Apakah Orang Pingsan Wajib Qadha Shalat?

qadha

Termasuk syarat-syarat wajibnya shalat bagi seorang Muslim adalah baligh dan berakal. Oleh karenanya shalat tidak wajib bagi anak kecil dan orang yang tidak memiliki akal, seperti orang yang sedang pingsan.

Hal ini berdasarkan Hadis riwayat dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثٍ عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّغِيرِ حَتَّى يَكْبُرَ وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ أَوْ يَفِيقَ

Ada tiga orang yang catatan amalnya diangkat (tidak ditulis): Orang yang tidur sampai ia bangun, anak kecil samapi ia baligh, dan orang gila sampai ia tersadar. (HR.al-Nasai: 3445, Ahmad: 1195, al-Turmudzi: 1488).

Pada Hadis di atas, orang gila tidak dikenai kewajiban apa pun sebagaimana orang yang sedang pingsan sebab keduanya sama-sama tidak memiliki akal. Selanjutnya, para ulama berbeda pendapat dalam menentukan hukum bagi orang yang pingsan, apakah ia wajib meng-qadha shalatnya ketika sudah sadar?

Mazhab Hanafi

Pertama, ulama Hanafiyah berpendapat, jika pingsannya melebihi sehari-semalam, maka ia tidak wajib qadha shalat. Sebaliknya, jika hanya sehari-semalam atau kurang dari itu, maka wajib qadha shalat.

Dalam  kitab Multaqa al-Abhur dikatakan:

ومن أغميَّ عليه أو جن يوماً وليلة قضى ما فات وإن زاد ساعة لا يقضي

Orang yang pingsan atau gila sehari-semalam, ia wajib mengqadha shalat yang ditinggalkan. Jika pingsannya lebih dari itu, sekalipun lebihnya hanya sebentar, maka ia tidak wajib mengqadha shalatnya. (Ibrahim al-Halabi, Multaqa al-Abhur, Juz 1, Halaman 231)

Baca juga :  Niat Sholat Tarawih Sebagai Makmum [Arab, Latin dan Artinya]
Mazhab Maliki

Kedua, ulama Malikiyah menyatakan, orang yang pingsan tidak wajib melakukan qadha shalat, berapa pun jeda waktunya. Menurut mereka, orang pingsan adalah orang yang kehilangan akal yang mana hal itu membuatnya tidak terkena tuntutan syariat.

Ibnu Abdi al-Bar menjelaskannya di dalam kitab al-Kafi fi Fiqh Ahli Madinah:

ولا يقضي المغمى شيئا من الصلوات لأنه ذاهب العقل ومن ذهب عقله عليه في وقت صلاة يدرك منها ركعة لزمه فليس بمخاطب فإن افاق المغمى عليه في وقت صلاة يدرك منها ركعه لزمه قضاءها

Orang yang pingsan, tidak wajib meng-qadha shalat karena selama rentang waktu shalat akalnya hilang. Orang yang hilang akalnya tidak terkena kewajiban shalat. Namun jika ia telah tersadar, sementara waktu shalat masih cukup untuk mengerjakan satu rakaat, maka ia wajib mengerjakannya. (Ibnu Abdi al-Bar, al-Kafi fi Fiqh Ahli al-Madinah, Juz1, Halaman 237)

Mazhab Syafii

Ketiga, ulama Syafiiyah sependapat dengan Ulama Malikiyah, orang yang pingsan (seberapa pun lamanya) tidak wajib meng-qadha shalatnya.

Imam al-Nawawi mengatakan dalam kitab al-Majmu’:

من زال عقله بسبب غير محرم كمن جن أو أغمى عليه أو زال عقله بمرض أو بشرب دواء لحاجة أو اكره علي شرب مسكر فزال عقله فلا صلاة عليه وإذا أفاق فلا قضاء عليه بلا خلاف للحديث سواء قل زمن الجنون والاغماء ام كثر

Orang yang kehilangan akal dengan sebab yang tidak terlarang, seperti orang gila atau tidak sadar, baik tidak sadarnya sebab sakit atau minum obat yang dibutuhkan, atau dipaksa minum khamr, sehingga mabuk, maka baginya tidak ada kewajiban shalat.

Jika sudah sadar, ia juga tidak punya kewajiban qadha, tanpa ada perbedaan pendapat di kalangan ulama madzhab Syafi’i, baik pingsannya sebentar ataupun lama. (Yahya Ibnu Syaraf, al-Majmu’, Juz 3, Halaman 6)

Baca juga :  Ketika Imam Al-Ghazali Salatnya Tidak Khusu’
Mazhab Hambali

Keempat, dalam mazhab Hambali dikatakan orang pingsan wajib meng-qadha shalat, seberapa pun lama pingsannya. Menurut mereka analogi orang yang pingsan lebih dekat kepada orang yang tidur dari pada orang gila. Sehingga orang pingsan dihukumi sebagaimana orang tidur yang wajib meng-qadha shalatnya,

Di dalam kitab al-Inshaf fi Ma’rifati Ar-Rajih min Al-Khilaf karya Imam al-Mardawi dijelaskan:

وأما المغمى عليه فالصحيح من المذهب: وجوبها عليه مطلقا نص عليه في رواية صالح وبن منصور وأبي طالب وبكر بن محمد كالنائم وعليه جماهير الأصحاب

Orang yang pingsan, menurut pendapat yang benar dalam madzhab (Hambali), wajib meng-qadha shalat secara mutlak. Pendapat ini ditegaskan oleh Imam Ahmad riwayat dari Shalih, Ibnu Manshur, Abu Thalib, dan Bakr bin Muhammad, sebagaimana orang tidur. Ini merupakan pendapat mayoritas madzhab Hambali. (Imam al-Mardawi, al-Inshaf al-Inshaf fi Ma’rifati Ar-Rajih min Al-Khilaf, Juz1, Halaman 277)

Wallahu a’lam bis shawab.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.