Mau Nulis Biografi? Bergurulah Pada Sang Biograf Legendaris

Mau Nulis Biografi? Bergurulah Pada Sang Biograf Legendaris

Judul: The Secret of Biografi

Rahasia Menulis Biografi ala Ramadhan KH

Penulis: Zulfikar Fuad

Penertbit: Indeks @kademia

Tebal: 115 Halaman

Mau Nulis Biografi? Bergurulah Pada Sang Biograf Legendaris

“Seperti apa Anda ingin dikenang?” tanya Ramadhan KH setiap kali melakukan wawancara dengan narasumber, tokoh utama dalam bukunya. Pertanyaan itu menentukan bagaimana seseorang ingin dikenang oleh orang lain baik dalam keluarga, sahabat, dan rekan-rekan.

Dengan mengetahui kehendak tokoh tentang dirinya maka akan dimulailah penulisan buku biografi yang akan berkisah tentang diri sendiri, keluarga, aktivitas, pengalaman, prinsip, visi, rencana masa depan, dan titik-titik kisar yang menentukan dalam karier dan hidup.

Dalam hal ini, Kang Atun—panggilan akrab Ramadhan KH—mengajarkan tentang bagaimana menulis biografi dan tahap-tahapannya. Mula-mula tetapkan tujuan penulisan biografi, membuat rencana penulisan, wawancara secara mendalam, detail, dan tuntas. Setelah itu, lanjutkan dengan mendalami pribadi sang tokoh sebagai manusia dan tekankan sisi kemanusiaannya.

Karena sang pelopor penulisan biografi Indonesia tersebut berlatar belakang sejarawan dan  novelis maka gaya penulisannya berbentuk novel dan bercerita seperti film. Ia berpendapat bahwa buku biografi bukanlah kumpulan tahun-tahun yang kaku dan membuat pembaca bosan. Meski ditulis dengan gaya novel dan sarat sastra tetapi ia menekankan akurasi sejarah (hal. 80).

Baca juga :  Manusia Rohani di Zaman Ramai

Sebab itu, peristiwa, fakta, suasana, warna, dan rasa haruslah kuat. Lebih banyak orang yang terlibat dalam cerita maka akan lebih bagus. Perbanyaklah porsi terpenting dalam hidupnya dengan menampilkan pergulatan dan perjuangan kejiwaan tokoh, dan buatlah pembaca terpikat dari awal sampai akhir.

Namun, The Secret of Biography bukan tulisan Ramadhan KH sendiri, melainkan cerita tentang pengalaman Zulfikar Fuad yang berguru kepada biograf legendaris itu. Zulfikar ingin membagi pengalamannya dan mengajak pembaca untuk ikut belajar. Ia mengungkapkan bagaimana Kang Atun menggodoknya menjadi penulis biografi sehingga ia juga bisa menghasilkan beberapa buku.

Sebagai penulis biografi, tutur Ramadhan, kita perlu memiliki 4 hal. Pertama, miliki gaya sendiri. Kedua, memperkaya wawasan dengan membaca apa saja. Ketiga, banyak membaca buku-buku biografi. Keempat, peka terhadap persoalan hidup dan kemanusiaan. Keempat hal itu akan memampukan penulis merekam jejak langkah sang tokoh secara lebih hidup, menggugah minat, menyentuh sisi kemanusiaan setiap orang, dan memperkaya batin pembacanya.

Dengan dituntun menulis karya yang tak saja memuat puncak-puncak kesuksesan tapi juga tonggak-tonggak kegagalan, tulisan biografi seseorang akan menjadi kado spesial bagi orang-orang penting di dekatnya dan wahana silaturahim intelektual bagi siapa saja yang membacanya. Lebih dari itu, ia akan setia bercerita sepanjang masa, tak kan lekang oleh zaman, kapan pun dan di mana pun.

Baca juga :  Menilik Santri Waria dalam Kehidupan Masyarakat

Menulis biografi laksana seni melukis rangkaian kenangan dan sejarah kiprah seseorang agar abadi, agar terus menginspirasi. Selamat mencoba. (Ira)

 

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *