Apik dan Mendidik

Berliterasi Sejak Dini

Menanamkan budaya literasi sejak dini harus dilakukan oleh setiap orangtua untuk memperkenalkan anak dalam beraksara. Menciptakan lingkungan yang mendukung untuk mendorong anak suka membaca, dengan adanya banyak buku di rumah, serta keluarga pembaca yang setiap hari meluangkan waktu untuk membaca.

Kemudian mulai memberikan buku cerita yang menarik bagi anak seperti cerita anak dalam Majalah Bobo, maupun buku komik yang menyenangkan bagi anak untuk jatuh cinta pada buku.

Faktor lingkungan keluarga memang sangat penting dalam tumbuh kembang anak. Karena pada dasarnya pendidikan paling utama adalah keluarga. Seorang anak akan mengikuti gaya hidup orang tuanya.

Jika lingkungan keluarga dibangun seperti halnya keluarga Quraish Shihab, yang memberikan edukasi dengan membaca koran di pagi hari, kemudian mengajak anaknya berkunjung ke toko buku, hingga menjadi kebiasaan anak-anaknya mengikuti budaya literasi dalam keluarga dengan membaca banyak buku.

Keluarga lain yang memberikan pembelajaran untuk mengenalkan keaksaraan adalah keluarga Benedict Anderson. Ben Anderson begitulah sapaan akrabnya, sejak kecil mulai dikenalkan dengan buku-buku sastra, mendengarkan radio yang menyiarkan tentang ulasan buku, dan suasana rumah yang kental dengan pelbagai macam buku yang dimiliki oleh orang tuanya, telah membangun Ben Anderson menjadi seorang yang gemar membaca buku.

Begitulah seharusnya orangtua tidak hanya menyuruh anaknya rajin membaca, akan tetapi harus menjadi teladan seorang anak dalam mencintai dunia literasi.

Ketika anak sudah terbiasa membaca, orangtua harus bisa mengerti dan memahami saat anak mulai pandai berbicara dan mulai sering bertanya. Orangtua juga harus lebih banyak membaca jika tidak ingin terlihat bodoh di hadapan anaknya.

Jika seorang anak lebih pintar dari orangtuanya, mereka juga harus mengakui dan mengapresiasi bahwa anaknya telah memiliki pengetahuan yang lebih dari dirinya, dan membiarkan anaknya untuk tetap membaca buku yang disukainya.

Jangan seperti apa yang dikatakan oleh Abinaya Ghina Jamela dalam Orasi di Kampung Buku Jogja, selasa 3 September 2019. “Katanya, membaca itu bikin pintar? Tapi ketika anak-anak menjadi lebih pintar daripada orangtua, tidak terima. Mereka seperti tidak mau tersaingi oleh anak-anak. Seakan anak-anak yang suka membaca, banyak bertanya, dan menjadi cerewet itu seperti zombie yang akan menggigit mereka. Kan lucu! Tidak semua orangtua, sih! Tapi hampir semua.”

Maka penting bagi orang tua untuk mempersiapkan diri menghadapi perbedaan sikap yang terjadi pada anak saat sudah membaca banyak buku.

Selain lingkungan keluarga, lingkungan sekolah juga mendukung kebiasaan anak dalam beraksara. Perpustakaan yang memiliki banyak buku-buku cerita serta komik yang sesuai dengan umur anak sangat membantu mereka terbiasa dengan suasana berbuku. Desain ruangan juga memengaruhi minat anak-anak untuk berkunjung ke perpustakaan. Serta membiarkan anak-anak untuk memilih buku sesuai dengan yang disukainya.

Di luar lingkungan keluarga dan sekolah, hal yang paling penting adalah keinginan dan kesungguhan anak dalam belajar.

Walaupun tidak terlahir dari seorang keluarga pembaca, dan tidak mendapatkan akses pengetahuan yang sesuai dengan yang dinginkannya akibat perpusatakaan yang kurang lengkap buku bacaannya, seorang anak akan mencari jalan lain dengan kreatifitasnya.

Seperti Ohim dalam novel Si Ohim: Merintis Jalan ke Kemajuan yang diulas oleh Bandung Mawardi dalam buku Pengisah dan Pengasih (2019). Bandung menjelaskan berawal dari koran bekas bungkus kacang yang ditemukan sewaktu piket sekolah, ia baca dengan cermat dan bergairah. Dari koran itu Ohim mampu menjawab soal-soal dari guru dengan benar.

Rangsang koran berlanjut ke buku-buku. Melihat buku di perpustakaan dan di rumah hanya sedikit. Ohim mengajak teman-temannya untuk mendirikan taman baca. Keinginan Ohim dan teman-temannya untuk mendirikan sudah menginginkan perwujudan “membaca ekstensif”, bukan membaca selalu menginduk pada buku pelajaran. Dengan segala perjuangan dalam pendirian taman baca, Ohim dan teman-teman berhasil mendirikan dengan bekerjasama dengan Pak RT.

Kegembiraan Ohim dan teman-temanya terlukiskan saat keinginan memiliki taman baca tercapai dan pengadaan buku disesuaikan dengan usia mereka yang masih anak-anak. Tentunya taman baca akan di isi buku-buku cerita yang menarik bagi anak-anak, dan komik sesuai dengan pilihan Ohim dan kawan-kawan.

Di dalam euforia kebahagiaan mereka mengatakan, Taman Bacaan Kita bukan membuat kita pusing, mual, lemas dan murung. Membaca itu menggirangkan!

Comments

There is 1 comment for this article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *