Al Insaniyyah Qabla At-Tadayun, Kitab Kemanusiaan Sebelum Keberagamaan

KITAB AL INSANIYYAH QOBLA AT TADAYUN

Kitab al insaniyyah qabla at tadayun adalah salah satu kitab yang ditulis oleh ulama kontemporer yang sangat masyhur. Nama lengkap penulis kitab al insaniyyah qabla at tadayun ialah Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman al-Jufri. Julukan habib kepadanya dikarenakan ia masih keturunan Nabi Muhammad Saw.

Habib Ali al-Jufri mempunyai pengaruh yang sangat kuat di era kekinian. Di sisi lain, ia juga salah satu ulama’ internasional yang berdakwah ke penjuru dunia untuk menyebarkan risalah-risalah Islam yang sedang ia emban.

Dalam berdakwah Habib Ali al-Jufri selalu mengemas nilai-nilai tauhid dengan kemanusiaan, lewat hikmah tersebut Habib Ali al-Jufri banyak disukai dan diterima oleh semua kalangan baik muslim manapun non-muslim. Konsep inilah yang ia sematkan dalam salah karyanya.

Mendahulukan kemanusiaan sebelum keberagamaan merupakan salah satu konsep yang ideal untuk memupuk kerukunan antar umat beragama di era disrupsi ini,  namun hal tersebut sering di abaikan  oleh sebagian dai dan tokoh-tokoh agama. Bahkan Ironisnya lagi banyak orang Islam yang belum bisa membedakan antara agama dan keberagamaan.

Tentu, jika hal tersebut tidak segera diluruskan, maka dapat merusak keharmonisan hidup rukun antar umat beragama. Di sisi lain, hal tersebut dapat memicu terjadinya kasus intoleran, Islam radikal, kolot dan semacamnya. Padahal antara agama dan keberagamaan keduanya jelas berbeda, kalau agama itu dari murni dari Allah Ta’ala sedangkan keberagamaan ialah cara seseorang menjalankan  agama itu sendiri, misal seperti aliran madzhab fiqih, akidah dan seterusnya.

Di era kontemporer ini sangat sedikit sekali ulama yang gaya pemikirannya sama dengan Habib Ali al-Jufri. Gaya pemikiran Habib Ali al-Jufri yang mengupas masalah moderatisme  dan nilai-nilai kemanusiaan terlukiskan dalam karyanya yang berjudul al-insaniyyah qabla at-tadayun.

Hadirnya buku ini disambut ramah oleh para pakar ilmuwan, meskipun di sisi lain ada yang tidak sependapat dengannya. Salah satu tokoh ilmuwan Indonesia yang  pemikirannya selaras dengan pemikiran Habib Ali al-Jufri ialah Nadirsyah Hosen. Salah satu buktinya, Nadirsyah Hosen pernah mengakui dalam tulisanya  :

“Saya (Nadirsyah Hosen) memiliki kesesuaian pandangan dengan Habib Ali al-Jufri. Bukan saja beliau luas pandangannya tapi juga luwes sikapnya. Santun dalam berdakwah, tajam dalam berargumen.”

Habib Ali Zainal Abidin al-Jufri telah mengkritik keras terhadap golongan-golongan yang mengatas namakan Islam tapi perbuataanya sama sekali tidak mencerminkan Islam atau bahkan sangat jauh/melenceng dari ajaran Islam itu sendiri, misalnya seperti kasus bom bunuh diri, berdakwah dengan kekerasan, saling caci-mencaci dan semacamnya. Ia juga memberikan pemahaman bahwa orang-orang yang demikian ini adalah golongan orang yang keliru dalam memahami Islam.

Pentingnya Mengedepankan Rasa Kemanusiaan

Dalam salah satu bab di kitab al-Insaniyyah qabla at-tadayun, Habib Ali al-Jufri memberikan penjelasan bahwa manusia secara lahiriyah mempunyai potensi dan kedudukan yang sama, hanya saja ketakwaanyalah yang menjadi pembeda di sisi-Nya.

Oleh sebab, itu tidaklah pantas jika sesama manusia saling mencaci, intoleran, dan semacamnya karena adanya perbedaan pendapat. Banyak sekali hadits yang memberikan rambu-rambu kepada umat Islam agar nilai-nilai kemanusiaan harus didahulukan sebelum keberagamaan diantara hadits tersebut ialah :

ما أنت فقال نبي فقلت وما النبي فقال رسول الله فقلت ومن أرسلك قال الله عز و جل قلت بماذا أرسلك فقال بأن توصل الأرحام وتحقن الدماء وتؤمن السبل وتكسر الأوثان ويعبد الله وحده لا يشرك به شيء

‘‘Amr bin Abasah al-Sulami sebelum memeluk agama Islam Islam ia pernah bertanya kepada Rasulullah Saw : siapa engkau? Nabi Saw menjawab; saya Nabi, kemudian ia (Amr) bertanya lagi; apa itu Nabi? kemudian Nabi Saw. menjawab; utusan Allah. Ia (amr) kembali bertanya lagi dengan apa kamu diutus? kemudian Nabi Saw menjawab; dengan menyambung silaturahmi, melindungi darah, mengamankan jalan, menyembah Allah Ta’ala dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun. (HR. Ahmad)

Hadits di atas diriwayatkan oleh ‘Amr bin Abasah al-Sulami, namun dalam hal ini Habib Ali al-Jufri hanya mengambil poin pentingnya saja seperti redaksi di atas, dan ia juga memberi penegasan bahwa hadits tersebut menyimpan pelajaran yang sangat berharga dan kebanyakan manusia lalai akan hal itu. Sebagaimana  redaksi hadits di atas diinterpretasikan oleh habib Ali al-Jufri sebagai berikut:

  1. Menyambung Silaturrahim ditafsiri oleh Habib Ali al-Jufri: menjadikan masyarakat yang rukun dan damai.
  2. Mencegah pertumpahan darah ditafsiri oleh Habib Ali al-Jufri: menjaga hak hidup.
  3. Mengamankan jalan ditafsiri oleh Habib Ali al-Jufri: menciptakan rasa aman kepada khalayak umum.

Dari uraian di atas sudah terlihat sangat jelas bahwa Nabi Muhammad Saw. sebelum menjelaskan tauhid terlebih dahulu menjelaskan nilai-nilai kemanusiaan yang harus diperhatikan oleh umat Islam.

Setelah Nabi Saw menjelaskan ketiga poin tersebut  barulah Nabi Muhammad Saw. memasukan nilai-nilai tauhid untuk memberikan penegasan bahwa tiada Tuhan yang wajib disembah selain Allah.  Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa kemanusiaan hendaknya didahulukan sebelum keberagamaan.

Sistematika dan Karakteristik

Nama al insaniyyah qabla at tadayun sendiri adalah cuplikan dari salah satu bab di kitab tersebut, tepatnya pada bagian keempat yang membahas konsep tentang kemanusiaan harus didahulukan sebelum keberagamaan. Nilai-nilai yang terdapat dalam kitab tersebut mengindikasikan kepada sikap moderat yang sesungguhnya.

Tegasnya, esensi moderat adalah kemanusiaan yang harus didahulukan sebelum keberagamaan. Karena kemanusian adalah sebuah tempat, yang mana tempat tersebut akan dituangkanya nilai agama, sehingga dengan agama tadi akan membentuk bentuknnya seseorang. Walhasil, jikalau tempat itu kotor, maka  akan kotor pula pemahamannya.

Poin pentingnya ialah terletak pada rasa (dzauq), artinya seseorang tidak mempunyai rasa atau bahkan hilang, maka hal itulah yang memicu terjadinya kekerasan, intoleran, dan semacamnya.

Begitu juga sebaliknya, jika dalam diri tertanam rasa kemanusiaan yang mendalam serta mendahului keberagamaannya, maka nilai-nilai Islam akan terjewantahkan meski berada di era disrupsi ini.

Adapun terkait sistematika pembahasan dalam kitab tersebut Habib Ali al-Jufri mengklasifikasikan menjadi delapan tema besar dan setiap tema besar tersebut terdapat anak bab yang saling relevan, delapan bab tersebut ialah:

Bagian awal, berisi tentang kritikan-kritikan untuk diri sendiri yang memuat tiga pembahasan dimulai dari bab, Kunjungan dokter gigi; Dosa tersembunyi dan Saya fanatik.

Bagian kedua, berisi tentang kritik untuk dakwah islami yang memuat empat belas pembahasan dimulai dari bab, Nasihat dari seorang yang mencintaimu; Sebuah surat dari seseorang yang mencintaimu; Tanggapan Hasan Hilmi atas sebuah surat dari seseorang yang mencintaimu; Tanggapan atas kritik Hasan Hilmi; Guru izinkan saya berbeda; Perbedaan seorang muslim dan islamis; Wahai para dai, inilah mimbar Nabi; Carilah syariah yang lain; Tangisan Asma; Ya Allah, jangan jadikan kami cobaan bagi orang beriman;  Fatwa kematian yang salah; Semoga Allah tidak memaafkanmu; Kami tidak menoleransi penghinaan terhadap Rasulullah; Kami tidak akan tinggal diam.

Bagian ketiga, berisi mengenai seputar pemuda yang terdiri dari sembilan pembahasan dimulai dari bab, Masalah kaum muda; Kaum muda dan kita; Ketika yang tua tidak lebih baik dari yang muda; Kontes bernyanyi dan bertarung di Sinai;  Mereka membuatku menjadi ateis; Apakah ini ateisme atau pencarian kebenaran; Mencari akar penyebab kekerasan; Bisikan ditelinga kaum muda.

Bagian keempat, berisi tentang konsep-konsep yang terdiri dari tiga belas pembahasan dimulai dari bab, Kemanusiaan sebelum keberagamaan; Gagasan lain tentang ‘Yang Lain’; Nelson Mandela peringatan untuk kita semua; Persekutuan kebajikan; Perang Fijar; Investasi sang nabi; Bagaimana memahami kesalahan para sahabat; Kritik atau fitnah; Pekerjaan sosial berintegritas; Orang-orang istimewa; Kelahiran mulia; Kamu telah menyingkirkan yang lain seputar ucapan selamat Natal; Bertuturlah yang baik.

Bagian kelima, berisi seputar “Kafir” yang memuat tiga pembahasan dimulai dari bab, Siapakah orang kafir; Takfir politis; Melawan pemikiran takfiri.

Bagian keenam, berisi tentang keseimbangan yang memuat empat belas pembahasan dimulai dari bab, Pria yang menzalimi nabi; Sebuah visi yang jernih; Mengevaluasi nilai-nilai kita; Jujur; Ancaman terhadap moral; Ulama penguasa dan ulama rakyat; peringatan serius; penyalahgunaan syariah; Permintaan maaf kepada Galileo; Apakah Neil Amstrong orang pertama di Bulan; Hentikan kebencian; Janggut dan gamis; Pembantaian di Syuriah; Krisis kemanusiaan di Afrika tengah.

Bagian ketujuh, berisi seputar kaum ilite intelektual yang memuat empat pembahasan dimuali dari bab, Sindrom sarang lebah; Sepuluh pertanyaan untuk filsuf, pemikir dan kaum yang berintelektual; Itulah ketabahan; Revolusi intelektual.

Bagian kedelapan, berisi tentang Nabi Muhammad yang memuat tiga pembahasan dimuali dari bab, Panduan telah lahir; Kelahiran belas kasih; Hendaklah mereka bergembira.

Catatan penulis,  kitab al-insaniyyah qabla al-tadayun jika dipandang secara sekilas, maka akan terkesan kontroversial, padahal jika ditelaah secara mendalam isinya sama sekali tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Karena Habib Ali al-Jufri tidak mengatakan kemanusiaan mendahului agama (al insaniyyah qabla al-din) melainkan mengatakan al-insaniyyah qabla al-tadayun (kemanusiaan mendahului keberagamaan), dalam setiap tema ke tema banyak untaian hikmah yang mengindikasikan tentang urgensi kemanusiaan dan nilai-nilai moderatisme.

Hal tersebut juga menjadi ciri khas Habib Ali al-Jufri ketika berdakwah yang selalu mengemas ajaran agama dengan perilaku kemanusiaan,  yang mana dengan perilaku  tersebut setiap orasi Habib Ali al-Jufri mampu menembus relung-relung hati para pendengarnya.

Tegasnya, mendahulukan kemanusiaan sebelum keberagamaan merupakan konsep yang ideal di masa kekinian untuk mendekati maupun mengajak seseorang kembali kepada nilai-nilai Islam secara kaffah.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *