Belajar Politik Kepada Ibnu Bajjah Melalui Perenungan

Saat pemikiran dunia mulai mewacanakan agama dan ilmu pengetahuan. Sederet pemikir Islam muncul untuk memberi pengaruh di dalamnya. Mereka mulai naik ke permukan, salah satunya adalah Ibnu Bajjah.

Bernama lengkap Abu Bakr Muhammad ibn Yahya al-Sha’igh. Ia mendapat julukan Avempace. Ia tercatat sebagai tokoh pemikir muslim yang sangat cekatan. Meski beberapa literatur yang penulis baca, tidak banyak yang menyingkap secara tuntas tentangnya.  Tapi berbagai warta mengisahkan baik tentang dirinya. Bahkan Fath Ibn Khaqan, pengkritik kerasnya, mengakui akan kemampuannya.

Ibnu Bajjah tinggal di Spanyol, tepatnya Saragossa. Menurut catatan sejarah, ia adalah seorang pejabat. Avempace diangkat menjadi pejabat berkat ketenaran dan kemampuannya dalam ilmu pengetahuan. Ia juga pernah  dimasukkan ke penjara oleh Amir Abu Ishaq. Dan setelah bebas, ia kembali diangkat sebagai pejabat tinggi oleh Gubernur Abu Bakr Yahya. Ini menunjukkan betapa cerdasnya seorang Ibn Bajjah, dan betapa menguntungkannya menjadi seseorang yang mengoptimalkan dirinya pada bidang ilmu pengetahuan.

Sudah menjadi hal lumrah, ketika ada seseorang yang menonjol, selalu saja ada ketidaksukaan orang lain. Hal itu yang terjadi pada Ibn Bajjah. Tokoh yang disebut Ibn Khaldun, sebagai salah satu pemikir utama filsafat di bagian Barat ini pun, banyak dimusuhi oleh pesaingnya. Ia juga difitnah sebagai ahli bid’ah. Pada masa itu, keadaan politik begitu rumit dan kacau. Banyak tokoh, demi untuk merebut kekuasaan, mereka saling menyalahkan dan menuduh ahli bid’ah pesaingnya. Hal itu dilakukan demi untuk mendapatkan perhatian masyarakat.

Baca juga :  Moh Limo; Falsafah Jawa Ajaran Sunan Ampel
Sumbangan Pemikiran Ibnu Bajjah

Ada banyak yang telah disumbangkan Ibnu Bajjah pada perkembangan ilmu pengetahuan dan karya-karyanya, seperti kitab Tadbir al-Mutawahhid, kitab Risalat al-Wada’ , kitab Risalah Ittishal al-Aql bi al-Insan, dan masih banyak lainnya.

Sebelum Ibnu Bajjah menulis Tadbir al-Mutawahhidnya, ia mendapat inspirasi dari kitab al-Madinat al-Fadhilat karya al-Farabi. Tadbir secara kata berarti Pembinaan. Siapa yang mendapatkan pembinaan ini? Tidak lain adalah akal, anugrah terbaik yang diberikan Tuhan pada manusia. Kata tadbir kemudian dibagi dalam artian umum dan khusus oleh Ibnu Bajjah. Secara umum berarti mengatur perbuatan untuk mencapai keinginan. Secara khusus mengatur negara untuk mencapai suatu tujuan, yang bisa berupa kedamaian, kerukunan, dan kebahagiaan.

Sedangkan Mutawahhid memiliki arti penyendiri. Menjauhkan diri dari kerumunan dan senantiasa menyediakan diri dalam perenungan. Kaitan teori politiknya merupakan karakter seorang pemimpin negara. Seseorang yang bisa lebih tenang memberikan pandangan dan kebijakan, terkait apa yang mesti dilakukannya untuk kemajuan negara. Adalah orang yang lebih memiliki pemikiran mendalam ketimbang pencitraan yang kebanyakan.

Sebagaimana dipaparkan Fahruddin Faiz, perenung yang dimaksudkan Ibnu Bajjah ini tidak semerta-merta memutuskan diri dari masyarakat. Atau jenuh dengan persoalan yang tak kunjung selesai sehingga memilih tidak peduli. Menjauhkan diri dari kerumunan artinya, tidak mudah terpengaruh pada apa yang dilakukan kebanyakan orang. Tidak menelan mentah-mentah budaya yang tengah berkembang dalam masyarakat, tetapi memiliki pola pikir sendiri dari perenungannya.

Baca juga :  Hidup Tenang dengan Filsafat Stoikisme
Kontekstualisasi Perenungan di Era Medsos

Bila dikaitkan dengan perkembangan hari ini, perenung ini maksudnya, kita tidak mudah tenggelam dalam arus media sosial zaman now. Ucuk-ucuk ingin tampil modis di medsos tapi hasil pinjam milik teman. Dikenal banyak uang tapi banyak hutang. Terlalu mengidolakan orang yang terkenal sampai patah hati saat dia berpacaran dengan orang lain, dan masih banyak contoh lainnya yang dilakukan tanpa dasar perenungan.

Sedangkan kaitannya dengan politik perenung ini, pemimpin mestinya berkeliling ke negara-negara lain untuk mencari pengetahuan baru, dan kemudian diambil pembelajarannya untuk mengelola negaranya menjadi lebih baik. Selain itu, Avempace juga mewanti bahwa seorang pemimpin perenung ini harus menjauhkan diri dalam banyak pertemuan tidak penting dengan masyarakat. Memposisikan diri lebih bermartabat, yang dalam buku Para Filosof Muslim dijelaskan, seorang pemimpin harus mengingat dirinya mesti lebih tinggi dari masyarakat yang dipimpinnya.

Hal itu tentunya untuk menghindarkan seorang pemimpin ini kehilangan waktu yang lebih pentingnya, dan menjaga dirinya dari kesalahan-kesalahan dalam berbicara. Apalagi zaman ini masyarakat jauh lebih bebas beraspirasi, termasuk membuat meme lucu dari kekonyolan sikap seorang pemimpin. Bila itu terjadi, perlahan dapat menghilangkan kewibawaan dan pengaruhnya di tengah masyarakat.

Dari pandangan ini kemudian bisa kita melihat upaya Ibnu Bajjah dalam membantu gaya perpolitikan di zamannya, yang juga relevan untuk memperbaiki gaya perpolitikan Indonesia zaman ini. Apalagi mengingat banyak petinggi negara kita yang saat ini sepertinya sering tergesa-gesa dalam memberikan kebijakan dan kurang perenungan.

Baca juga :  Kisah KH Chudlori Tegalrejo Hadapi Konflik Santri-Abangan
be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *