Cerita Sukses Pesantren MUS Sarang Kelola Warung Apung hingga Pabrik Es

Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, masyhur dengan kemaritimannya. Terbukti dengan melimpahnya hasil laut yang ada di kawasan itu. Kehidupan maritim di Sarang dilihat sebagai peluang usaha bukan hanya oleh pengusaha. Ide itu justru datang dari kalangan pesantren.

Adalah KH. Said AR, pengasuh Pondok Pesantren Ma’hadul ‘Ulum Asy-Syar’iyyah (MUS), sebuah pesantren salafiyah yang ada di wilayah Sarang. Kiai Said melihat kebutuhan nelayan akan es balok di daerah Sarang juga Kragan belum terpenuhi. Padahal, es balok sangat penting untuk menjaga kesegaran ikan di kapal hingga ke pelelangan.

Kiai Said pun menginisiasi kehadiran pabrik es untuk menjawab kebutuhan pasar. Pabrik es balok lantas dimasukkan dalam bidang usaha ekonomi yang dikelola oleh Kopontren Dwi Bhakti. Pabrik es ini memiliki aset meliputi bangunan seluas 1000 m2 terdiri dari bangunan inti gedung es balok, gedung kantor pemasaran, dan bangunan kamar mandi. Termasuk aset berupa tiga buah dumtruk. Pabrik ini pun berdiri di atas tanah sekitar 2000 m2.

Struktur organisasi pabrik es batu Kopontren Dwi Bhakti yakni Pengasuh KH. M. Said AR, Ketua Khamim, Sekretaris Anik Maftuh, dan Bendahara Miftahul Huda. Pabrik Es Batu Kopontren Dwi Bhakti termasuk perusahaan yang berbadan hukum. Legalitasnya mengikuti badan hukum Kopontren Dwi Bhakti. Unit usaha ini berlokasi di Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Jaraknya sekitar empat kilometer dari pesantren.

Baca juga :  Pandangan Mahasiswi Bercadar tentang Moderasi Beragama

Kini, usaha pabrik es Kopontren MUS Dwi Bhakti kian berkembang. Dalam sebulan, es yang diproduksi mencapai skala 30 Ton. Es balok produk kopontren pun mampu memenuhi kebutuhan 500 kapal nelayan dalam sebulan. Khususnya untuk wilayah Sarang dan Kragan dan terkadang nelayan-nelayan lain seputar Rembang.

Warung Apung Tugu Asri

Inovasi Kiai Said untuk mengembangkan ekonomi pesantren tidak terbatas pada pabrik es. Sarang yang notabene masuk dalam wilayah pantai juga menyimpan potensi kuliner. Dia pun menggagas lahirnya sebuah bisnis restoran yang bisa menawarkan makanan tradisional nan lezat. Warung Apung Tugu Asri kemudian didirikan dengan modal usaha dari kantong pribadi Kiai Said.

Rumah makan ini berada di Jalan Tuban-Semarang KM 50, Sukolilo, Bancar, Tuban, Jawa Timur (sebelah timur perbatasan Jatim-Jateng). Lokasinya yang berada di ujung barat Pantai Utara Kabupaten Tuban, membuat Warung Apung lekas dikenal orang. Berdiri di atas tanah seluas dua hektar dan luas bangunan 4000 m2, Warung Apung ini menjadi tempat yang cukup luas untuk keluarga.

Resto ini menawarkan 10-15 menu utama — di antaranya menu makanan laut — yang mengambil resep tradisional dari masakan Jawa. Ada 30 pegawai yang bekerja di rumah makan tersebut. Hampir semua pegawai Warung Apung merupakan santri Pesantren MUS. Usaha ini bermodalkan kreativitas dan inovasi dalam menyajikan resep makanan.

Baca juga :  Respons Masyarakat terhadap Paradigma Baru LDII

Menjejak Profil Pesantren MUS

Baik pabrik es maupun Warung Apung Tugu Asri berasal dari satu induk. Dua unit usaha ini sama-sama bersumber dari Pondok Pesantren Ma’hadul ‘Ulum Asy-Syar’iyyah (MUS) Rembang. Pondok Pesantren Ma’hadul ‘Ulum Asy-Syar’iyyah (MUS), terletak di Desa Karangmangu, Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah. Kecamatan Sarang secara geografis, terletak di ujung timur Pantai Utara Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Pesantren yang dibangun pada 1928 itu didirikan KH. Achmad bin KH. Syu’aib dan KH. Zubair bin KH. Dahlan. Santri yang mondok di Pondok Pesantren Ma’hadul ‘Ulum Asy-Syar’iyyah berkisar 1400 orang. Terdiri dari 900 santri putra dan 500 santri putri. Mereka berasal dari sekitar Sarang dan beberapa kabupaten yang berada di wilayah Jawa dan luar Jawa seperti Kalimantan dan Sumatra.

Program Ekonomi Pondok

Di pesantren tidak diajarkan teori bisnis/wirausaha. Namun, santri terlibat langsung dalam praktik wirausaha. Santri bisa mengikuti kegiatan di kopontren dan usaha ekonomi yang dikelola pengasuh pesantren MUS. Perlakuan pendidikan di pesantren ini berbeda dengan pesantren dan lembaga pendidikan lain pada umumnya. Model yang dilakukan di pesantren ini yakni membangun karakter berwirausaha.

Semua program usaha ekonomi yang dikembangkan Pesantren MUS dikelola oleh santri dan alumni santri. Program usaha ekonomi yang dikembangkan pesantren MUS antara lain :

Kopontren Dwi Bhakti PP MUS

  • Pabrik Es (skala 30 Ton) 500 kapal sebulan (Sarang Kragan)
  • Toko Barokah (kebutuhan sehari-hari)
  • Pengolahan Pasir Silika
  • Armada
  • Usaha ekonomi pengasuh Pesantren MUS
  • Rumah Makan Tugu Asri
  • Ternak Sapi (sudah off)
  • Percetakan Offset (kitab kuning) untuk konsumsi pesantren sekitar Sarang.
  • Air Minum Galon
  • Pertokoan Risquna Group (busana, grosir sembako, elektronik, makanan ringan)
  • Toko Kitab Al-Barokah
Baca juga :  Mencari Jalan Tengah Penolakan Gereja Cipinang Muara

Kegiatan usaha Pondok Pesantren Ma’hadul ‘Ulum Asy-Syar’iyyah (Ponpes MUS) yang tergabung dalam usaha ekonomi Kopontren Dwi Bhakti telah ada sejak 1974. Hingga saat ini Koperasi Pesantren Dwi Bhakti telah memiliki berbagai unit usaha seperti Toko Barokah/MUS untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari para santri dan masyarakat sekitar pondok pesantren. (RMF)

 

*) Tulisan ini adalah rangkuman dari diseminasi penelitian Achmad Dudin. Diterbitkan Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Kementerian Agama tahun 2017.

 

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.