Cerita Gus Baha Didebat Orang Wahabi Soal Tanggal Kelahiran Nabi

Gus Baha

KH Bahauddin Nursalim yang akrab disapa Gus Baha lahir pada 15 Maret 1970 di Sarang, Rembang, putra dari KH Nursalim Alhafidz. Saat ini Gus Baha adalah pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA di Kragan, Narukan, Rembang.

Dalam suatu majelis ngaji, Gus Baha menceritakan dirinya pernah didebat orang Wahabi soal tanggal kelahiran Nabi Muhammad. Berikut cerita yang disampaikan Gus Baha:

Ulama dahulu sering menyebut “qila” (قِيْلَ): versi/pendapat beberapa kemungkinan tentang tanggal kelahiran Nabi Muhammad, karena tidak akta kelahiran.

Sekarang ini banyak yang menentang bahwa Nabi Muhammad lahir tanggal 12 pada hari Senin. Karena jika sekarang dihitung mundur secara hisab, maka hari Senin itu jatuhnya pada tanggal 19 atau 9.

Baca juga :  Istri Gus Baha, Putri Kiai Pesantren Sidogiri
Baca juga :  10 Quotes Gus Baha tentang Istri

Dia (orang Wahabi) bilang, “Apa buktinya pada zaman itu tanggal 12 bertepatan dengan hari Senin?”

Mubalig (penceramah) tidak akan sampai memikirkan hal ini. Ia cukup dapat untung amplop Mauludan, jadi nggak mikir.

Jawaban Gus Baha

Kalau jawaban saya tidak ambil pusing, “Karena saya ini ulama, sebelum Anda mempersoalkan itu, dalam kitab Al-Barjanzi yang saya pelajari, dari dulu tidak ada yang PeDe (soal hari & tanggal kelahiran Nabi yang sebenarnya).

Qila tanggal ini, Qila tanggat ini, dan yang paling mashur tanggal 12. Waqila tanggal 9, waqila tanggal 12, waqila tanggal 8, dan macam-macam pendapat lainnya.

“Anda terlambat mempersoalkan ini,” kata saya kepada orang itu. Sahabat Ibnu Abbas mengira umur Nabi 60 tahun. Kita ikut-ikut menganggap umur Nabi yaitu 63 tahun.

Makanya kalau saya diajak debat model gini, mending saya tinggal tidur saja. Kalau kita antar sesama orang alim itu tidak ada masalah. Wong kepastian hisab ilmunya Tuhan juga ada Qur’annya (dasarnya), ru’yah ilmunya Kanjeng Nabi juga ada Qur’annya (dasarnya).

Baca juga :  10 Quotes Gus Baha tentang Hidup Bahagia
Baca juga :  8 Quotes Gus Baha tentang Cinta

Dalam kitab Diba’ dan Al-Barzanji sering diterangkan qila dan waqila karena ada sekian kemungkinan.

Kalau ada orang menghitung tanggal 12 tidak jatuh pada hari senin, itu karena penetapan tanggal ke-1 kalender Qomariyah bisa berbeda-beda. Maka tergantung cara hitungmu menentukan tanggal 1. Kan tanggal 1 bisa selisih 2 hari atau 3 hari. Kayak begitu saja kok tidak tahu.

Akhirnya orang tadi (Wahabi) berpikir, “Benar juga, Pak Baha”.

“Lha iya, kamu ini kebetulan melihat versi tanggal 12 tidak jatuh pada hari Senin. Karena kamu ini bukan ulama, jadi qila-nya kurang banyak. Saya ini ulama, jadi mengetahui qila yang banyak.”

Salah satu ciri ulama itu mengetahui berbagai pendapat, ada sekian kemungkinan dalam hal yang tidak ada Nash Sharih (dalil yang jelas). (M. Zidni Nafi’)

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *