Baqi bin Makhlad; Ulama yang Hanya Makan Daun Ubi Ketika Mencari Ilmu

Baqi bin Makhlad; Ulama yang Hanya Makan Daun Ubi Ketika Mencari Ilmu

Salah satu ulama besar Islam yang mempunyai kisah unik dan tragis dalam hidupnya ketika sedang mencari ilmu adalah Baqi bin Makhlad. Beliau adalah ulama besar Islam yang berasal dari Andalusia, lahir pada tahun 201 H.

Dengan nama lengkap Abu Abdurrahman Baqi bin Makhlad al-Andalusi dan bergelar al-Hafizh, sebagaimana dijelaskan oleh al-Ulaimi dalam karyanya al-Manhajul Ahmad fi Tarajim Ashhabil Imam Ahmad.

Dalam kehidupannya saat mencari ilmu, beliau pernah berjalan kaki dari Andalusia ke Baghdad dengan tujuan untuk mengumpulkan hadis dari ulama-ulama yang di sana. Salah satunya adalah dari Imam Ahmad bin Hanbal. Namun ketika sampai di sana Imam Ahmad bin Hanbal sedang dalam keadaan dilarang untuk menyampaikan ilmunya di khalayak umum. Sehingga memaksanya untuk menyamar menjadi pengemis.

Baqi bin Makhlad sendiri banyak berkeliling di belahan dunia Islam bagian Timur dan Barat untuk mencari ilmu. Hingga beliau mendapat julukan al-Hafizh dan Syaikhul Islam, karena ilmu yang ditekuninya. Tidak jarang, dalam perjalanannya dalam mencari ilmu beliau mendapati banyak cobaan dan rintangan.

Sebab jalan pencari ilmu memang penuh dengan kesengsaraan dan keletihan. Ada yang diuji dengan kemiskinan, ada yang diuji dengan hal yang lainnya. Sebagaimana yang terjadi dengan Baqi bin Makhlad ketika beliau mencari ilmu. Makanan yang dimakannya hanya berupa daun ubi. Ya, daun ubi bukan ubinya.

Baca juga :  Teladan Lain dari Sosok Mbah Muslih Mranggen

Bayangkan saja, dalam perjalanan yang jauh dan bertahun-tahun tersebut beliau hanya makan daun ubi. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh Dzahabi dalam kitabnya Tadzkiratul Huffazh.

Dari penjelasan Abul Walid al-Faradhi yang bercerita, “Baqi berkata, ‘sesungguhnya aku mengetahui betul seorang lelaki yang menjalani hari-harinya selama ia mencari ilmu, hidup dengan hanya mengandalkan daun ubi.’”

Al-Dzahabi memberi komentar terhadap riwayat tersebut bahwasanya yang dimaksud oleh Baqi bin Makhlad adalah dirinya sendiri ketika sedang berkelana mencari ilmu. Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam karyanya Shafhat min Shabril Ulama.

Kegemaran Baqi bin Makhlad untuk berkeliling dunia dengan mencari dan mendalami ilmu tersebut tidak membuatnya takut kelaparan. Sebagaimana cerita di atas, beliau rela memakan daun ubi selama perjalanan mencari ilmu untuk bertahan hidup, supaya tetap bisa melanjutkan perjalanannya dalam berguru kepada para ulama-ulama besar dunia Islam.

Jalan seorang yang berilmu atau orang yang dalam perjalanan mencari ilmu terkadang menghadapi berbagai peristiwa unik dan pilu dalam kehidupannya, tentu dengan rentang masa yang berbeda-beda.

Kesulitan memang harus dipikul oleh para pencari ilmu, demi menggapai sesuatu yang membanggakan. Ketekunan, kesabaran, dan perjalanannya dalam mencari ilmu akan membuat sang pencari ilmu memetik hasilnya. Sebagaimana yang terjadi pada diri Baqi bin Makhlad, ia menjadi ulama besar Islam dari Andalusia dan namanya dikenang oleh sejarah.

Baca juga :  Nasihat Perampok kepada Imam Al-Ghazali

Melakukan perjalanan untuk mencari ilmu sendiri adalah sebuah keharusan. Dan bertemu dengan para syekh atau guru merupakan sebuah kesempurnaan tambahan dalam pengajaran bagi para penuntut ilmu.

Sebab dari pertemuan tersebut, manusia bisa mengambil pengetahuan mereka, akhlak mereka, pemikiran yang mereka pegang. Terkadang dengan cara menyerap ilmu, belajar dan bertemu dengan mereka. Dan terkadang dengan meniru dan mendapat bimmbingan langsung dari mereka.

Hanya saja, menggapai ilmu dengan cara bergaul dan dibimbing langsung oleh seorang guru itu lebih dalam menancap dan lebih kuat mengakar dalam jiwa. Sebab ilmu itu bisa diraih, tersingkap, dan mengakar pada diri seseorang menurut kadar gurunya.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.