Dakwah Nabi aja Santuy, Mengapa Kamu Ngegas?

Berdakwah dalam Islam menjadi hal yang mesti dilakukan oleh setiap muslim walau hanya satu ayat. Dakwah berarti mengajak pada kebaikan dengan cara yang bijak dan tepat.

Setidaknya untuk memperkenalkan bahwa ini loh Islam, risalah damai yang mampu menyejukkan hati setiap makhluk (rahmatan lil ‘alamin). Lalu yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan (‘adalah), kesamaan (musawah), bahu-membahu (ta’awun), kesepahaman (kalimatun sawa’), moderasi (wasathiyah), toleransi, (tasamuh), bersifat universal dan sejalan dengan etos kemansuiaan.

Setidaknya Alquran menyatakan tiga pola metode dakwah. Pertama, bil hikmah, yakni melakukan dakwah secara bijak, dapat mengetahui situasi dan kondisi yang dapat diterima oleh setiap lapisan masyarakat. Paling tidak tetap menjunjung tinggi nilai toleransi dan saling menghargai, menebar kedamaian untuk kemaslahatan sosial.

Kedua, al-mau’idhoh hasanah, memberikan nasihat-nasihat yang baik, santun, tidak serta merta menghakimi pihak yang selisih paham, atau lebih ekstrem lagi menudingnya bid’ah, sesat, bahkan kafir.

Ketiga, wa jaadilhum billatii hiya ahsan. Dakwah berupa dialog atau tukar pikiran dalam rangka menjernihkan pemahaman tanpa ada ketegangan. Hal ini selaras dengan ungkapan Imam Syafi’i:

“رأيى صواب يحتمل الخطأ ورأي غيرى خطأ يحتمل الصواب”

Bahkan, dalam beberapa ayat lainnya menyatakan tidak ada paksaan dalam beragama (laa ikraaha fi ad-din, Al-Baqarah: 256). Terkadang kita sering lupa bahwa kita hanya diberi tugas untuk mengajak dan menyeru kebaikan bukan memaksa.

Transformasi Dakwah Digital

Dewasa ini, laju perkembangan teknologi tidak dapat dibendung pesatnya, banjir informasi pun demikian deras tidak dapat dihentikan, berbagai layanan begitu mudah dan murah berserakan.

Desas-desus pertarungan ideologi turut hadir dan menjadi warna di tengah keramaian jagat maya. Tak ayal platform media sosial dijadikan sarana ampuh sebagai medan pertempuran gejolak pemikiran yang berkontestasi menyuarakan ideologi masing-masing. Hal demikian pun berpengaruh pada pola dakwah yang dilakukan sekarang.

Semula dakwah dilakukan bertatap muka secara langsung (face to face), kini mulai bergeser sedikit demi sedikit ke dakwah virtual. Bentuknya bisa berupa video, audio, maupun gambar, sama-sama masif digalakkan.

Alhasil, dakwah virtual lebih mendapat tempat di hati pemuda. Kalangan milenial ini merupakan native digital yang sudah sejak kecil memang akrab dengan kecanggihan dunia teknologi digital.

Cara yang Tidak Tepat

Namun, ada yang sangat disayangkan dari beberapa pendakwah yang masih sangat getol dan memaksakan keadaan. Misalnya berupaya menyeragamkan mazhab, tafsir, aliran, amaliah, ormas,tradisi keagamaan, dan lain sebagainya.

Mereka sebisa mungkin berupaya apa yang diyakini itu yang benar, sedang yang bertentangan dianggapnya salah. Bahkan, jauh dari kata maslahah, memunggungi nilai-nilai kemanusiaan, dan etika yang diajarkan Nabi, tudingan kafir dan sesat semarak terjadi.

Berdalih mengajak pada Islam autentik murni ala Rasul sampai menyalahi yang lain dengan menyatakan Islam tidak terkotak oleh ormas seperti halnya NU dan Muhammadiyah atau bla-blaaaa sebagainya yang membuat Islam terpecah belah, mengajak Islam kembali (Back to Quran and Sunnah), padahal Islam tidak kemana-mana kok.

Lalu apa yang salah jika beberapa masyarakat muslim Indonesia menggegap-gempitakan acara maulid Nabi riang gembira dengan kalimat-kalimat tayyibah dan puja-puji cinta kepada rasul, sejauh itu tidak menyalahi syariat dan tidak ada unsur menyekutukan Allah, apa yang salah? Hal itu pun dapat dikatakan selaras dengan syariat Islam.

Begitu pun apa yang diyakini seorang hamba dalam upaya taqarrub kepada Allah melalui dzikir-dzikir, baik itu sirr maupun jahr, dilakukan secara sendirian ataupun komunal bukanlah menjadi masalah, sejauh tidak menyalahi aqidah, memunggungi syariat, dan tidak merugikan pihak lain. Sekali lagi itu dapat dinyatakan selaras dengan syariat Islam.

Keramahan dalam Dakwah Nabi

Ibnu Arabi dalam kitab Al-Futuhat Al-Makkiyah menyatakan pentingnya sifat ramah demi keberhasilan jalan dakwah. Bentuk sikap ramah dan lemah lembut ini untuk mengambil hati orang lain. Lalu beliau mendasarkan sikap ini pada beberapa firman Allah dalam Alquran. “Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.” (Q.S Ali Imran: 159)

Bagi Ibn Arabi lemah lembut dalam ayat ini adalah merendahkan diri, ramah, santun, dan bersiasat. Hal demikian kentara pada Tuhan: Dia tetap memberikan rezeki-Nya dan menunda pembalasan kepada orang kafir meskipun ia mengingkari-Nya.

Nabi Musa dan Harun pun diperintah untuk berbicara lemah lembut kepada Raja Fir’aun. (QS. Taha: 43-44). nah lemah lembut di sini sepadan atau searti dengan mudaaraat yang merupakan kunci sukses untuk memperngaruhi orang lain.

Hal demikian pun diruwat dan dijaga lestarinya oleh Nabi Muhammad SAW sebagai suri teladan umat. Ada riwayat menyatakan, pada suatu ketika ada seorang Arab Badui kencing di pojok masjid yang kemudian mau dipukuli oleh para sahabat.

Hanya saja, Rasulullah melarangnya dan membiarkan orang tersebut menyelesaikan hajatnya (kencing). Baru kemudian dinasehati dengan nasihat yang lemah lembut.

Tsamamah bin Atsal pun mengalami hal yang sama, menjadi korban kelemah-lembutan Nabi, seorang pemimpin Yahudi dari Bani Hanifah dan sekaligus pemasok bahan pangan utama kota Makkah, dan membantai dan membunuh tujuh orang utusan Nabi yang diutus ke Najd untuk menyiarkan Islam. Pasca peristiwa Quraizhah mengutus kembali untuk pergi ke Najd karena telah ingkar janji dan membawa Tsamamah ini ke hadapan Rasul di Madinah.

Berhari-hari lamanya Rasulullah memberinya kesempatan untuk memeluk Islam, namun ia membantah, bahkan harta melimpah pun akan diberikan untuknya jika bersedia masuk Islam, namun ia menolak. Akhirnya, Rasulullah Saw menyuruh para sahabt untuk melepaskannya begitu saja.

Karena itulah Tsamamah pun luluh dan tersentuh hatinya lalu memeluk Islam dan berkata pada Rasulullah Saw. “Demi Allah, tidak wajah yang paling aku benci di atas dunia ini keculi wajahmu, tetapi sekarang wajahmu menjadi yang paling aku cintai. Dan demi Allah, tidak agama yang paling aku benci di atas dunia ini kecuali agamamu, tetapi sekarang agamamu menjadi agama yang paling aku cintai”.

Dari beberapa butir pandangan di atas dapat dikatakan bahwa berdakwah harus sejalan dengan syariat, dengan tiga role model dakwah yang perlu ditanam kuat-kuat. Nabi aja santuy kok menghadapi umatnya yang aduhai terkadang mengiris hati.

Kelemah-lembutan dakwah Rasulullah membuktikan bahwa Islam adalah risalah damai yang menyokong kuat dasar-dasar etis dan nilai kemanusian. Syariat Islam itu selaras dan bergandeng tangan dengan dasar-dasar etika kemanusiaan yang universal. Jika saling bertolak-punggung itu pasti menyalahi kevalidan syariat itu sendiri.

Berdakwah tidak dengan cara menghakimi atau bahkan menuding yang liyan kafir, bid’ah, sesat dan sebagainya. Menebar keramahan bukan kemarahan. Hal demikian jauh lebih mampu mengetuk hati.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *