Baju Lebaran dan Rasa Syukur Kita

Beberapa waktu lalu saya menemani seorang kawan berbelanja di salah satu toko batik di Yogyakarta. Ia baru saja menghadiri sebuah kegiatan di kota itu dan bermaksud membelikan oleh-oleh untuk istri, anak, dan saudara-saudaranya.

Kurang lebih dua jam kami mengitari toko itu: Mencari baju yang cocok. Saya beberapa kali melihat dia menelepon dan video call dengan istrinya. Melalui layar gadgetnya dia menunjukkan satu model baju tertentu kepada istrinya.

“Bagaimana, sudah ketemu baju yang cocok?” Tanya saya setelah melihatnya mondar-mandir dari satu sudut ke sudut lain. Dia menggelengkan kepala.

Sudah satu jam kami di toko itu tetapi rupanya teman saya belum juga menemukan baju yang sreg. Memang toko itu menyediakan banyak sekali pilihan model baju, dan terlalu banyak pilihan sering kali justru membuat kita bingung, dan jelas itulah yang teman saya rasakan.

Syukurlah, setelah dua jam memilah dan memilih akhirnya dia mendapatkan baju yang sreg. Saya ikut merasa lega. Kami pun meninggalkan toko itu dan bergegas menuju lokasi agen bus yang akan mengantar teman saya pulang.

Kami berpisah di agen bus. Saya mohon diri untuk melanjutkan perjalanan, dan tiba-tiba saya teringat kejadian beberapa tahun silam. Kejadian mengharukan yang masih saya ingat sampai sekarang. Kejadian yang mungkin sering terjadi di sudut-sudut rumah menjelang lebaran.

Tetangga-tetangga saya banyak yang merantau ke Jakarta. Ada yang bekerja di pabrik, restoran, pom bensin, bahkan tak sedikit yang menjadi kuli bangunan. Banyak pula yang berdagang. Mereka umumnya tinggal di kontrakan yang sama.

Kebetulan saya pernah berkunjung ke salah satu “basecamp” mereka yang ada di daerah Tongtek, Kampung Melayu. Kontrakan itu persis di bantaran sungai Ciliwung. Kaki-kaki penyangganya yang terbuat dari kayu dan bambu berada di dalam sungai. Saya sendiri heran: Apa mereka tidak khawatir bangunan itu hanyut terbawa arus sungai?

Sepertinya mereka sudah sangat terbiasa sehingga sudah hilang rasa takutnya. Ketika saya tanya mengapa memilih tempat tinggal di bantaran sungai, salah satu dari mereka menjawab bahwa tempat itulah yang paling ekonomis. Saya maklum dan tidak melanjutkan pembicaraan.

Kecuali di masa pandemi seperti sekarang ini, setiap kali Ramadan antusiasme warga kampung saya menuju Ibu Kota sangat besar. Terutama mereka yang berdagang. Menurut mereka di bulan Ramadan apa saja laku sehingga mereka tak mau menyia-nyiakannya.

Mereka menuju Jakarta biasanya beberapa hari atau minggu sebelum Ramadan, atau awal Ramadan, dan mudik tujuh sampai tiga hari sebelum hari raya. Saya masih mengingat dengan baik, kepulangan mereka adalah kabar gembira bukan hanya untuk keluarganya, tetapi juga untuk kami, tetangga-tetangganya.

Selain membelikan baju lebaran untuk istri, anak, dan keluarganya, mereka yang punya anak kecil biasanya juga membelikan kembang api. Pada malam Idul Fitri kembang api itu bersahut-sahutan, menghiasi langit kampung kami.

Terus terang saya sangat kagum kepada mereka yang demi menghidupi dan membahagiakan keluarganya rela meninggalkan kampung halaman, mengadu nasib di Jakarta yang kita tahu sendiri: Macet, panas, dan bising. “Sebenarnya kalau ada pekerjaan yang lebih baik ya saya milih kerja di rumah saja,” demikian kata teman saya suatu ketika.

Pagi itu kebetulan saya berada di sebuah rumah di mana berkumpul suami istri dan satu anak. Rupanya si suami baru pulang dari Jakarta. Sang istri membuka tas bawaan suaminya dengan semangat. Ia keluarkan beberapa bungkus kurma, jajanan, dan sekardus mie instan. Juga kembang api pesanan si kecil.

Sang istri kemudian mencoba baju pembelian sang suami. Si suami tampak berbinar-binar melihat istrinya bersemangat mencoba baju lebaran itu. Namun tidak lama kemudian suasana berubah menjadi tidak enak.

Istrinya ternyata tidak puas dengan baju pembelian suami. Menurutnya baju itu bukan baju zaman sekarang. Itu model kuno. “Seharusnya kalau nggak bisa milih pakaian ya nggak usah beli. Kasih uang saja biar aku sendiri yang beli,” kata sang istri menyesali sejumlah uang yang terlanjur dibayarkan untuk baju yang menurutnya buruk.

Waktu menyaksikan kejadian ini saya masih duduk di sekolah dasar, tetapi kalimat itu sampai sekarang masih terngiang-ngiang di kepala saya. Lebih-lebih setelah saya menyaksikan sendiri susahnya perjuangan mengais nafkah di Jakarta.

Ini tentang rasa syukur dan sepanjang mengenai rasa syukur memang nyatanya tidak mudah. Kita selalu meminta lebih dan karenanya sering kali melupakan nikmat-nikmat yang sudah ada. Kita acap kali lupa menghargai pihak yang memberi.

Jangankan soal-soal seperti baju lebaran, gaji, dan THR, pada soal-soal semacam kesehatan saja kita selalu lupa bersyukur. Kita menyangka bahwa kesehatan adalah sesuatu yang normal-normal saja sehingga lupa mensyukurinya. Kita baru ingat nikmat sehat ketika kita sakit. Ingat nikmat sesuap nasi ketika kita tak punya uang sepeser pun, dan seterusnya.

Saya jadi kepikiran, kira-kira apa yang dirasakan si suami waktu itu. Seingat saya dia hanya diam. Tidak marah. Mungkin dia sudah sangat terbiasa dengan kejadian semacam ini sehingga mentalnya telah terlatih dengan sangat baik. Wallahu a’lam.

Yang jelas kejadian itu sungguh membuat saya merefleksikan banyak hal. Saya sendiri sangat sering tergoda untuk protes pada hal-hal yang sebenarnya bukan hak saya.

Ketika seorang teman berbaik hati memberi saya sesuatu yang itu bukan selera saya, mudah sekali mulut saya mengeluarkan protes. Seharusnya saya menyadari bahwa pemberian adalah sebentuk kebaikan yang tidak patut disambut kecuali dengan kebaikan pula.

Seharusnya saya menerima dengan suka rela pemberian-pemberian itu. Kalau perlu seharusnya saya memujinya meskipun sebenarnya saya kurang begitu suka dengan model dan kualitasnya. Saya kira itu merupakan sebentuk idkhalus surur (memberi rasa senang) yang bernilai pahala. Wallahu a’lam.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *