Dakwah Indah dan Santun Ala Rasulullah

Wafatnya Kiai Maimoen Zubair menyisakan duka dan kesedihan mendalam dalam hati umat muslim Indonesia. Kiai sepuh pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Rembang, Jawa Tengah, tersebut mengembuskan napas terakhirnya di tanah suci Mekah ketika melaksanakan ibadah haji. Ulama panutan umat yang begitu berkharisma itu terbukti telah menularkan ilmu pengetahuan yang begitu banyak pada santri-santrinya yang berhasil menjadi dai atau pemimpin di pelbagai penjuru negeri.

Sosoknya adalah teladan yang baik bagaimana menjadi seorang ulama yang mampu memberikan siraman rohani nan menyejukkan, bukan dakwah-dakwah dangkal berisi hujatan serta ujaran kebencian yang mengobarkan api kemarahan.

Bagaimana menjadi seorang dai yang berhasil membawa jamaah pada hal-hal kebaikan serta menyampaikan pesan-pesan Islam yang penuh kedamaian sebenarnya telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Tak terhitung hadis Nabi yang berisi ajakan untuk menyebarkan dakwah dengan damai, bukan dengan kekerasan yang sama sekali tidak mencerminkan citra diri Islam.

Nawaf al-Jarrah dalam kitab Khuthab al-Rasul menjelaskan, bahwa banyak materi yang bisa disampaikan ke tengah-tengah umat yang saat ini mengalami krisis akhlak. Di mana begitu banyak ditemukan kekerasan yang mengatasnamakan agama, konflik sosial-masyarakat, hingga tentang tenggang rasa yang perlu digalakkan sehingga antar-umat beragama bisa saling menghargai perbedaan kepercayaan yang dianut. Tidak saling caci apalagi membenci dan memperolok-olok simbol-simbol agama.

Menurut Nawaf, setidaknya ada dua hal yang perlu dipersiapkan seorang dai dalam menyampaikan dakwah Islam kepada masyarakat, yakni bekal kepercayaan diri dan ilmu yang memadai.

Kepercayaan diri sangat dibutuhkan oleh siapa pun, terutama orang yang banyak berhubungan dengan manusia lain, terlebih lagi para pemimpin masyarakat. Seorang dai tentu harus memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi sehingga, ia mampu menyampaikan pesan, gagasan, dan nasihat kepada banyak orang. Namun, kepercayaan diri merupakan kualitas yang tidak lahir begitu saja, tetapi membutuhkan latihan dan perjuangan.

Baca juga :  Tiga Tuntunan Cinta dalam Surah Adh-Dhuha

Ilmu yang memadai juga perlu dimiliki oleh seorang dai. Seseorang tidak bisa menyampaikan hal-hal yang tidak diketahui atau di luar kapasitasnya. Untuk itu, ada banyak hal yang perlu dikuasai oleh para kiai atau ulama, yang juga merangkap sebagai dai di hadapan umat.

Sebagaimana disampaikan M. Quraish Shihab dalam bukunya Membumikan Alquran, ulama yang diperlukan pada masa kini dan masa mendatang tentu tidak sama dengan ulama yang telah dilahirkan pada masa lalu, baik kualifikasi maupun kapabilitasnya.

Seorang ulama atau dai dituntut untuk dapat memahami perkembangan masyarakatnya. Dalam dunia modern sekarang ini, seorang ulama tidak dapat sekadar mendalami ilmu fikih, tafsir atau hadis saja, apalagi jika pengetahuannya itu hanya bersifat hafalan yang statis.

Untuk menjawab tantangan dan problem masa kini dan masa mendatang, diperlukan penguasaan ilmu-ilmu tentang Islam yang lengkap dan dinamis, di samping perangkat ilmu dan wawasan yang dapat dipakai untuk memahami perkembangan masyarakat. Dengan demikian, ulama selalu dapat memberikan bimbingan dan pengarahan yang dapat diterima, tidak tertinggal atau terjerat karena pemahaman agama yang statis dan wawasan yang sempit.

Persiapan-persiapan matang seorang dai untuk menyampaikan dakwah Islam memang harus dipikirkan agar pesan yang disampaikan mampu membawa perubahan. Bukan sekadar referensi dari Google, Youtube, atau informasi tidak akurat yang didapatkan dari internet, tetapi referensi dari kitab-kitab klasik juga dibutuhkan.

Baca juga :  Sejarah Tahun Hijriyah Lengkap

Hal ini juga dibenarkan M. Quraish Shihab bahwa, bahan-bahan literatur lama berupa kitab-kitab karya para ulama terdahulu tetap mempunyai nilai ilmiah yang tinggi. Sebagai calon dai atau ulama, yang bersangkutan harus mempelajarinya dengan sikap kritis agar dapat mengetahui bagaimana dan mengapa pengarang tersebut berpendapat demikian.

Berdakwah dengan indah dan damai ala Rasulullah memang bukan hal mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa untuk ditiru. Apa yang diajarkan Muhammad Saw. tentang teori dakwah yang mampu menggerakkan hati orang lain untuk berbuat kebaikan memang sudah seharusnya untuk diikuti.

Hal ini karena, selama ini banyak dai, baik yang terkenal lewat acara majelis taklim televisi atau chanel Youtube, yang kerap menyampaikan hal-hal yang tidak relevan dengan kebutuhan umat. Sikap tenggang rasa terhadap kepercayaan agama lain kadang dilabrak.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *