Berdiri Saat Asyraqal

Berdiri Saat Asyraqal

Dalam kitab al-Barzanji disebutkan bahwa dianggap mulia bersikap berdiri pada saat mengenang kelahiran Nabi Muhammad. Hal ini sesuai pandangan ulama yang meriwayatkan secara berkesinambungan. Redaksi lengkap dalam kitab al-Barzanji adalah berikut ini:

( وقد استحسن القيام عند ذكر مولده الشريف أئمةٌ ذوو رواية ورويّه ، فطوبى لمن كان تعظيمه صلّىالله عليه وسلّم غاية مرامه ومرماه )

Kata istahsan dalam redaksi di atas tidak sama dengan istihsan (manfaat/al-naf’) dalam teori ushul fiqh yang dianut mazhab Maliki. Akan tetapi pengertiannya adalah sesuatu yang dianggap baik. Oleh sebab itu jika ada yang menganggap berdiri saat pembacaan maulid adalah berdasarkan istihsan (teori mazhab Malikiyah), hal itu salah sasaran.

Dalil Berdiri Saat Membaca Asyraqal

Berdiri saat pembacaan asyraqal dalilnya mengikuti hadits Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Nabi memerintahkan orang-orang Anshar supaya berdiri untuk menghormati pemimpinnya, sahabat bernama Saad.

Waktu itu Saad sedang sakit namun perintah supaya berdiri bukan karena menghormati orang sakit melainkan karena Saad adalah tokoh Anshor.

( قوموا إلى سيدكم ) وهذا القيام كان تعظيماً لسيدنا سعد رضي الله عنه ولم يكن من أجل كونه مريضاً وإلا لقال قوموا إلى مريضكم ولم يقل إلى سيدكم ولم يأمر الجميع بالقيام بل كان قد أمر البعض 

Berdasarkan hadits ini dalam mazhab Syafiiyah, seperti pendapat Imam Nawawi, Ibn Hajar dinyatakan hukumnya mustahab (dianjurkan) berdiri untuk memuliakan para tokoh yang dihormati masyarakat.

Baca juga :  Tradisi Maulid Nabi dalam Pandangan Alquran dan Hadis

Dengan pertimbangan inilah al-Barzanji menyatakan bahwa dianggap terpuji berdiri pada saat pembacaan maulid untuk memuliakan Rasulullah, sosok mulia yang diagungkan umat Islam di seluruh penjuru dunia.

Bukankah sikap berdiri untuk memuliakan orang masih hidup, sementara Nabi sudah wafat? Betul Rasulullah telah wafat; akan tetapi sebagai bentuk ekspresi rasa cinta dan hormat kepada tokoh yang disanjung dari para pengagung maka saat pembacaan asyraqal mereka seperti halnya mengadirkan sosok yang dikagumi dan dicintai. Untuk itulah pencinta Rasulullah Saw akan berdiri setiap disebut nama beliau.

Kitab-Kitab Maulid Karya Ulama

Banyak ulama yang menuangkan perasaan cinta mereka kepada Rasulullah melalui karya spektakular. Di antaranya adalah al-Barzanji yang kitabnya sangat fenomenal. Selain al-Barzanji terdapat banyak ulama yang menulis kitab maulid. Di antaranya

Pertama, Al-hafidz ibn Nashiruddin al-Damisqi (lahir 777 H.) seorang ulama ahli hadits bermazhab Syafii yang sangat berpengaruh di Syiria. Beliau menulis Maurid al-Shadi fi maulid al-Hadi.

Kedua, Abul Fadhl Zainuddin (lahir 725 H.) Tumbuh besar menjadi ulama ternama di Mesir dan menulis kitab maulid berjudul al-Maurid al-Habi fi al-Maulid al-Sunni.

Ketiga, Al-hafid al-Sakhawi seorang ulama ternama kelahiran Kairo dan meninggal di Madinah pada 902 H. Dalam buku biografi ulama tersohor di dunia yang ditulis al-Syaukani disebut bahwa beliau juga memiliki kitab maulid.

Baca juga :  Menghadirkan 'Sosok' Rasulullah pada Momen Maulid Nabi

Keempat, Imam al-Zabidi (lahir 866 H.) Ulama Syafiiyyah ini memiliki karangan kitab maulid berjudul al-Dziba’ yang berarti putih bersih dan kitabnya ini juga sangat familar di kangan masyarakat Islam di dunia.

Keberadaan sederetan ulama besar ini yang semuanya menulis kitab maulid menjadi dasar bagi al-Barzanji untuk mengutarakan bahwa sangat terpuji bersikap berdiri pada saat dibacakan asyraqal.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *