Berseru Identitas Baru

Judul              : Mencari Identitas: Orang Arab Hadhrami di Indonesia (1900-1950)

Penulis           : Huub de Jonge

Penerbit         : Kepustakaan Populer Gramedia

Cetak              : 2019

Tebal              : xxiv + 261 halaman

ISBN               : 978 602 481 220 1

Pada akhir 2019, buku berjudul Mencari Identitas: Orang Arab Hadhrami di Indonesia (1900-1950) terbit memicu penasaran kita mengusut sejarah di masa kolonial dan revolusi. Sejarah memiliki tokoh-tokoh kadang tak terlalu diakrabi di buku-buku pelajaran sejarah atau pengisahan Indonesia.

Huub de Jonge di Republika, 23 Februari 2020, memberi penjelasan setelah buku terbit dan mendapat tanggapan para pembaca: “Orang-orang Arab di dekade 1930-an dinilai menjadi sadar. Mereka cenderung lebih mirip orang Indonesia daripada orang-orang yang baru datang dari Hadhramaut. Sebab, mereka lahir dari ibu Indonesia. mereka berbicara dalam bahasa Melayu dan dididik sebagai warga Indonesia.”

Penjelasan itu mengingat PAI (Persatoean Arab Indonesia), perserikatan terpengaruh hasil Kongres Pemuda II dan situasi pergerakan kebangsaan di Indonesia. Pada tahun berbeda, PAI adalah Partai Arab Indonesia. Sejarah itu mengingatkan dengan ide dan gerakan berlangsung di Semarang. Pada 1934, orang-orang dari pelbagai kita berdatangan ke Semarang untuk menentukan sikap dan kehendak.

Abdul Rahman Baswedan (1908-1986) dalam pertemuan memicu polemik setelah meminta jawaban: “Di mana tanah air golongan Arab?” Orang-orang berdebat memberi jawa berbeda. Baswedan memastikan: “Tanah air Arab peranakan adalah Indonesia.” Ia pun berseru agar Arab peranakan “wajib bekerja untuk tanah air dan masyarakat Indonesia.” Pada 1934, Persatoean Arab Indonesia berdiri dan berganti nama menjadi Partai Arab Indonesia, 1937 (Suratmin dan Didi Kwartanada, Biografi AR Baswedan: Membangun Bangsa, Merajut Keindonesiaan, 2014).

Baca juga :  Indo-Pasifik: Sebuah Konstruksi Geopolitik

Kemunculan PAI bermula dari perselisihan dan persaingan sejak awal abad XX. Pada 1912-1934, Huub de Jonge menilai sengketa di kalangan Arab menandai perubahan-perubahan sesuai situasi zaman dan pembesaran ide-ide kebangsaan. Revolusi sosial berlangung di kalangan mereka. Situasi itu “memunculkan identitas baru”, memberi jalan menerima dan menginginkan kebaruan dalam tatanan hidup di Indonesia.

Huub de Jonge membahasakan itu “memfasilitasi peralihan dari identitas dominan Arab ke indentitas dominan Indonesia.” Peralihan itu sulit melalui pendidikan, ekonomi, agama, sosial, busana, dan lain-lain. Konflik-konflik dan kehendak mencipta harmoni terjadi di Batavia, Surabaya, Pekalongan, Semarang, Cirebon, Gresik, dan lain-lain.

Huub de Jonge memberi sebutan ke AR Baswedan “salah satu jawara emansipasi dan integrasi minoritas Hadhrami di Hindia Belanda”. Ia adalah wartawan dan politisi di agenda-agenda pergerakan politik di masa 1930-an. Ia pun bergaul erat dengan kalangan seniman.

Keberanian dan keunikan Baswedan dalam pemunculan dan perengkuhan identitas Indonesia pernah menggegerkan orang-orang setelah publikasi foto Baswedan dalam busana Jawa. Ia mengenakan kain, surjan, dan belangkon. Perbuatan itu sejenis pemberian pesan atas keinginan bertanah air Indonesia, bukan di negeri jauh asal para leluhur.

Pertikaian lazim terjadi antara Indo-Hadhrami dan totok Arab. Huub de Jonge menerangkan: “Cara orang Indo-Hadhrami berperilaku, berpakaian, menghibur diri, makan dan hidup, merupakan duri dalam daging bagi totok. Cara itu mendevaluasi cara hidup yang mereka kenal baik di Semenanjung Arab selatan.” Kita mulai masuk dan menatap sejarah melalui sosok-sosok jarang diceritakan di buku-buku pelajaran sejarah.

Baswedan melalui tulisan dan gerakan politis menginginkan ada kesadaran baru berpijak Indonesia. Baswedan terlalu menginginkan kesadaran baru itu terpahami orang-orang di pelbagai kota. Pada 1934-1935, ia berkeliling ke penjuru negeri: membawa pesan dan ajakan bertanah air Indonesia.

Baca juga :  Kopi: “Kepahitan” Sejarah Berlimpahan Laba

Huub de Jonge juga memberi ingatan atas ketokohan Hamid Algadri. Tokoh tak terlalu dikenali murid dan mahasiswa di Indonesia meski sudah mendapat pelajaran sejarah. Kita membuka dulu buku berjudul Mengarungi Indonesia: Memoar Perintis Kemerdekaan Mr Hamid Algadri (1999). Semula, ia bergabung di PAI, berlanjut sibuk bersama Unitas Studisorum Indoneseasis. Ia berperan redaktur dalam penerbitan majalah. Pada masa pergerakan, Hamid Algadri bergaul dengan Mohammad Hoesni Thamrin, Mohammad Roem, Prawoto Mangkusasmito, dan lain-lain.

Pada suatu hari, ia membuat keputusan mencengangkan di hadapan dosen penguji. Ia berstatus mahasiswa di tahap ujian. Profesor Belanda ingin menguji tapi disodori dilema oleh Hamid Algadri. Si mahasiswa tahun jadwal ujian tapi ingin pergi ke Cirebon demi urusan partai politik. Si profesor memberi pilihan: lulus atau berpolitik. Hamid Algadri memilih meneruskan laju politik. Jawaban tegas. Si profesor memberi tanda tangan ke kertas membuktikan Hamid Algadri lulus dengan susulan perintah agar lekas pergi ke Cirebon.

Huub de Jonge mencatat peran Hamid Algadri dan Hoesin Bafagih sebagai pendiri Badan Konferensi Bangsa Indonesia Turunan Arab di Malang. Organisasi bermisi perubahan bagi kalangan Arab di Indonesi meski memiliki argumentasi-argumentasi gampang menimbulkan perdebatan sengit. Para tokoh menginginkan identitas baru dan berada arus pergerakan Indonesia itu sering berada di jalan pers. Mereka berlaku sebagai wartawan dan penulis artiek-artikel penuh tantangan dan adu argumentasi.

Pada masa 1930-an, terbit majalah Insaf dengan pimpinan Hoesin Bafagih dan Sadar dipimpin Baswedan. Pada 1938, terbit majalah bernama Aliran Baroe. Huu de Jonge menilai: “Aliran Baroe mencakup artikel dengan topik sangat bervariasi, mulai dari politik, sejarah Indonesia, Islam, posisi perempuan dalam komunitas Arab kolonial, pendidikan, sastra, olahraga, film, sampai humor.”

Baca juga :  Memaafkan itu, Mudah!

Buku berisi artikel-artikel Huub de Jonge mengajak kita menilik lagi lembaran-lembaran sejarah belum atau jarang terbaca oleh publik. Penulisan artikel-artikel bermula dari peristiwa “tak sengaja” untuk sampai ke tema Hadhrami. Pada 1976, ia menemani istri ke rumah penjahit di Sumenep. Penjahit itu berdarah Hadhrami. Pada 1985-1987, Huub de Jonge mengajar di Universitas Negeri Jember. Ia akrab dengan mahasiswa-mahasiswa memiliki akar Hadhrami.

Di kunjungan ke Surabaya, ia sering melihat para pedagang Hadhrami di jalan-jalan selama peringatan untuk Sunan Ampel dan Ramadhan. Ia pun memutuskan ingin mendalami komunitas Hadhrami di Indonesia, dari masa ke masa. Keinginan dituruti dengan pengkajian buku, artikel, dokumen arsip di Nationaal Archief (Den Haag) dan KITLV (Leiden). Kerja itu menjadi buku ada di hadapan pembaca. Begitu.

 

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.