Apik dan Mendidik

Ayat Puisi

Ayat Puisi, 1

Telah datang kepada kami
Seorang lelaki membaca ayat puisi
Ia bukan Nabi
Membawa sebuah tongkat
Berkepala mawar dikelilingi lebah
Berkata berulang kali
Masa depan milik orang-orang muda

Aku membayangkan mudanya penyair
Adakah mereka manusia pilihan
Bagaimana ayat puisi turun
Dibacakan tiap-tiap jiwa kesepian
Bicara apa pun dengan bahasa sastra
Bahasa keindahan
Tertulis di kitab puisi

Aku menjadi umat para pemuisi
Suatu kaum yang mempelajari kata-kata
Mengamalkannya dengan nyata
Bahkan jika aku tiada
Puisi harus tetap ada
Lahir, tumbuh, dan berkembang
Menghujam ke bumi naik ke langit

Indramayu, 2019

 

Ayat Puisi, 2

Adalah ayat-ayat puisi
Memberi bentuk pada lipatan wajah
Ladang menanam hutan gemuruh
Pada sebidang dada

Segalanya dari kata, kun
Lalu lahirlah dunia dan seisi
Penyair dan puisi
Galaksi menuju titik pusat abadi

Siapa meniup ruh pada kata
Memberi dua sayap dengan bulu berkilau
Biji-biji permata hikmah berguguran
Di dahi yang tersungkur ke tanah

Di langit kulihat lengkung puisi
Dua ujungnya adalah barat dan timur
Aku memunguti lapisan warna
Meletakkannya pada tempat mulia

Indramayu, 2019

 

Kasau-kasau Kamar

Mataku hanya menangkap kasau-kasau kamar
Rapuh seperti lengan-lengan tanganku
Bergetar ditimpa desau angin

Ringkih tubuh dengan peluh
Terbaring kepahitan dan noda dosa
Aku adalah manusia mati

Dapatkah kau membangkitkanku
Menegakkan tubuhku di kedua kaki
Berjalan sekalipun tertatih
Dan terseok merangkak bengkak

Atau hanya aku sendiri
Membangunkan tidur panjangku
Menggebas kemalasan bahkan culas
Lalu kutemukan wajahku yang baru

Indramayu, 2019

 

Terangguk-angguk di Malam Hari

Malam hari dan udara dingin
Di kursi goyang di sebuah ruang keluarga
Jalinan rotannya mulai mengendur
Barangkali usia telah mesra memagutnya

Kau terangguk-angguk menyadari
Betapa bulu waktu terus bergetar
Terbang jauh meninggalkan asalnya
Wajah pun sudah tak muda lagi

Tubuh membungkuk menyalakan kayu bakar
Adalah masa tua mencari kehangatan
Tapi anak-anak telah dengan kehidupannya
Hanya kesepian memberikanku sedih

Semoga hati tak pernah lupa
Sebelum kembali menjadi tanah dan debu

Indramayu, 2019

 

Payung Murung

Hujan membasahi payung
Kita berlindung

Panas membakar payung
Kita bernaung

Oh, payung-payung
Kutahu kau murung
Tercenung tanpa seorang menghitung
Betapa denganmu beruntung

Indramayu, 2019

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *