Asy-Syifa’ Binti Abdullah, Pendidik Perempuan Masa Jahiliyah

Asy-Syifa’ Binti Abdullah, Pendidik Perempuan Masa Jahiliyah

Di era digital yang semakin canggih seperti sekarang ini, umat manusia dituntut untuk mengembangkan dirinya untuk tanggap dan aktif terhadap perkembangan zaman. Di era milenial ini, manusia sepatutnya mengembangkan dirinya menjadi pribadi yang cerdas, inovatif, dan memiliki keilmuan yang tinggi. Tak terkecuali kaum perempuan.

Dalam dunia keilmuan Islam, kini banyak perempuan-perempuan cerdas muncul. Tapi tahukah kamu, dalam sejarah peradaban Islam, terdapat salah satu sahabat perempuan Nabi yang cerdas dan memiliki semangat untuk mengembangkan Islam?

Dalam kitab al-Ishabah karya Al-hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani disebutkan bahwa ada salah satu sahabat perempuan nabi yang  berkontribusi sangat besar dalam perkembangan agama Islam. Beliau adalah Asy-Syifa’ binti Abdullah.

Nama lengkapnya adalah Asy-Syifa binti Abdullah bin Abdu Syams bin Khalaf bin Saddad bin Abdullah bin Qarth bin Razzah bin Adi bin Ka’ab Al-Qurasyiah Al-Adawiyah. Nama julukannya adalah Ummu Sulaiman. Asy-Syifa’ termasuk sahabat perempuan nabi generasi awal dari suku Quraisy yang memeluk agama Islam.

Sebelum memeluk Islam, Asy-Syifa’ dikenal sebagai seorang perempuan yang pandai dalam membaca dan menulis. Selain itu dia juga ahli dalam bidang ruqyah (berobat dengan perantara doa). Masyarakat jahiliah juga mengenalnya sebagai perempuan yang baik budi pekertinya.

Baca juga :  Perempuan dan Kemerdekaan dalam Perspektif Islam

Setelah masuk Islam, Asy-Syifa’ berhenti melakukan ruqyah. Namun oleh Rasulullah saw., praktik semacam itu tetap dizinkan. Bahkan Rasulullah memerintahkan Asy-Syifa’ untuk mengajar ruqyah kepada salah satu istri beliau, yaitu Sayidati Hafshah binti Umar bin Khathab.

Pendidik Perempuan dan Perawi Hadis 

Kemahiran dan kecerdasan Asy-Syifa’ binti Abdullah  semakin tinggi setelah masuk Islam. Hal tersebut ditandai dengan pengabdian dirinya sebagai pendidik bagi perempuan-perempuan muslim. Dengan kelebihannya itu, Asy-Syifa’ berhasil menjadi guru yang mencerdaskan kaum perempuan dari kejahiliahan sebelum mereka memeluk agama Islam. Tujuannya tak lain hanya ingin mengharap pahala dan keridloan dari Allah Swt.

Selain dikenal sebagai guru perempuan di era awal peradaban muslim yang cerdas, Asy-Syifa’ juga sangat dihormati oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Hal tersebut tak bisa dilepaskan dari kebijaksanaan dan kewibawaannya yang dilandasi dengan keimanan. Rasulullah pun memiliki kedekatan dan perhatian khusus terhadap Asy-Syifa’. Sampai-sampai Rasulullah menghadiahkan sebuah rumah di Madinah yang kemudian ia tempati bersama anaknya, Sulaiman.

Asy-Syifa binti Abdullah  juga salah seorang ahabiyah perawi hadis. Ia meriwayatkan hadis dari nabi saw. dan juga dari Umar bin Khatab. Hal tersebut dilakukannya karena ia banyak belajar hadis secara langsung dari Rasulullah untuk memahami masalah-masalah keagamaan dan keduniaan. Jadi tak aneh lagi jika ia juga kerap kali berdakwah dan memberi nasihat kepada masyarakat yang lain.

Baca juga :  Sehat: Perempuan dan Perabot

Perjuangannya terhadap Islam tak sampai disitu. Pasca Rasulullah saw. wafat, Asy-syifa binti Abdullah tetap berdakwah dan menjadi guru mulia. Umar bin Khatab ra., salah satu sahabat terdekat Rasulullah pun memuji kecerdasan dan ide-ide cemerlang darinya. Maka tak asing lagi jika sahabat Umar ra. kerap sekali menerima saran dan pendapat darinya.

Bahkan ketika Umar ra. menjadi khalifah, sang Amirul mukminin juga memberi kepercayaan kepada Asy-Syifa’ untuk menjadi qadli hisbah ( orang yang bertugas menjaga dan mengawasi masalah pasar).

Asy-Syifa’ wafat pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khatab ra, yaitu sekitar tahun 20 Hijriah. Kontribusinya terhadap Islam pada saat ia masih hidup tak diragukan lagi. Perjuangan untuk mendidik para perempuan agar menjadi pejuang-pejuang Islam yang cerdas dan berakhlak mulia tidak bisa dianggap sepele.

Asy-Syifa’ bukan hanya dikenal sebagai guru bagi kaum perempuan pada masa transisi Jahiliyah menuju Islam, namun lebih dari itu ia juga teladan bagi para kaum perempuan muslim generasi awal untuk menjadi perempuan yang pandai, cerdas, berakhlak dan berwibawa. Serta termasuk ilmuwan perempuan muslim pertama dalam sejarah peradaban Islam.

Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat ini, Sosok Asy-Syifa binti Abdullah sudah sepatutnya menjadi teladan bagi para perempuan milenial. Dunia Islam sangat membutuhkan perempuan yang pandai dan cerdas dalam menyikapi perkembangan zaman. Juga harus diimbangi dengan moralitas yang baik sesuai ajaran agama Islam.

Baca juga :  Menyelami Ruang Gerak Perempuan Ulama Madura

Ketakwaan dan keimanan harus tetap menjadi landasan utama para milenial untuk mengawal kecanggihan teknologi dewasa ini. Hal tersebut akan menjadi suatu kebangkitan kaum Muslimah milenial dari krisis moral yang sudah mulai merusak karakter mereka. Dengan demikian maka dunia Islam akan melahirkan peradaban perempuan yang pandai, cerdas, bertakwa, berwibawa, bijak serta beriman.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.