Belajar Modernisasi Pendidikan di Mesir

Negeri dengan julukan piramida menjadi salah satu momentum sejarah dunia, dengan konstruksi bangunan-bangunan tua yang diselimuti dengan debu pasir. Kairo, sebuah kota di Mesir, negeri yang diselimuti oleh padang pasir menjadi ciri khas yang ada di sana.

Kairo juga terletak di persimpangan dua benua yang sama-sama bercorak padang pasir yaitu Afrika dan Asia Barat. Di balik selimut pasir yang menjadi ciri khasnya, terdapat sejarah panjang berbagai peradaban yang pernah bersinggungan di kota ini. Seperti saja zaman-zaman kerajaan besar Mesir kuno, zaman Romawi-Yunani, zaman kolonialisme modern dengan Napoleon Bonaparte yang pernah singgah di Mesir dan mengawali zaman modern dunia Islam.

Mesir menjadi salah satu destinasi luar negeri yang sangat diminati oleh mahasiswa Indonesia untuk belajar. Tercatat data tahun 2014, jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di sana mencapai 3800 orang. Salah satu alasan yang menjadikan mahasiswa Indonesia belajar di Mesir yaitu karena negara ini memiliki “universitas tertua” di dunia.

Usia yang mencapai 1000 tahun menjadi ikon bertemunya aneka peradaban dunia. Mesir juga menjadi kiblat medernisasi pendidikan di dunia muslim. Selain itu, yang menjadi alasan yang tak kalah penting juga yaitu biaya pendidikan yang relatif murah.

Di samping itu, tersedia banyak jenis beasiswa bagi mereka yang ingin melanjutkan kuliah di negeri piramida ini. Barangkali alasan ini pula yang membuat orang Indonesia berminat pergi ke sana.

Baca juga :  Kesehatan Fisik dan Mental Keluarga dalam Naskah "Ibu di Dalam Rumahnya"

Universitas al-Azhar menjadi salah satu tujuan utama. Salah satu faktornya, karena banyak sekali tokoh-tokoh ulama’ Indonesia yang lulusan dari al-Azhar. Sebutlah beberapa tokoh seperti Prof. Dr. M. Quraish Shihab, Prof. Dr. Zakiah Darajat, Huzaemah T. Yanggo, Prof Azman Ismail. Belakangan ini juga terdapat dari kalangan muda seperti, Dr. Muhlis Hanafi, Dr. Abdul Ghofur Maemun, Ustaz Abdul Somad dan masih banyak lagi.

Hubungan Indonesia-Mesir dalam Sejarah

Relasi antara Indonesia-Mesir sudah terjalin berabad-abad. Jauh sebelum Indonesia merdeka. Buktinya bisa dibaca dalam buku Jauh di Mata Dekat di Hati: Potret Hubungan Indonesia Mesir (2010) yang di terbitkan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia Mesir.

Pada abad ke-19, hubungan Indonesia-Mesir mulai terlihat cerah, ditandai dengan berbagai karya ulama Indonesia yang mulai diterbitkan di Mesir yaitu Syekh Nawawi al-Bantani. Selain itu, hadirnya Muhammad Abduh yang membawa gerakan pembaharuan pendidikan Islam. Sebuah gagasan modernisasi pendidikan yang dibawa oleh ulama mesir ke Nusantara. Beberapa di antaranya adalah Syekh Ahmad Khatib Minangkabau. Lalu dilanjutkan Syekh Tahir Jalaludin yang menyebarkan paham pembaharuan Islam lewat majalah Al-Imam yang terbit di Singapura 1907.

Saat negara Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya, Mesir menjadi negara pertama yang mengakuinya. Pada momen itu, melalui komunikasi intensif antara pelajar Indonesia di Mesir dengan pemerintah Mesir, di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Mahmoud Fahmi Nokrasyi pada tanggal 1 Juni 1947, resmi mengeluarkan keputusan bahwa Mesir mengakui kemerdekaan Indonesia.

Baca juga :  Toleransi Beragama di Kalangan Siswa SLTA

Mulai saat itu hubungan Indonesia Mesir bisa dikatakan seperti kakak beradik yang berusaha saling memajukan keduanya. Berkat pengakuan resmi dari Mesir itu pengembangan pendidikan Islam di Indonesia banyak yang berkiblat dengan Mesir hingga hari ini. Seperti Perguruan Tinggi, IAIN dan berkemabang menjadi UIN Universitas Islam Negeri dalam perkembangan kurikulumnya mengacu pada Universitas al-Azhar Mesir.

Penerapan Modernisasi Mesir ke dalam Pendidikan Islam di Indonesia

Ribuan alumni mahasiswa al-Azhar ikut mempengaruhi adanya modernisasi pendidikan Islam di Indonesia. Modernisasi yang dikembangkan Universitas al-Azhar mendapat sambutan hangat oleh alumni al-Azhar Indonesia.

Perkembangan ini didasari dengan dua pilar utama, yaitu (1) al-Qur’an dan Hadits; dan (2) ilmu-ilmu yang berkembang sesuai dengan akal pikiran manusia. Universitas ini berkeyakinan bahwa wahyu tidak bertentangan dengan akal dan menghormati keragaman atau prinsip-prinsip hubungan antarumat beragama.

Nilai-nilai demikian yang diserap oleh alumni al-Azhar Indonesia dan menjadi pilar perkembangan modernisasi pendidikan Islam di negeri ini. Perkembangan paham moderat di al-Azhar juga dikembangkan di Indonesia. Gerakan pengembangan program studi umum al-Azhar juga diikuti oleh Indonesia. Tercatat di tahun 2002 setelah reformasi IAIN menjadi UIN mencoba membuka pengembangan aspek keilmuan ke-Islaman dan ke-Indonesiaan.

Baca juga :  Respons dan Kesiapan Pesantren Menghadapi Ancaman Covid-19 di Era New Normal

Sebagai penutup, bahwa pendidikan di Mesir Universitas al-Azhar juga mengajarkan paham keagamaan Islam yang bersifat multikultural. Ini senada dengan moderasi yang sedang dilakukan di Indonesia untuk menjaga keberagaman yang ada di republik ini.

Paham Islam moderat yang dikontribusikan oleh alumni al-Azhar berpengaruh signifikan untuk kemajuan moderatisme pendidikan di Islam Indonesia. Oleh karena itu, sekiranya pemerintah Indonesia perlu memberikan akomodasi untuk para alumi al-Azhar dalam mengembangkan dunia pendidikan Islam di Indonesia. [mnw]

 

*Tulisan ini adalah rangkuman dari diseminasi penelitian Muhammad Murtadlo diterbitkan Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Kementerian Agama tahun 2021.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.