Apik dan Mendidik

Bagaimana Cara Alquran Diwahyukan?

Nabi Muhammad Saw, dalam hal menerima wahyu mengalami bermacam-macam cara dan keadaan. Alquran diturunkan kepada nabi Muhammad melalui perantaraan malaikat Jibril selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Dalam proses pewahyuannya, terdapat beberapa cara untuk menyampaikan wahyu yang dibawa malaikat Jibril kepada nabi Muhammad Saw.

Dalam Al Qur’an al kariim wa tarjamatu ma’anihi ila al lughah al indunisiyah (1971), diceritakan bahwasannya ada bermacam-macam cara dan keadaan nabi Muhammad Saw dalam menerima wahyu, beberapa cara dan keadaan itu adalah sebagai berikut;

Pertama, malaikat Jibril memasukkan wahyu ke dalam hati nabi Muhammad Saw. Dalam hal ini, Nabi tidak melihat sesuatu apapun, hanya merasa bahwa wahyu itu sudah berada di dalam kalbunya. Mengenai hal ini, Nabi mengatakan: “Ruhul Qudus mewahyukan ke dalam kalbuku”.

Kedua, malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi berupa seorang lelaki yang mengucapkan kata-kata kepadanya sehingga Nabi mengetahui dan dapat menghafal benar kata-kata itu.

Ketiga, wahyu datang kepada Nabi seperti suara gemerincingnya lonceng. Cara inilah yang amat berat dirasakan oleh Nabi. Kadang-kadang pada keningnya berpencaran berkeringat, meskipun turunnya wahyu di musim dingin. Kadang-kadang unta Baginda Nabi terpaksa berhenti dan duduk karena merasa amat berat bila wahyu turun ketika Nabi sedang mengendarai unta.

Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit: “Aku adalah penulis wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Aku lihat Rasulullah ketika turunnya wahyu ia seakan-akan diserang oleh demam yang keras dan keringatnya bercucuran seperti permata. Kemudian setelah selesainya wahyu turun, barulah beliau kembali seperti biasa.

Terakhir, malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi, tidak berupa seorang laki-laki, tetapi benar-benar sebagaimana rupa aslinya. Hal ini sebagaimana yang terdapat dalam Alquran surat (53) An Najm ayat 13 dan 14.

وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى (١٣) عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (١٤)

Artinya: “Sesungguhnya Muhammad telah melihatnya pada kali yang lain (kedua). Ketika (ia berada) di Sidratulmuntaha”

Itulah tadi cara-cara dan keadaan nabi Muhammad Saw dalam menerima wahyu Alquran yang termaktub dalam Al Qur’an al kariim wa tarjamatu ma’anihi ila al lughah al indunisiyah (1971). Semoga dapat menambah wawasan keislaman dan pengetahuan qurani kita.

Wallahu A’lam.

Artikel ini juga tersedia dalam Bahasa Inggris

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa: enEnglish

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *