi semakin sekarat, hingga derasnya arus perkembangan masyarakat pluralistik yang semakin komplek dengan identitas diri dalam wujud agama, kebudayaan dan tata nilai yang diyakini kebenarannya berupa sikap eksklusivisme akut.

Bagi penulis buku Islam dan Masalah Kenegaraan (1985) dan Islam dan Politik (2018) ini, posisinya masih belum banyak berubah, masih silau pada keemasan Islam di masa lalu. Buya Syafii menuliskan, “Sudah hampir satu abad sepeninggal al-Afghani adan Muhammad Abduh, belum banyak yang berhasil kita sumbangkan dari segi pemikiran Islam fundamental, demi mengangkat umat ke poisi yang lebih layak. Islam dalam jubah Sunnisme dan jubah Syi’isme menurut penulis ialah Islam yang sudah tua renta dan sangat lelah (hlm 08).

Kita tahu, bahwa hingga saat ini Sunni masih mewakili kelompok mayoritas, Syiah mewakili kelompok minoritas, dan disusul Wahabisme yang belakangan ikut mengekor. Kedua aliran ini (Sunni dan Syi’ah) hanya menawarkan landasan keislaman pada tinggkat jelata. Wawasan Islam tingkat jelata ini, bisa dikatakan lebih menguasai alam pikiran umat Islam pada dataran akar rumput. Bagi Buya Syafii, fenomena Sunni dan Syiah harus dipandang sebagai fenomena Arab daripada Islam. Dengan demikian, gagasan untuk menampilkan Islam tidak terpasung pada corak Arab (hlm 121).

Baca juga :  Humanisme dalam Islam

Wawasan Keislaman dan Kemanusiaan

Berbicara Islam abad 21, sesungguhnya jauh berbeda dengan Islam beberapa abad silam. Islam saat ini-meminjam istilah Marshall Mc Luhan dalam Understanding Media: the Extension (1964), adalah global village “kampung global” atau istilah Guy Debord dalam Society of the Spectacle (1987) global stadium “stadion global”. Artinya, Islam sudah mendunia, konektivitas antar penduduk, baik Muslim Arab, Indonesia dan Eropa-Amerika dan lainnya semakin intensif.

Dari berbagai peristiwa besar, seperti pengeboman di tiga Gereja di Surabaya pada Mei 2018 atau yang terbaru ledakan bunuh diri pada 21 April 2019 saat umat Kristiani merayakan Minggu Paskah di Gereja Santo Sebastian, Negombo, Sri Lanka adalah bukti bahwa sikap eksklusivisme agama masih belum dipandang sebagai bagian dari masa lalu Islam yang tak perlu dibangkitkan kembali.

Oleh karena itu, pada abad 21 ini dunia memerlukan prinsip dan keseimbangan baru, di mana akal dan iman, fisik dan jiwa tak perlu saling dicurigai dan diterlantarkan. Buya Syafii, menyarankan agar umat Islam melakukan; pertama, diadakan dialog terbuka, jujur, dan konstruktif agar agama perlu dibudayakan dalam rangka mencari titik temu dan merumuskan jalan alternatif yang berisifat ilahiah yang lebih toleran bagi bangunan peradaban manusia yang lebih ramah, kreatif, dan anggun.

Baca juga :  Haji, Mentransformasikan Nilai Spiritualitas Ke Nilai Kemanusiaan

Kedua,  reaktualisasi ajaran Islam dalam kehidupan sehari, sehingga setiap pemeluk agama memungkinkan memahami agama yang diyakini sesuai dengan konteks masing-masing. Reaktualisasi ini dilakukan dengan diktum sebagaimana yang ditawarkan Alquran, fikr (penalaran), dan zikr (kesadaran mendalam tentang kehadiran Tuhan) tentang perlunya integrasi pemantapan iman yang diiringi pembentukan umat berilmu secara maksimal (hlm 116).

Pada akhirnya, diakui atau tidak, saat ini reaktualisasi wawasan keislaman dan kemanusian kita masih terbatas. Namun, lambat laun keterbatasan ini perlu diganti dengan wawasan dengan skala yang lebih besar dan harus berbentuk suatu lebih konkret dalam kehidupan yang lebih kolektif bagi umat manusia. Sebab, corak wawasan keislaman dan kemanusiaan kita di masa depan akan ditentukan oleh mutu wawasan keislaman kita saat ini.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.