Cantik dan Kebudayaan Objektif

Banyak perempuan saat ini yang ingin disebut ‘cantik’, bahkan terdapat beberapa ajang yang dinilai sebagai salah satu sarana untuk menampilkan kecantikan, seperti Miss Universe, Miss Indonesia, Putri Indonesia dan lain-lain. Cantik yang identik dengan penampilan fisik seperti bertubuh langsing, beramput hitam dan panjang, serta berkulit putih merupakan makna ‘cantik’ yang diciptakan oleh para kapitalis.

Mereka (kapitalis) menciptakan berbagai produk bagi para perempuan untuk menunjang kecantikan yang diciptakannya. Produk-produk tersebut seperti obat pelangsing, obat pemutih kulit, berbagai perawatan kulit mulai sari skin care sampai make up serta salon-salon di sepanjang jalan.

Disamping itu untuk melanggenggkan makna ‘cantik’, para kapitalis juga membuat berbagai iklan guna produk kecantikan mereka dapat terjual. Iklan-iklan saat ini tidak hanya terpampang di papan reklame atau televisi, melainkan di media sosial. Dalam suatu iklan, model yang digunakan selalu memiliki bentuk tubuh idaman, warna kulit dan riasan yang diidamkan oleh manusia.

Hal itu memberikan asumsi bahwa menggunakan produk tersebut dapat ‘merubah’mu menjadi seperti mode di iklan. Namun senyatanya, manusia menggunakan produk-produk kecantikan apakah hasilnya sesuai yang terpampang di iklan? (silakan dijawab sendiri).

Kebiasaan mempercantik diri baik dari make up, mode pakaian, dan lain-lain adalah salah satu bentuk dari kebudayaan objektif. Kebudayaan objektif merupakan suatu kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus dan merupakan hasil ciptaan dari manusia. Saat ini kebudayaan objektif mendominasi sebagian besar kehidupan manusia.

Baca juga :  Mengenal Para Mufasir Perempuan dalam Sejarah Islam

Manusia menciptakan tren kecantikan, fashion, transportasi, teknologi dan lain-lain. Namun manusia juga merasa terancam dengan apa yang mereka ciptakan. Semisal, seseorang yang biasa merias dirinya dengan make up akan merasa terancam (baca: gelisah) ketika make up mereka habis, seseorang yang sudah memiliki ponsel seri A, akan merasa terancam ketika ponsel seri B muncul dengan berbagai kwalifikasinya, fashion tahun ini akan berbeda dengan tahun lalu sehingga manusia akan selalu memperbarui tampilannya.

Hal tersebut sebagai salah satu bahwa budaya objektif telah mendominasi segala aspek kehidupan. Manusia selalu merasa dikejar oleh waktu dan budaya yang mereka ciptakan. Sehingga manusia sibuk mengupdate budayanya.

“…manusia selalu terancam dibunuh oleh objek-objek ciptaannya sendiri…”
[George Simmel]

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.