Al-Walid bin Al-Mughirah, Penyair yang Terpesona pada Al-Qur’an

Salah satu kehebatan al-Qur’an ada pada susunan bahasanya yang amat indah memesona, dan tak akan bisa ditiru oleh siapa pun. Siapa pun yang mendengarnya, mempelajarinya, atau membacanya pasti akan terpesona dengan keindahannya.

Ya…, meskipun ada yang menyembunyikan keterpesonaannya akan al-Qur’an. Namun, pada dasarnya, al-Qur’an tetaplah amat memesona.

Tersebut dalam “Hayat Muhammadkarya Muhammad Husain Haekal, sebuah kisah tentang seorang nonmuslim Quraisy yang terpesona dengan keindahan bahasa al-Qur’an. Namanya adalah Walid bin al-Mughirah, seorang ahli syair bangsa Arab kala itu.

Dikisahkan, setelah Nabi Muhammad saw mulai mengajak orang-orang dari berbagai kabilah Arab yang datang ziarah ke Mekah untuk masuk Islam. Beberapa pemuka Quraisy kala itu berkumpul di rumah al-Walid bin al-Mughirah untuk membahas bagaimana propaganda yang pas dalam upaya menghalau dakwah Nabi Muhammad saw.

Para pemuka Quraisy ingin menyamakan persepsi dan pola gerakan dalam upaya membuat propaganda. Mereka ingin menjatuhkan (mencemarkan) nama baik Nabi saw, agar orang-orang luar Mekah yang datang berziarah tak mau mendekatinya, bahkan kalau bisa sampai membencinya. Semua upaya itu, sebab para pemuka Quraisy takut kalau-kalau akan banyak orang luar Mekah yang masuk Islam.

Mereka pun berdiskusi untuk menyamakan materi propaganda. Ada seorang yang memberi usul, agar mereka melancarkan tuduhan kalau Muhammad adalah seorang dukun yang harus dijauhi. Mendengar usul itu, si tuan rumah, al-Walid bin al-Mughirah, menolaknya. Karena dalam pandangannya, apa yang dikatakan Muhammad bukan seperti mantra seorang dukun.

Baca juga :  Zamzam, Makkah, dan Mesopotamia

Ada lagi yang  mengusulkan agar mereka menyebut Muhammad sebagai orang gila. Al-Walid juga menolaknya. Karena tak ada sedikit pun ciri-ciri kegilaan pada diri Muhammad.

Ada yang mengusulkan agar menuduh Muhammad sebagai tukang sihir, namun al-Walid kembali menolaknya. Sebab Muhammad tak menampakkan aktivitas seorang penyihir.

Akhirnya, al-Walid mengusulkan agar kepada orang-orang Arab dari luar Mekah dikatakan, kalau Muhammad adalah juru penerang yang pandai bicara plus memesona. Sehingga apa pun yang dikatakannya akan memikat, ujung-ujungnya dapat memecah belah suami-istri, anak-orang tua, dua bersaudara, bahkan bisa memecah bela kabilah.

Tak lupa juga dijelaskan, kalau Muhammad sudah berhasil memecah bela masyarakat Kota Mekah. Sehingga anak berpisah dari orang tua, istri bercerai dari suami, dan sebagainya. Padahal, sebelumnya penduduk Mekah adalah contoh terbaik mengenai persatuan.

Demikian propaganda yang diusulkan al-Walid. Semua itu, jelas merupakan propaganda yang amat kejam pada Nabi Muhammad saw. Sebab, sebenarnya, ajaran yang didakwahkan Nabi saw justru mengajarkan bakti anak pada orang tua, kehidupan suami-istri yang harmonis, dan bisa memperkokoh persatuan bangsa.

Propaganda yang dilakukan oleh para pemuka Quraisy, pada akhirnya justru menjadi iklan akan keberadaan Nabi saw. Orang-orang dari luar Mekah justru berpikir, kalau memang Muhammad adalah juru penerang yang memesona dan yang diterangkannya merupakan kebenaran, apa salahnya mengikutinya. Sehingga malah jadi banyak orang luar Mekah yang mendatangi Nabi saw.

Baca juga :  Soekarno dan Islam dalam Pidato 1 Juni 1945

Dalam kisah ini, kita bisa melihat kalau al-Walid punya sedikit respect pada Nabi saw, dan juga menggunakan akalnya dalam diskusi itu. Sehingga saat ada yang mengusulkan untuk mencemarkan nama baik Nabi saw dengan cara mengatainya sebagai dukun, dia justru menolak usulan itu lantas mengatakan kalau apa yang dibaca Muhammad (al-Qur’an) bukanlah mantra.

Sikap al-Walid juga dipengaruhi oleh kekagumannya pada bahasa al-Qur’an. Sebab, meski tak masuk Islam, namun al-Walid juga termasuk pengagum bahasa al-Qur’an.

Kekaguman itu  bermula saat  dia mendengarkan bacaan ayat al-Qur’an. Di mana, sebelum pertemuan para pemuka Quraisy itu, Abu Jahal meminta al-Walid untuk coba mendengarkan al-Qur’an. Tujuannya adalah biar bisa tahu bagaimana kelemahan al-Qur’an dalam upaya menyusun propaganda untuk menghalau dakwah Nabi Muhammad saw.

Namun, tak diduga, al-Walid bin al-Mughirah malah terpesona dengan keindahan bahasa al-Qur’an, dia kemudian berkata, “Demi Allah! Tidak ada di dalam kalangan kita yang sepintar saya menilai syair-syair, yang mengenal rajaz-nya dan kadhid-nya. Demi Allah! Apa yang diucapkan oleh Muhammad itu tidak dapat diserupakan dengan sembarang syair pun.”

“Demi Allah! Kata-katanya ini manis didengar, indah diucapkan, puncaknya menimbulkan buah, dasarnya memancarkan kesuburan. Perkataan ini selalu di atas dan tak dapat diatasi, dan yang di bawahnya mesti hancur dibuatnya.” (Perkataan al-Walid bin al-Mughirah ini saya kutip dari “Tafsir Al-Azhar”-nya Buya Hamka, sebab tak dituliskan dalam “Hayat Muhammad”-nya Haekal).

Baca juga :  Ibnu Sina, Ilmuan Muslim Perancang Karantina Saat Terjadi Wabah

Buya Hamka menjelaskan, “Al-Walid tidak masuk Islam, dia tetap dalam kufur. Akan tetapi, inti kebenaran dalam keistimewaan al-Qur’an tidak dapat dibantahnya. Dia tidak dapat memutar-balik kenyataan. Sebab itu, al-Qur’an memengaruhi juga orang yang memusuhinya, sebagaimana memengaruhi orang yang beriman kepadanya.”

Demikian, kisah al-Walid bin al-Mughirah ini menggambarkan betapa hebatnya al-Qur’an, mukjizat utama Nabi saw. Bahkan, nonmuslim pun bisa terpesona akan keindahannya. Seharusnya, sebagai muslim, kita pun harus bisa merasakan keindahan al-Qur’an, baik dengan mendengarnya, membacanya, dan utama mengamalkannya.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *