Bahasa Arab itu Tidak Sulit

bahasa arab itu tidak sulit

Bahasa Arab merupakan alat komunikasi manusia atau produk budaya bangsa Arab. Ia bukan bahasa malaikat apalagi bahasa Tuhan, meskipun kalam Allah dalam kitab suci (al-Qur’an) yang diwahyukan kepada Muhammad saw melalui malaikat dikutip dalam bahasa Arab.

Tidak Sulit

Kesalahan awal bagi pembelajar bahasa Arab salah satunya adalah stigmatisasi terhadap bahasa Arab itu sulit dan rumit dipelajari. Pandangan dan kesan seperti ini bukan hanya menjadi hambatan psikologis akut bagi pembelajar, akan tetapi menjadi langkah awal “keliru” yang berimplikasi terhadap tidak tercapainya tujuan proses belajar mengajar.

Sebagai produk budaya (subsistem budaya) ia memiliki sisi bentuk (dimensi) akademik, humanistik, dan pragmatik. Bahasa Arab berkembang di bawah sistem linguistik yang telah menjadi kesepakatan para penutur Arab (Nathiq bil al-‘Arabi), baik subsistem fonologi (shautiyyah), morfologi (shorof), sintaksis (ilm al-nahw) ataupun semantik (balaghah).

Oleh sebab itu, studi kajian bahasa Arab (produk budaya) yang begitu penting baik bagi akademik maupun non-akademik tidak seharusnya “dihantui” oleh pandangan bahasa Arab itu sulit dan rumit.

Fakta sosial ini, membangunkan kesadaran dan mengharuskan para ahli pendidikan bahasa Arab untuk melakukan evaluasi dan kajian bahasa Arab. Sebab, ini merugikan bagi umat Islam dan dunia pendidikan Islam khususnya di Indonesia. Bagaimana mungkin tujuan pembelajaran dapat tercapai, jika sikap “alergi” sudah terlebih dahulu menghantui para pembelajar ?

Baca juga :  Ketika Kiai Basyir “Dirayu” Santrinya dengan Bahasa Arab
Bahasa Arab dan Kolonialisme Barat

Fathi’ Ali Yunus dalam penelitiannya di Mesir 1977 menunjukkan bahwa responden (mahasiswa) menyatakan bahwa bahasa Arab itu sulit. Kemudian, ditanya lanjut: “Mengapa bahasa Arab itu sulit ?”, jawabannya: “Masyarakat sudah terlanjur memiliki “keyakinan” bahwa bahasa Arab itu sulit walaupun dipelajari berpuluh-puluh tahun”.

Penelitian Fathi’ menyimpulkan bahwa pandangan negatif terhadap bahasa Arab itu muncul sejak akhir abad ke-19. Itu terjadi ketika kolonial Barat menguasai wilayah Mesir. Bahkan pada abad ke-20 kolonial Barat (Inggris dan Perancis) tahun 1881 mengeluarkan kebijakan larangan masyarakat Mesir menggunakan bahasa Arab Fusha (formal atau baku) digantikan dengan bahasa arab ‘Amiyyah (nonformal atau pasaran).

Kekalahan Turki juga dialami Mesir, setelah Ali Bey (penguasa Mesir) mengizinkan ekspedisi Inggris melewati laut Merah (1778). Hal itu membuat Perancis yang lebih dulu menanamkan kekuasaan di Mesir merasa terancam. Akan tetapi tidak lama kemudian (tiga tahun), Inggris menguasai penuh wilayah Mesir.

Mengancam Kedudukan Inggris

Bahasa Arab fusha merupakan bahasa Al-Qur’an yang dianggap mengancam kedudukan Inggris. Sehingga Abdul Malik bin Marwan al-Umawy menutup sekolah-sekolah Islam (kajian al-Qur’an) dan larangan menggunakan bahasa fusha (Lughah al-‘Arabiyyah al-Fusha) diganti bahasa ‘Amiyyah (Lughah al-‘Arabiyyah al-‘Amiyyah) yaitu bahasa pasaran atau campuran dari berbagai bahasa negara lain.

Baca juga :  Bahasa Arab dan Ketimpangan Gender dalam Wacana Islam

Awalnya penggunaan bahasa fusha memudahkan komunikasi rakyat seluruh bangsa Arab, akan tetapi adanya bahasa ‘amiyyah menghasilkan perubahan besar karena setiap daerah memiliki bahasa berbeda. Tujuan kebijakan ini adalah pemecahbelahan sikap mental bangsa Arab dan tradisi kulturnya. Sehingga dengan menjauhkan mereka dengan bahasa Arab fusha, paling tidak mengurangi semangat membaca dan kajian Al-Qur’an.

Kebijakan tersebut dipropagandakan untuk membangun perspektif mereka bahwa “bahasa Arab itu rumit dan tidak dapat menjadi kajian yang mengekspresikan dunia modern”.

Pencitraan negatif terhadap bahasa Arab semakin menguat ketika bahasa Inggris terbukti lebih dominan dan mendunia daripada bahasa Arab. Jika umat Islam semakin menjauh dari bahasa Al-Qur’an, maka dapat dipastikan umat Islam akan mudah terpengaruh dan “disekulerisasikan” dengan budaya Barat.

Oleh karena itu, tugas awal kita adalah mengubah stigma negatif terhadap bahasa Arab agar tidak “terjebak” pengaruh propaganda Inggris.

Selain itu, hasil penelitian yang dilakukan oleh Jamsuri Muhammad Syamsudin dan Mahdi Mas’ud terhadap 30 responden (mahasiswa) ilmu politik (humaniora) di International Islamic University menyatakan bahwa kesulitan belajar bahasa Arab itu bukan sepenuhnya pengaruh substansi materi bahasa Arab itu sendiri, melainkan ketiadaan minat (100%), tidak memiliki latar belakang bahasa (87%), kurikulum madrasah (83%), substansi materi (57%), lingkungan kelas (50%).

Baca juga :  Qawa’idul I’lal: Kitab Morfofonologi Bahasa Arab Saat Nyantri

Bukan hanya itu, ternyata 80% penyebab kesulitan belajar bahasa Arab yaitu faktor psikologis. 77% dari mereka memiliki kesan negatif terhadap bahasa Arab dan 33% herregistrasi mata kuliah-pun berpengaruh. Jadi, substansi materi bukan sepenuhnya menjadi faktor kesulitan pembelajaran bahasa Arab, melainkan faktor psikologis, edukatif, dan sosial.

Dua Aspek yang Perlu Diperbaiki

Oleh karena itu, ada setidaknya dua aspek yang perlu dikaji kembali dalam pembelajaran bahasa Arab. Pertama, menghilangkan perspektif negatif terhadap bahasa Arab bahwa Bahasa Arab sulit. Kedua, menguatkan aspek metodologis (linguistik). Ini berkaitan dengan bagaimana substansi Bahasa Arab dikemas, dipilih, dan ditransformasikan kepada peserta didik sehingga mudah dipahami dengan efektif.

There is 1 comment for this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *