Bahkan Sahabat Nabi Perlu Waktu

“Islam itu, adalah saat kerabatmu dan jiran sekitarmu aman dari lisan dan perbuatanmu.”

Salmafina ini bertahun-tahun merasa enggak aman dari lisan dan tulisan kita. Waktu itu dia baru 19 tahun dan saat ini baru berusia 21. Bayangkan anak seusia itu harus meng-handle kata-kata kita yang sotoy dan judgmental atas dia? Padahal ia awalnya tidak benci dengan Islam.

Mulanya ia hanya galau atas doktrin-doktrinnya, atas perilaku pemeluknya, atas kecaman dari para aktivisnya dan tidak ada tempat untuknya bertanya. Kalau pada saat ini ia memilih keluar dari Islam, kenapa kita jadi heran? Bagaimana mempertahankan sesuatu dalam dada yang memang sudah begitu lama tidak ada?

Lebih dari sekedar kritik saya atas kalimat kita yang  penuh kesan sok suci, cobalah untuk memberi anak-anak dan adik kita itu waktu untuk belajar dan menghayati agamanya tanpa harus terlalu ganas kita gencet. Bahkan orang-orang yang dibimbing langsung oleh Rasulullah juga butuh waktu untuk jadi orang yang layak fisik dan mentalnya demi menerima perintah jilbab, sebagaimana perlu berapa belas tahun dulu bagi mereka menerima larangan minum khamr. Kenapa enggak dari awal dilarang? Jawab mereka: “Karena jika khamr itu terlalu dini dilarang atas kami, maka kami tidak akan patuh pada larangan itu”. Masuk Islam juga perlu pelan-pelan..

Lihatlah, bahkan para sahabat juga perlu waktu..

Baca juga :  Menjaga Kehidupan; Isyarat Kemerdekaan dalam Alquran

Sekarang, dalam kemarahannya, ia mencari kedamaian pada sosok yang ia personifikasi dengan “Kasih Karunia yang memberikan kita panduan dan juga kebebasan”, dan itu ditemukannya pada agama Kristen. Ia tidak perlu murtad seandainya ada diantara anda yang berjilbab lebar, berniqab, aktivis hijrah, atau bahkan suaminya yang hafal Quran itu, memeluknya dan memperkenalkannya dengan Tuhan yang Maha Welas Asih dan bukan Tuhan yang siap menggebukinya hanya karena ia sedang galau.

Sebagaimana Tuhan yang itu juga, dilihatnya memerintahkan ia diceraikan hanya karena ia memakai celana panjang saat jalan-jalan. Mungkin Tuhan semacam itu-dalam kegalauannya-adalah Tuhan yang berkoalisi dengan pabrik tekstil dan bukan Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Salmafina ini adalah contoh bahwa tidak mudah mencintai Tuhan kalau selama ini kita selalu disakiti atas nama Dia.

Salmafina tidak sedang murtad dari Islam sebetulnya. Ia hanya sedang murtad dari perilaku pembawa ketidak nyamanan yang ketidak nyamanan itu selama ini kita kasih label sebagai “Budaya Islam”.

Kalaupun kita mesti menyebutnya murtad, siapa yang bertanggung jawab atas kemurtadannya? Kitalah yang membuatnya tidak aman dari lidah dan lisan kita. Keterburu-buruan kitalah yang membuat salmafina murtad.

Padahal sahabat nabi saja perlu waktu…

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *