Al-Qur’an dan Ramadhan (4): Jangan Tidur Melulu Saat Puasa

tidur saat puasa hukumnya

Ramadhan sejatinya meningkatkan intensitas dan kualitas kebajikan seseorang, karena aktivitas kebajikan seseorang—apapun bentuknya—pahalanya akan dilipat gandakan. Namun, pada kasus beberapa orang, berpuasa justru membuatnya memperbanyak tidur.

Bagaimana pun, kendati tidak dilarang, banyak tidur di bulan Ramadhan berarti membuang banyak kesempatan untuk berbuat kebajikan, dan itu berarti menghilangkan kesempatan untuk memperoleh pahala yang berlipat.

Padahal, ketakwaan yang menjadi tujuan pokok puasa seharusnya membuat orang yang berpuasa tidak tidur melulu. Coba kita renungkan lagi penggalan ayat surat al-Baqarah/2 ayat 183:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu “agar” kamu bertakwa.”

Baca juga :  Al-Qur’an dan Ramadhan (1): Tafsir Ayat Puasa

Kita fokus pada ungkapan “la`allakum tattaqun” (agar/mudah-mudah-mudahan/pasti kamu bertakwa).

Pada ayat ini, yang menjadi tujuan pokok berpuasa adalah meraih ketakwaan. Ini bukan hanya persoalan sebuah pemberitaan dari Allah, tetapi juga ajaran tentang cara meletakkan niat atas suatu pekerjaan yang akan kita lakukan. Sebab, kualitas sebuah aktivitas sangat ditentukan oleh niatnya.

Kata Abdullah bin al-Mubarak, “Kam min amalin kabirin shaghgharathu al-niyyah, wa kam min amalin shaghirin kabbarathu al-niyyah”. Artinya, banyak aktivitas besar direndahkan kualitasnya oleh niat (pelakunya); Dan banyak aktivitas kecil/remeh ditinggikan kualitasnya oleh niat (pelakunya).

Puasa Ramadhan menjadi sebuah aktivitas berkualitas tinggi/mulia jika niatnya—sebagaimana ayat di atas—untuk meraih ketakwaan. Namun, jika niatnya hanya menjalan rutinitas, termasuk rutinitas “tidur melulu”, maka kualitasnya pun akan rendah.

“Tattaqun” pada ayat di atas adalah bentuk kata kerja (fi`il mudhari`). Dalam gramatika Bahasa Arab memberikan fungsi makna tajaddud  (diperbaharui dan terus menerus dipertahankan), hal (kesekarangan) dan istiqbal (keakandatangan).

Untuk mencapai hal ini, seseorang harus giat, harus rajin, dan tidak menyia-nyiakan waktu di bulan Ramadhan. Maka, banyak tidur di bulan ini bertolak belakang dengan tujuan puasa itu sendiri.

“Tattaqun” itu seakar maknanya dengan kata “takwa”. Menurut beberapa kitab tafsir, ada beberapa makna dari kata tattaqun.

Pertama, meninggalkan makan, minum, dan hubungan suami istri setelah imsak sampai maghrib dengan niat menjalankan perintah Allah dan mengharap pahala-Nya.

Kedua, menjauhi dan meninggalkan keharaman-keharaman, termasuk di dalamnya perbuatan-perbuatan yang diharamkan dilakukan oleh orang yang sedang berpuasa, seperti makan dan minum.

Ketiga, menjaga diri dari murka Allah SWT. dan mengharap keridaan-Nya dengan cara menjalankan puasa dengan sebaik-baiknya.

Baca juga :  Al-Qur’an dan Ramadhan (2): Ibadah di Rumah Menurut Islam

Sebenarnya, tiga makna itu bisa digabungkan: Tujuan utama puasa adah bertakwa dengan menjalankan puasa sebaik-baiknya, mulai dari meninggalkan hal-hal yang dilarang dilakukan orang yang berpuasa (seperti makan dan minum), dan meninggalkan keharaman-keharaman umumnya. Tujuan itu semua adalah untuk menghindari murka Allah dan meraih rida-Nya.

Aktivitas Positif Saat Puasa

Ada banyak aktivitas positif yang dapat dilakukan di rumah untuk menggapai tujuan mulia puasa tersebut. Yang berkairan dengan Al-Qur’an sendiri, kita bisa melakukan banyak aktivitas positif.

Mulai dari membacanya, membenarkan cara bacanya, membaca terjemahannya, membaca tafsirnya, mendengar lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an, mendengarkan bacaan imam-imam Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, melihat gambar-gambar kaligrafi, mendengar tausiah berkaitan dengan al-Qur’an, belajar ilmu-ilmu al-Qur’an, dan lain sebagainya.

Itu baru berkaitan dengan Al-Qur’an, belum lagi jika berkaitan dengan hadits, sirah nabawiyyah, pelajaran tauhid, pelajaran akhlak, pelajaran fiqih, pelajaran sejarah, pelajaran peradaban Islam, pelajaran politik Islam, pelajaran ekonomi, pelajaran psikologi, dan lain sebagainya.

Atau bisa juga dengan cara melakukan inovasi-inovasi dari rumah. Mulai dari sharing ilmu melalui media sosial, ceramah live melalui media sosial, menulis buku, mengedit buku, membuat resep baru, merumuskan ilmu, dan lain sebagainya.

Jadi, masih relakah kita kehilangan banyak kesempatan untuk melakukan hal-hal positif di bulan Ramadhan, yang nota bene itu semua bisa dinilai sebagai sebuah aktivitas ibadah jika diniatkan untuk Allah?

Baca juga :  Al-Qur’an dan Ramadhan (3): Work From Home dalam Surat Taubah Ayat 105

Marilah kita isi Ramadhan ini dengan banyak aktivitas positif. Sedikitkan tidur. Mudah-mudahan tujuan utama berpuasa dapat kita raih bersama.

Subhanallah. Begitu dalam dan indah makna yang diperlihatkan ayat di atas. Wallahu a`lam bish-shawab. (mzn)

Tulisan ini disarikan dari Gerakan Peduli Bahasa Al-Quran.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.