Benchmarking Preservasi Naskah Klasik di Berbagai Negara Berpenduduk Islam

Manuskrip sebagai warisan berharga bangsa pada masa lampau, memiliki kerentanan untuk dapat eksis dalam waktu yang lebih lama. Banyak faktor yang menyebabkan ia hancur ditelan bumi. Bencana alam, udara yang tidak sesuai, perlakuan yang tidak tepat, dan sentuhan manusia yang sembarangan adalah di antara penyebab berakhirnya keberlangsungan hidup sebuah manuskrip di dunia ini.

Padahal di dalamnya banyak informasi dan pengetahuan bermanfaat yang patut dicontoh dan diteladani bagi generasi sekarang dan seterusnya. Perawatan yang tepat dan sesuai standar sangat dibutuhkan oleh sebuah manuskrip kuno. Banyak lembaga-lembaga terkait dan negara-negara tertentu khususnya di barat berkompeten dalam merawat naskah. Sebut saja Belanda dan Inggris misalnya, memiliki kepedulian tinggi untuk perawatan naskah. Mereka menggunakan alat-alat canggih untuk melindungi sebuah manuskrip yang sudah cukup tua umurnya.

Tidak hanya itu, cara mereka memperlakukan dan menyentuh manuskrip sangat hati-hati dengan dibekali ilmu yang cukup.
Selain Barat, negara-negara di Timur Tengah juga tidak kalah saing dengan negara Barat dalam merawat naskah warisan masa lampau. Mereka menata rapi dengan membuat katalog dan memperlakukannya dengan sangat bijak dan hati-hati dengan menggunakan alat-alat dan metode modern sesuai dengan perkembangan saat ini. Turki dan Iran, misalnya, menghargai naskah kuno dengan perawatan yang intensif dan metode serta alat yang canggih dan mutakhir.

Mereka sigap menghadapi berbagai bentuk bencana yang hendak menghinggapi manuskrip, barang berharga dari para leluhur. Bagaimana penanganan di negara tercinta ini? Dengan sejumlah naskah yang masih tersebar di berbagai tempat dan daerah, Indonesia juga telah melakukan banyak hal dalam rangka mempertahankan keberadaan manuskrip Bersama pemilik, pengguna dan pengambil manfaat.

Baca juga :  Sistem Pendidikan dan Jaringan Pesantren Tahfidz Al-Qur’an di Kudus, Solo, dan Bogor

Perpustakaan Nasional dan museum-museum daerah telah menjadi ikon dalam penjagaan dan perawatan manuskrip yang ada. Namun demikian, dalam rangka meningkatkan kemampuan dan daya tarik masyarakat dalam penanganan secara profesional dan berpengalaman, pembelajaran dan perbandingan studi ke lembaga-lembaga luar negeri dibutuhkan. Pelaksanaan ini dapat dilakukan secara bertahap dan terus menerus dengan waktu interval 4 tahun sekali, sehingga informasi dan pengetahuan dapat diserap dan menjadi bandingan yang utuh.

Pada tahun 2018, Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama telah melakukan studi banding ke empat negara yang berada di Timur tengah, Turki, Iran, Mesir dan Marokko, dengan alasan pelaksanaan bahwa negara Timur Tengah telah memiliki koneksi langsung dengan Nusantara sejak lama.

Diperkirakan bahwa negara ini menyimpan warisan leluhur bangsa kita dengan cara yang bijaksana, bukan dengan membawa pergi dari Indonesia, melainkan berkat hubungan yang baik para ulama pada masa lampau. Terdapat ulama Indonesia yang menulis di negara Timur Tengah sambil menuntut ilmu. Sebut saja, Syekh Nawawi al-Bantani, ditemukan karyanya di Mesir dan Arab Saudi.

Temuan Penelitian

Dari keempat negara yang menjadi sasaran studi banding kegiatan model preservasi naskah klasik keagamaan, memiliki keragaman dalam memantau, melihat, memperlakukan, dan menggunakan naskah klasik keagamaan di negara mereka masing-masing. Mereka memiliki pola pikir yang sama tentang pentingnya menjaga harta warisan bangsa, dan perlu dimanfaatkan oleh generasi penerus. Namun dalam penanganannya, terdapat perbedaan-perbedaan yang bisa menjadi bahan pelajaran dan bandingan bagi kita Indonesia dalam menangani manuskrip keagamaan.

Turki adalah negara yang memiliki sejumlah peninggalan warisan yang tergolong cukup lama. Peninggalan para nabi masih ditemukan di wilayah ini. Mereka sangat menghargai benda sejarah sehingga ada sebuah wilayah yang bernama Sangli Urfa, menjadi tempat yang masih bias dilacak peninggalan sejarah sejak Nabi Ibrahim. Dalam penanganan manuskrip, mereka telah menggunakan metode dan alat-alat yang mutakhir.

Baca juga :  Dinamika Umat Islam Menjalani Ramadan pada Masa Pandemi Covid-19

Mereka telah mampu menjaga manuskrip dengan bangunan dan lemari khusus, terbebas dari bencana apa pun, seperti kebakaran, gempa dan bencana lainnya. Dalam pemanfaatannya kepada generasi sekarang, mereka telah men-scan dengan alat yang sangat canggih sehingga memberi kemudahan kepada pengguna dalam mengaksesnya.

Mereka juga membuka kesempatan kerja sama dengan negara-negara lain dalam hal peningkatan konservasi barang-barang purbakala termasuk manuskrip, baik dalam peningkatan pengetahuan preservasi maupun cara penanganan langsung. Iran merupakan negara yang memiliki hubungan erat dengan Indonesia. Negara ini memiliki kepedulian kepada sejarah dengan sangat serius.

Salah satu bentuk penanganan manuskrip untuk wilayah ini adalah dengan membuat katalog secara serius dan maksimal, di samping konservasi dengan alat-alat canggih. Keseriusan mereka dalam pemeliharaan manuskrip juga terlihat pada penggunaan alat yang mampu mendeteksi binatang yang sangat kecil yang dapat mengganggu kestabilan kertas dan tinta, yang akhirnya dapat merusaknya.

Mesir, secara umum koleksi naskahnya sangat banyak, yang terdiri dari berbagai bahasa yang berkembang pada masa silam, seperti Parsi, Urdu, dan Arab, bahkan Melayu. Karena para ulama Nusantara pada masa silam sudah pernah mengadakan kontak dengan ulama Timur Tengah termasuk Mesir. Namun dalam pemanfaatan manuskrip untuk pengujung dan pengguna, mereka masih jauh lebih tertinggal dibandingkan negara kita yang sudah dikelola secara baik di Perpustakaan Nasional. Media akses langsung ke naskah tidak disediakan.

Baca juga :  Membumikan Desa Model Kerukunan di Indonesia

Pelayanan kepada pengunjung masih closed akses, bukan berbentuk opened akses. Untuk mengakses naskah-naskah yang dituju harus mendapat izin dari kementerian terlebih dahulu. Cara seperti ini telah membuat kesulitan bagi para pengakses.
Maroko adalah negara yang rajanya sangat peduli dan bertanggungjawab dengan manuskrip. Kerajaan sendiri yang menyimpan manuskrip warisan bangsa. Perpustakaan dibagi kepada perpustakaan milik istana yang bisa digunakan dan diakses oleh siapa pun, dan perpustakaan milik keluarga raja, yang hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu saja seperti pejabat negara dan lainnya.

Perpustakaan kerajaan adalah perpustakaan paling lengkap yang menyimpan warisan bangsa sejak masa awal Islam. Untuk pengaksesan hanya disediakan dalam bentuk digital untuk pengunjung. Dalam rangka preservasi manuskrip, pihak kerajaan melatih para pegawainya untuk belajar ke Jerman dan menggunakan alat-alat yang ada di Jerman dan Perancis.

Hasil penelitian selengkapnya klik di sini

Gambar ilustrasi: Suara

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.