Belajar Toleransi Beragama dari Gus Dur

Judul Buku      : Gus Dur; Jejak Bijak Sang Guru Bangsa

Penulis              : Anom Whani Wicaksana

Penerbit          : C-Klik Media

Cetakan           : II, 2018

Tebal               : vi + 163 halaman

ISBN               : 978-602-5448-32-4

 

Mengulik kisah hidup almarhum KH. Abdurrahman Wahid, atau akrab dipanggil Gus Dur, memang menarik dan seolah tak ada habisnya. Meski terlahir dari keluarga kiai dan kesehariannya begitu akrab dengan dunia pesantren, tapi tak lantas membuatnya terkungkung dalam budaya yang monoton. Ia memiliki wawasan keilmuan yang sangat luas, karena saat masih muda dulu ia tak hanya mengenyam pendidikan pesantren tetapi juga menimba beragam ilmu pengetahuan di luar negeri.

Gus Dur pernah menimba ilmu di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir, bahkan ia pernah bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Ia juga pernah mempelajari sastra Arab, filsafat, dan teori-teori sosial di Departement of Religion di Universitas Baghdad. Selepas dari Baghdad, Gus Dur melawat ke Eropa dengan harapan bisa berkesempatan kuliah di sana.

Sayangnya, kualifikasi-kualifikasi mahasiswa dari Timur Tengah saat itu tak diakui di universitas-universitas Eropa. Meski gagal kuliah di sana, tapi Gus Dur memilih bermukim di Belanda selama 6 bulan. Di sana ia melakukan kunjungan dari satu universitas ke universitas lainnya. Ia juga mendirikan Perkumpulan Pelajar Muslim Indonesia dan Malaysia yang tinggal di Eropa.

Baca juga :  Kenangan Gus Dur Menziarahi Gaza Palestina

Untuk mencukupi kehidupannya selama di Eropa, Gus Dur tak merasa gengsi bekerja di pelabuhan sebagai pembersih kapal tanker dan bekerja di penatu milik orang Cina. Perjalanan Gus Dur keliling Eropa berakhir tahun 1971. Ia memilih kembali ke Indonesia dan mulai memasuki kehidupan barunya (halaman 16).

Sepulang dari perjalanannya di Timur Tengah dan Eropa, ia memilih pulang ke tempat kelahirannya di Jombang Jawa Timur dan memilih menjadi guru. Ia juga bergabung di Fakultas Ushuludin Universitas Jombang, menekuni dunia kepenulisan. Pergaulan Gus Dur yang makin luas saat ia mengakrabi dunia kesenian dan kebudayaan, dan membaur dengan para seniman. Ia menikah dengan Sinta Nuriyah dan dikaruniai 4 orang putri (halaman 19).

Karier yang dicapai oleh Gus Dur semakin melesat. Puncaknya saat ia terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia, tepatnya setelah Pemilu Tahun 1999. Meski menjabat presiden tak lama (tahun 2001 digantikan oleh Megawati Soekarnoputri) akan tetapi Gus Dur begitu dicintai oleh banyak orang dari beragam kalangan. Pemikiran dan gagasan-gagasannya yang bijak dan inspiratif banyak dijadikan landasan oleh banyak orang dari berbagai kalangan.

Gus Dur meninggal dunia (setelah terserang suatu penyakit) pada Rabu, 30 Desember 2009 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Jenazahnya dimakamkan di Jombang pada Kamis, 31 Desember 2019. Selama hidupnya Ia dikenal sebagai sosok yang bijaksana dan memiliki toleransi beragama yang sangat tinggi (halaman 75).

Baca juga :  Nyai Sholihah, Induk Keluarga, NU, dan Bangsa

Dalam buku ini juga dikisahkan bahwa dulu, ketika Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok mencalonkan diri untuk menjadi Bupati Bangka Belitung Timur, Gus Dur bahkan pernah menjadi juru kampanye untuknya. Waktu itu ia secara tegas menolak penyalahgunaan atau politisasi atas surat Al-Maidah ayat 51. Menurutnya, tiap anak bangsa yang non-Muslim dan punya kapabilitas untuk menjadi kepala daerah berhak menjadi pemimpin daerah.

Selama ini, Gus Dur memang dikenal sebagai sosok yang tak hanya arif dan bijaksana, tetapi juga memiliki kepedulian dan toleransi beragama yang sangat tinggi. Ia juga dikenal sebagai sosok pembela kaum minoritas, baik dari kalangan muslim, umat Kristen, Katolik, etnis Tionghoa, dan lain sebagainya. Maka tak heran bila di kemudian hari ia dijuluki sebagai Bapak Pluralisme.

Bagi umat Katolik, Gus Dur merupakan figur panutan dan sosok yang pantas dianggap sebagai Bapak Bangsa karena ia melayani sesama manusia dengan penuh kasih tanpa membedakan satu dengan lainnya. Gus Dur pernah berkata, “Tidak penting apa pun agama dan sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak akan pernah tanya apa agamamu,” (halaman 92).

Baca juga :  Toleransi Sejak dari Diri Sendiri

Lewat buku ini, pembaca dapat belajar banyak tentang pemikiran-pemikiran Gus Dur yang begitu bijaksana. Salah satunya tentang pentingnya toleransi beragama yang harus selalu dijaga agar kehidupan beragama di negeri ini selalu rukun dan tak mudah terpecah belah.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.