Apik dan Mendidik

Cinta, Ikhtiar, dan Kepasrahan

Judul               : Lelaki dalam Doa

Penulis            : Nurul H. Maarif

Penerbit          : Pustaka Qi Falah

Tahun             : September 2019

Halaman         : xiv + 344

ISBN                : 978-602-52958-0-5

 

Lelaki dalam Doa, mengisahkan jalinan cinta tak terduga antara Zia dan Dewi. Zia adalah santri tulen, Alumni Universitas Islam Madinah, putera kiai kesohor negeri ini yang bergelar profesor, dan pernah mengenyam pengalaman hidup di Amerika Serikat.

Dewi adalah mahasiswi kampus Islam negeri di Banten, santri pesantren sekaligus aktivis mahasiswa yang hobi memimpin demo menentang kebijakan pemerintah yang dinilainya tak berpihak pada rakyat. Di sela-sela aksi demonya, Dewi tak alpa menjalankan puasa sunnah, jika aksinya bertepatan dengan jadwal rutinnya berpuasa.

Zia dan Dewi, tak punya riwayat perkenalan sebelumnya. Keduanya dipisahkan oleh jarak ruang dan waktu. Atas takdir Allah Swt., cinta keduanya disatukan melalui wasilah kecelakaan maut yang menimpa Mahasiswi UIN Sultan Maulana Hasanuddin Serang Banten, Arini, seorang aktivis Pramuka di kampusnya. Musibah bagi Arini, keluarga dan kolega, rupanya “justru” menjadi berkah bagi Zia dan Dewi. Begitulah takdir Allah Swt. jika dipandang dari sudut-sudut yang berbeda.

Kedua insan langka ini, Zia dan Dewi, sama-sama senantiasa menjaga dirinya dari pergaulan yang tak elok. Bukan tipe muda-mudi umumnya yang gemar menyebar gombal. Keduanya justru lebih sibuk menjalani kehidupan sebagai mahasiswa/i atau santri, karena mengharap masa depan yang bermanfaat bagi umat.

Impian-impian keduanya tinggi, yang harus diraih dengan kerja keras. Nyaris tak ada waktu yang terbuang sia-sia. Bahkan, Zia, yang telah mengasuh pesantren besar di usia mudanya, hari-harinya diisi dengan ketekunannya menela’ah lembaran-lembaran kitab kuning. Dan keduanya punya prinsip: “Lebih baik kehilangan masa muda, ketimbang kehilangan masa depan.”

Harapan menjalin rumah tangga yang penuh limpahan cahaya sakinah, mawaddah, dan rahmah, tentu saja mereka asakan. Mendapat jodoh terbaik, yang menjadi impian ideal setiap muda-mudi, juga mereka pintakan sungguh-sungguh pada Allah Swt. senantiasa melalui doa-doa khusuk usai shalat wajib maupun di sela tahajud malam.

Bagaimana kisah cinta mereka dirajut dengan penuh nuansa keluhuran? Bagaimana gelombang suka-duka perjalanan cinta mereka diarungi? Buku Lelaki dalam Doa, sayang dilewatkan begitu saja.

Dipadu taburan ayat Alquran, hadis, juga kata mutiara yang penuh motivasi, buku karya Nurul H. Maarif (Guru Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak Banten) ini patut dibaca muda-mudi yang menghendaki pasangan saleh atau salehah. Buku yang ditulis 10 bulan dan diterbitkan pada 2019 oleh Pustaka Qi Falah, ini juga kaya referensi klasik, baik tafsir, hadis, fikih, maupun tasawuf, yang kian memberikan bobot isinya. Justru itulah intisari buku yang hendak disampaikan penulisnya, yang kebetulan saja dibalut oleh kisah cinta Zia dan Dewi.

Beberapa kutipan yang patut menjadi renungan muda-mudi, misalnya, yang disampaikan oleh ahli fiqih besar, Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’I, terkait karakter pasangan hidup yang mesti dipilih. “Jangan mencintai orang yang tidak mencintai Allah Swt. Kalau ia berani meninggalkan Allah Swt. apalagi meninggalkan kamu,” tutur penulis al-Umm dan al-Risalah itu.

Kata mutiara lain yang patut menjadi pelajaran, misalnya: “Andai semua pria mencintai wanita karena akhlaknya, pasti semua wanita berlomba-lomba memperbaiki akhlaknya, bukan mempertebal make up-nya.”

Fadhfar bi dzat al-din, carilah pasangan yang memiliki keteguhan agama, kata Rasulullah saw. Maka, taribat yadak, beruntunglah engkau!. Agama semestinya menjadi acuan utama dalam memilih pasangan hidup.

Ala kulli hal, buku ini mengisahkan laku keislaman yang luhur, ikhtiar manusiawi, kepasrahaan, ketaatan ibadah, optimisme dan harapan, kerendahan hati, ketawadhuaan, keuletan belajar, ketekunan bangun malam, kesederhanaan, aktivisme, dan banyak lagi, yang patut menjadi pelajaran penting bagi muda-mudi yang ingin meniti kehidupan penuh cahaya keberkahan; kehidupan indah yang berujung surga-Nya.

Buku ini kian bertenaga, karena ditutup dengan kata-kata manis Zia, pada Dewi:

أُرِيْدُ أَنْ أَمْسَكَ يَدَكِ فِى الْجَنَّةِ  وَأَقُوَلُ : “نَحْنُ أَخِيْرًا هُنَا”

Aku ingin menggenggam erat tanganmu di surga dan berkata: “Akhirnya kita di sini.”

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *