Al-Qur’an, Spektrum yang Tak Bertepi

Daya magnet Al-Qur’an memang sangat luar biasa. Kitab Suci ini menjadi pusat perhatian para pembacanya untuk berbagai motif. Sehingga melahirkan berbagai disiplin keilmuan yang terus berkembang untuk mempelajari berbagai sisi aspek dan dimensi Al-Qur’an.

Dari hanya sekedar keingintahuan sampai dengan kecanduan dengannya. Dari hanya sekedar membacanya sampai keinginan untuk mengamalkannya. Dari hanya sekedar lihat-lihat sampai keinginan untuk mendalaminya. Dari hanya sekedar mengkritiknya sampai keinginan untuk mengaguminya. Al-Qur’an adalah Kitab Suci yang menjadi pusat perhatian sepanjang masa.

Apa sebenarnya yang menarik perhatian dari Al-Qur’an? Semuanya. Tulisannya. Ya, orang menarik untuk mempelajarinya.

Darinya kemudian lahir Ilmu Rasm, yakni ilmu yang menjelaskan seluk-beluk dan sejarah tulisan Al-Qur’an. Darinya kemudian lahir karya-karya seni menulis Al-Qur’an (kaligrafi) yang cukup mengagumkan.

Darinya kemudian lahir ilmu-ilmu bahasa Al-Qur’an: Badi’, Bayan, Ma`ani, Semantik, Semiotik, Hermeneutik, dan lain sebagainya. Darinya kemudian lahir Ilmu Mujarrabat, semacam cara pengobatan dengan menggunakan tulisan-tulisan Al-Qur’an.

Cara membacanya. Ya, orang menarik untuk mempelajarinya. Darinya kemudian lahir Ilmu Qiraat, ilmu yang mendalami variasi cara membaca Al-Qur’an. Darinya kemudian lahir seni membaca Al-Qur’an. Berbagai langgam pun tercipta. Para qari pun bermunculan di mana-mana.

Darinya kemudian lahir teknik cepat bisa membaca Al-Qur’an. Orang berlomba-lomba menawarkan cara cepat bisa membaca Al-Qur’an. Darinya kemudian lahir teknologi cara membaca Al-Qur’an dengan berbagai media.

Baca juga :  Ajaran Silaturahim Menurut Tafsir Al-Qur'an

Harakatnya. Ya, orang menarik untuk mempelajarinya. Darinya kemudian lahir Ilmu Nahwu dan Sharaf, ilmu yang mempelajari aturan-aturan gramatika Bahasa Arab. Kenapa diharakati dhammah, fathah, kasrah, dan seterusnya. Diskusi tentang ini pun kemudian menghiasi kitab-kitab tafsir yang terus bermunculan dan tak berhenti.

Susunannya. Ya, orang menarik untuk mempelajarinya. Darinya kemudian lahir Ilmu Munasabat, ilmu yang mempelajari sisi korelasi antar bagian-bagian Al-Qur’an. Kenapa ayat ini muncul setelah ayat itu, kenapa tema ini menyertai tema itu, kenapa surat ini namanya ini, kenapa surat ini muncul setelah surat itu, dan lain sebagainya.

Darinya kemudian lahir kajian tentang tadwin Al-Qur’an, kajian tentang sejarah penyusunan ayat-ayat Al-Qur’an. Muncul pula Tarikh Al-Qur’an, uraian tentang tahapan-tahapan proses turunnya Al-Qur’an.

Nama suratnya. Ya, orang menarik untuk mempelajarinya. Kenapa surat Al-Qur’an yang panjang dan tema-temanya beragam kemudian dinamai Al-Baqarah (Sapi Betina)? Siapa yang menyematkan nama-nama surat itu? Apa kaitan nama tersebut dengan kandungannya? Apakah nama itu taufiqi atau tauqifi? Kenapa ada surat namanya lebih dari satu? Kenapa ada beberapa nama binatang menjadi nama-nama surat? Dan seterusnya.

Jumlah hurufnya. Ya, orang menarik untuk mempelajarinya. Lahirlah kajian-kajian tentang angka dalam Al-Qur’an. Ditemukanlah rahasia angka 19. Angka itu menjadi kelipatan dari bilangan jumlah huruf dalam surat tertentu.

Ada pula yang mengaitkan angka-angka dalam Al-Qur’an dengan karakter-karakter manusia. Ada pula yang mengaitkannya dengan fenomena-fenomena di jagat raya.

Baca juga :  Hikmah Haji Ditunda Menurut Tafsir Al-Qur’an

Magisnya. Ya, tidak sedikit orang yang mempelajarinya. Membaca ayat-ayat tertentu diyakini dapat menyembuhkan penyakit tertentu, atau dapat menarik manfaat dan mencegah bahaya, atau dapat mendatangkan kekuatan tertentu. Tak sedikit orang merasa aman meski hanya sekedar membawa mushaf dalam tasnya.

Ornamennya. Ya, tidak sedikit orang yang mempelajarinya. Seni penghias tampilan Al-Qur’an membuat banyak orang penasaran. Orang lalu mengaitkan  ornamen tersebut dengan kebudayaan masyarakat tertentu yang menuliskan mushaf. Ada ornamen khas wilayah Arab, wilayah Turki, bahkah wilayah Nusantara.

Bahasanya. Ya, tidak sedikit orang yang mempelajarinya. Kenapa menggunakan bahasa Arab? Ilmu Filologi dan Ilmu Sabab Nuzul punya keterkaitan kuat dengan aspek ini. Lalu, orang kemudian diwajibkan untuk mempelajari Bahasa Arab jika mau mempelajari Al-Qur’an. Orang harus mempelajari sosio-kultural masyarakat Arab saat pertama kali Al-Qur’an turun jika hendak mendalami kandungannya.

Gaya bahasanya. Ya, tidak sedikit orang yang mempelajarinya. Memuji, menghardik, memerintah, melarang, mencela, menganalogi, membandingkan, memancing pikiran, mengajak, mendebat, mematahkan, menginspirasi, dan mendorong adalah sebagian gaya bahasa yang mewarnai ayat-ayat Al-Qur’an. Peralihan yang tiba-tiba dari satu gaya ke gaya yang lain tidak dijarang ditemukan di dalamnya.

Kandungannya. Ya, bagian ini adalah yang paling banyak menarik perhatian orang. Lahirlah banyak ilmu karena mempelajari kandungannya: Ulumul Qur’an, Ilmu Tafsir, Ushul Tafsir, Qawaid Tafsir, dan lain sebagainya. Tertulislah jutaan jilid kitab tafsir dengan berbagai metode dan aliran, dengan berbagai perspektif, dengan berbagai pendekatan, dengan berbagai orientasi.

Baca juga :  Munasabah Al-Qur'an: Memahami Pertautan Kandungan Kitab Suci (1)

Kandungan Al-Qur’an tidak pernah akan habis digali. Semakin ke dalam seseorang menyelam, semakin banyak kandungan ia dapatkan. Al-Qur’an adalah lautan yang tak bertepi. Ia adalah lautan yang kedalamannya tak bertepi. Demikian sebuah hadits mengatakan.

Spektrum Al-Qur’an tak bertepi. Dari sisi apa saja Al-Qur’an dikaji selalu melahirkan temuan-temuan baru yang mengagumkan. Ia akan terus menjadi Kitab Suci yang menarik dipelajari kapan pun, di mana pun, oleh siapa pun, dan dengan motif apa pun.

Subhanallah. Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai Kitab Suci yang memiliki spektrum tak bertepi. Wallahu a`lam.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *