Berjabat Tangan dengan Sang Mulla

Selama ini, perkembangan pemikiran dalam Islam tidak akan jauh-jauh dari permasalahan terkait tasawuf, filsafat, dan juga teologi. Hal inilah yang melahirkan beberapa tokoh besar dalam salah satu bidang keilmuan yang barusan telah disebutkan. Hanya saja pada beberapa bidang keilmuan ini sering terdapat garis yang membuat satu sama lainnya tidak bisa dipertemukan.

Kita bisa lihat pada pemikiran teologi yang seringkali bersebrangan pendapat dengan tasawuf, atau pemikiran tasawuf yang banyak mengkritik filsafat karena terlalu mendewakan akal, dan belum lagi persinggungan ketiganya dengan kelompok ahli fikih yang terkadang terlihat kaku.

Meski memiliki berbagai perbedaan dalam berbagai persoalan, dengan corak yang berbeda kita tetap akan melihat beberapa upaya yang telah dilakukan banyak pemikir besar untuk setidaknya membuat salah satu bentuk pemikiran yang bisa beriringan, hal ini bisa sama-sama kita lihat pada perkembangan pemikirian Islam abad pertengahan, pemikiran yang saling mempengaruhi, kalam dengan filsafat, tasawuf dengan teologi, maupun filsafat yang sejalan dengan corak tasawuf.

Tipe yang disebutkan terakhir inilah yang penulis temukan memiliki peran penting dan diperhatikan berbagai tokoh besar, semisal oleh Suhrawardi, sebagai bapak madzab Iluminasinisme, Syeikh besar Ibnu ‘Arabi, Mir Damad, dan belakangan dilanjutkan oleh Mulla Sadra.

Bentuk yang satu ini juga terbilang adalah hal yang baru dalam dunia Islam, sebab mengandung ide untuk mengungkapkan pengalaman tasawuf dengan metode logis ala para filosof. Meski di awal perkembangannya sangat sukar diterima, hari ini telah banyak pengamat yang mencoba mengangkat bentuk pemikiran semacam ini. Dari isu inilah nama Mulla Sadra kemudian terangkat ke permukaan.

Mulla Sadra menjadi penampung gagasan dari berbagai kelompok pemikiran, sintesis dari tasawuf, filsafat, teologi atau syariat, mampu dihadirkannya dengan cemerlang. Oleh sebab itu tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan siapakah sebenarnya Mulla Sadra, bagaimana pemikiran dan paparannya tentang pengamalan keilahian, yang tergolong masuk pada perbincangan tasawuf falsafi itu.

Lahir di Iran, yang tepatnya adalah Syiraz, Mulla Sadra memiliki nama lengkap Muhammad bin Ibrahim bin Yahya Qawami Syirazi. Nama aslinya sebenarnya adalah Muhammad, namun seringkali disebut dengan Mulla Sadra, atau Sadruddin yang berarti jantungnya agama, atau Sadr al-Muta’allihin yang dijelaskan oleh Sayyed Hossein Nasr berarti paling utama dikalangan teosof.

Baca juga :  Hikmah di Balik Pandemi Covid 19 Menurut Islam

Untuk kata “Mulla” sebenarnya merupakan sebutan bagi seorang pemuka agama. Jadi sebutan masyhur pada pemikir besar kita ini sebenarnya bukanlah nama asli yang ia miliki.

Mulla Sadra terlahir dari keluarga yang terhormat dan berpengaruh di tahun 1671-1672, Ia merupakan anak tunggal dari seorang gubernur provinsi Fars yang bernama Ibrahim bin  yahya. Hal itu yang mendukung dirinya dalam memperoleh pendidikan terbaik di Kota Syiraz, yang waktu itu masih menjadi pusat filsafat Islam dan ilmu-ilmu keislaman tradisional lainnya.

Karena lahir dengan dianugerahi kecerdasan, ia dengan cepat menyerap segala hal yang diajarkan olehnya, baik ilmu-ilmu keagamaan maupun ilmu-ilmu intelektual. Setelah memperoleh segala ajaran dari guru-guru di Kota Syiraz, Mulla Sadra melanjutkan pendidikannya ke Kota Isfahan, yang merupakan pusat intelektual filsafat di Persia.

Sebagai pemuda yang cerdas dan memiliki modal yang berlebih, tidak heran bila Mulla Sadra kemudian mendapatkan pendidikan terbaik di Isfahan. Kita akan mendapati beberapa nama besar yang menjadi guru dari tokoh yang kita bicarakan sedari tadi ini, yaitu Baha’uddin al-‘Amili seorang teolog, Mir Fendereski pengajar filsafat paripatetik, dan yang terpenting adalah guru utamanya yang merupakan teolog filosof, Mir Damad.

Seterusnya dari penjelasan Fazlur Rahman dalam bukunya Filsafat Sadra, kita bisa mengetahui bahwa pemikiran yang umum diajarkan dan tersebar luas ketika itu adalah tradisi neoplatonik-paripatetik Ibnu Sina, hikmah isyraqiyyah Suhrawardi, dan ilmuan sekaligus teolog Nashiruddin al-Thusi, yang kesemuanya memiliki pengaruh yang dahsyat bagi perkembangan pemikiran Islam, sampai hari ini.

Dari berbagai variabel di atas dapat tergambar secara jelas bagaimana fondasi pemikiran Mulla sadra tidaklah berangkat dari kekosongan pikiran. Beragamnya keilmuan yang ia dapatkan justru merupakan awal mula kabar kegembiraan bagi perkembangan keilmuan Islam.

Teosof besar kita ini yang kemudian mampu mempermudah generasi setelahnya memahami ajaran keilahian dengan paparan rasional, yang mampu menghadirkan bukti bahwa berbagai aliran keilmuan mampu untuk disintesiskan, dan yang kita terbiasa kenal dengan sebutan al-Hikmah al-Muta’alliyah atau teosofi transenden.

Telah menjadi kebiasaan bahwa seorang tokoh memiliki ciri khas pemikirannya masing-masing, dan dalam kasus Mulla Sadra konsep pemikirannya juga menjadi mazhab pemikiran baru dalam wacana keilmuan Islam, al-Hikmah al-Muta’alliyah. Gagasan ini seringkali diartikan sebagai “teosofi transendental”, teologi filosofis mulia, yang dari keterangan Fahruddin Faiz memiliki arti kearifan puncak. Meski begitu istilah yang dipakai oleh Mulla Sadra ini bukanlah yang pertama kali.

Baca juga :  Keterkaitan Antara Islam dan Filsafat Stoisisme

Kata al-Hikmah al-Muta’alliyah sebenarnya telah dipakai oleh tokoh sebelum Mulla Sadra yaitu Quthb Al-Din Syirazi. Hanya saja kata itu lebih menemukan maknanya pada apa yang telah diprakarsai Mulla Sadra. Konsep yang kita bicarakan merupakan sintesis sang Syaikhul Muta’allihin dari berbagai keilmuan utama di zamannya ketika itu.

Pemikiran ini berangkat dari 3 prinsip: wahyu, pengalaman intuitif, yang kemudian dipaparkan secara logis dan kritis. Sintesis yang dilakukan Mulla Sadra merupakan upaya menyelaraskan pengetahuan yang telah dicapai oleh tokoh besar kita ini, mengingat kesemuanya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Dengan ditambahkannya muatan pengetahuan tentang wahyu Alquran dan hadis yang memadai, ajaran Mulla Sadra mampu melampaui sesepuhnya, yang merupakan pendiri mazab Iluminasi, yakni Suhrawardi.

Tokoh yang namanya disebutkan terakhir tadi merupakan penggagas ajaran yang dikenal dengan al-Hikmah al-Ilahiyyah, atau al-Hikmah al-Isyroqiyyah. Iluminasi yang sama-sama dikembangkan kedua tokoh di atas merupakan ajaran atau suatu mazab yang membedakan pengetahuan yang bersifat konseptual dengan yang bersifat menyatu dalam diri pemilik pengetahuan, pembedaan yang biasanya dikenal dengan al-Ilm al-husuli dan al-Ilm al-hudhuri.

Selanjutnya kita bisa melihat pengaruh yang cukup besar dari seorang guru besar sufi atau teosofi, setidaknya begitu ungkapan berbagai pengamat, Ibnu ‘Arabi. Pada tahap ini Mulla Sadra banyak berhutang pada Ibnu ‘Arabi, terutama pada bagian ajarannya yang menjelaskan masalah eskatologi dan perosoalan tentang jiwa dan penciptaannya. Dari Ibnu ‘Arabi pula Mulla Sadra bisa mengutuhkan beberapa pemikiran penting terkait wujud, tentang gradasinya yang biasa disebut dengan tasykik al-wujud.

Al-Hikmah al-Muta’alliyah  Mulla Sadra tidak boleh tidak harus mengakui peran filsafat paripatetis Ibnu Sina. Pasalnya kekuatan argumen logis dari ajarannya bisa dibilang bertumpu pada gaya burhan yang diungkapkan Ibnu Sina.

Baca juga :  Menemukan Simurg di Makam Fariduddin Attar

Bila mengambil penjelasan Sayyed Hossein Nasr, Mulla Sadra memang dalam beberapa hal memiliki perbedaan yang kuat dengan apa yang telah diajarkan Ibnu Sina, hanya saja tidak bisa dipungkiri pengaruhnya terhadap pemikiran Mulla Sadra. Bahkan Mulla Sadra juga dikenal sebagai pensyarah terbaik karya-karya Ibnu Sina, terbukti dengan karyanya yang berjudul Syarah al-Hidayah.

Dari sinilah konsep yang kuat pada ranah pengalaman kesufian, filsafat rasional, dan ilmu agama mampu Mulla Sadra hidangkan dengan sangat luas dan kuat. Hasil yang membawa namanya kian dikenal dan dihormati.

Dengan pendidikan dan corak kefilsafatan Mulla Sadra yang telah dijelaskan di atas, jelas bahwa ajarannya sangat kompleks, bisa diambil dari berbagai lini, entah di bidang kefilsafatannya, di bagian epistemologi atau metafisika ontologi, maupun yang bersifat sufistik terkait pengalaman pribadinya untuk mendekatkan diri pada Allah.

Mulla Sadra adalah sosok pemikir besar Islam abad pertengahan yang mampu memberikan berbagai gagasan baru dan sangat penting. Dari dirinyalah suatu sintesis pemikiran besar berhasil ditemukan.

Ajaran yang memperkuat keselarasan, yang mampu menghadirkan keutuhan pemikiran Islam. Dengan pemikirannya yang komplesk inilah suatu madzab baru pemikiran Islam mengisi posisi penting dalam kesejarahan Islam hingga saat ini.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.