Beramal Sholeh 24 Jam Non-Stop

Manusia merupakan makhluk yang unik. Dari dalam dirinya terdapat dualitas yang saling bertolak belakang antara satu dengan yang lain. Terlepas dari itu pada intinya di antara dua sisi tersebut justru saling melengkapi antara satu dengan yang lain.

Di satu sisi, manusia menjadi seorang hamba yang harus taat pada Tuhannya. Namun di sisi yang lain, manusia menjadi seorang khalifah yang ‘terbebas’ untuk menjalankan misi-Nya.

Pada sisi pertama, hanya Tuhanlah yang menjadi penguasa utama, manusia tidak dapat mengelak dari kuasa Tuhan. Manusia hanya taat dan  tunduk dengan semua perintah dan larangannya. Sementara manusia sebagai khalifah, di sinilah peran manusia terbuka lebar. Pada posisi ini juga manusia melakukan kreasi-kreasi sesuai dengan kemampuannya.

Larangan Beramal Sayyi’ah (Buruk)

Pada dasarnya Allah telah melarang untuk berbuat buruk, entah itu berbuat buruk terhadap dirinya sendiri, orang lain, pada makhluk lain, apalagi pada Allah Swt. Dalam hal ini Allah sering mengingatkan manusia di dalam Alquran:

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. al-Maidah: 90)

Masih ada banyak ayat lain yang memerintahkan umat manusia untuk meninggalkan perilaku-perilaku buruk. Larangan ini bukan untuk membatasi gerak manusia dalam bertingkah. Akan tetapi, Allah memerintahkan untuk meninggalkan perilaku buruk melainkan Allah telah mengukur dan mengetahui kadar yang terbaik untuk hambanya.

Allah mengetahui segala yang baik atau buruk dan maslahat bagi hambanya. Sehingga perintah untuk menjauhi perbuatan buruk tersebut merupakan suatu wujud cinta kasih Allah yang besar kepada hambanya.

Perintah untuk Beramal Sholeh

Begitupun sebaliknya, dalam ayat-ayat Al-Qur’an, Allah Swt. telah banyak memerintahkan untuk berbuat baik atau beramal sholeh kepada siapapun. Para ulama memahami, sifat Allah yang Rahman (Maha Pengasih) dan Rahim (Maha Penyayang) ada pada Surat Al-Fatihah ayat pertama.

Kita tahu Al-Fatihah merupakan surat yang paling awal dalam Alquran. Berkaitan dengan hal ini, para ulama memahami seharusnya seorang muslim dalam menjalani perilakunya dengan bacaan bismillah al-rahman al-rahim.

Bukan hanya dibaca, sebagai seorang muslim sejati hendaknya kita dapat menerapkan sifat-sifat Allah tersebut kepada semua umat manusia dan kepada semua yang ada di alam semesta. Dengan adanya cinta kasih, akan terciptanya amal shalih di antara pada sesama.

Pemahaman lain, di antara ayat-ayat Alquran, Allah sering menggandeng kata-kata ‘iman’ dengan ‘amal sholeh’ seperti dalam Surat Al-‘Ashr ayat 3. Penggandengan kata ‘iman’ dengan ‘amal sholeh’ tersebut bukan tanpa alasan.

Allah swt menginginkan hambanya untuk mengimani diri-Nya dengan mempercayai keberadaan wujud beserta sifat-sifatnya. Setelah seorang hamba mengetahui hal tersebut, Allah memerintahkan untuk menerapkan sifat-sifat-Nya tersebut kepada hamba-hamba yang lain.

Selain itu, dalam ayat lain, Allah menyebutkan perintah ‘shalat’ selalu diiringi dengan kata ‘zakat’. Misalnya ayat yang berbunyi aqimu al-shalat wa atu al-zakat (dirikanlah shalat dan keluarkanlah zakat).

Hal tersebut dapat kita pahami dengan, perintah shalat merupakan perintah amal shalih yang dikerjakan untuk kepentingan hambanya dengan Tuhan-Nya, sementara perintah shalat ialah perintah yang ditujukan Tuhan kepada hambanya untuk hambanya yang lain.

Pemahaman akan amal sholeh ini sebenarnya asas dasar yang di bangun dalam agama Islam. Dalam konteks ini, Islam ada trilogi ajaran yang tidak dapat terpisahkan yaitu Islam, Iman, dan Ihsan.

Dari ketiga urutan tersebut dapat dipahami bahwa seorang hamba pada dasarnya ia ber-Islam (tunduk), yang kemudian diperteguh dengan Iman (percaya). Lantas kemudian disempurnakan dengan Ihsan (kebaikan).

Dari pemahaman seperti ini, pada dasarnya agama Islam adalah ajaran tentang akhlak kebaikan. Sehingga dapat dipahami seolah-olah setiap kali menjalankan syariat-Nya pada ending-nya untuk amal sholeh, baik pada dirinya maupun dengan yang makhluk yang lain.

Beramal 24 Jam Non-stop

Mendengar tema ini, mungkin sebagian orang tidak akan percaya. Sebagian orang mungkin akan bertanya-tanya, mungkihkah kita sanggup melaksanakan amal shalih sehari semalam tanpa henti?

Waktu, tenaga, dan pikiran kita kan terbatas sehingga tidak memungkinkan untuk melakukannya? Hal ini tergantung pada diri kita sendiri dan kemauan pribadi masing-masing.

Kita tahu bahwa bentuk amal sholeh itu banyak. Secara garis besar bentuk amal sholeh terbagi menjadi 2, yaitu amal yang berkaitan dengan Allah dan amal yang berkaitan dengan selain Allah.

Bentuk pekerjaan apapun, asalkan itu berguna dan maslahah bagi diri sendiri maupun orang lain itu dapat dikatakan dengan amal sholeh. Adapun cara melakukan amal sholeh 24 jam non-stop, caranya mudah cukup haanya dengan ‘niat’. Ya, dengan niat saja kita dapat melakukan amal sholeh 24 jam non-stop.

Dalam suatu hadis Rasulullah Saw. bersabda: ”Innama a’malu bi al-niyat” (segala sesuatu amal, tergantung pada niat). Dari hadis ini dapat kita pahami, segala amal perbuatan harus disertai niat.

Ingat, amal dunia dapat menjadi amal akhirat, dan sebaliknya amal akhirat dapat menjadi amal dunia dan itu karena ada pada niatnya. Oleh karena itu, setiap kali hendak melakukan suatu perbuatan hendaklah kita mendasarinya dengan niat yang baik.

Misalnya, ketika bangun pagi, sudah seperti biasa sebagai seorang muslim kita melaksanakan shalat Subuh dengan berjamaah akan lebih baik. Tentunya dengan niat yang baik.

Setelah itu membaca Alquran, berolah raga dengan niat untuk menjaga kesehatan badan, makan dan minum sekedarnya. Hal ini dengan niat untuk dapat melaksanakan aktivitas dan untuk menjaga stamina dalam beribadah.

Selain itu, sekolah dengan niat mencari ilmu dan menghilangkan kebodohan. Ketika bekerja hendaknya berniat untuk mencari nafkah keluarga untuk mempertahankan hidup dan untuk bekal beribadah kepada Allah swt, dan seterusnya. Wallahu a’lam.

There is 1 comment for this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *