Dalam Semangkuk Soto

Soto adalah sajian hangat, merakyat, mudah ditemui, dan dipastikan aman memasuki perut. Kuah bening atau agak kental yang biasanya terbit di kala pagi, sepertinya telah menjelma sajian wajib umat pengudap sarapan. Soto bukanlah sajian sakral ala ritual atau harusnya tersaji dalam momentum tertentu. Setiap rumah boleh menyajikan dan setiap warung sunah menyajikan sebagai menu. Yang pasti untuk menyantap semangkuk soto Padang, kita tidak harus naik pesawat menuju Padang. Atau menginginkan soto Lamongan tidak harus menempuh jarak sedemikian kilo menuju asal.

Bahkan, pengudap mi instan disapa oleh dua varian rasa baru dari salah satu perusahaan mi instan terkemuka di Indonesia yang Oktober 2017 lalu memasuki usia 45 tahun. Rasa soto Padang dan soto Lamongan hadir dalam iklan berbunyi, “Baru! Dari Jagonya Soto” sebesar setengah halaman di Media Indonesia 24 Mei 2018.

Soto dipilih karena sudah pasti memasuki jajaran kuliner Indonesia. Perusahaan memastikan pengudap mi merasa benar-benar makan soto dengan kelengkapan sambal soto asli dan koya gurih di kemasan soto padang atau irisan topping dan bawang goreng di kemasan soto Lamongan. Selama kita menyimpan kemasa mie dengan aman di lemari dapur, soto dijamin tidak basi. Kita sungguhan diajak makan soto khas Indonesia, hanya saja dalam visualitas mi instan.

Baca juga :  Perempuan sebagai Penjaga Keberagaman

Jejak perjalanan soto menempati akulturasi kebudayaan yang terjadi di Indonesia. Soto yang dibawa oleh imigran dari Tiongkok menandai masuknya perangkat makan baru dan menambah cara makan. Dulu, orang-orang di Nusantara belum terlalu kuyup dengan makanan berkuah banyak.

Aji Chen Bromokusumo di buku Peranakan Tionghoa dalam Kuliner Nusantara (2013) mengatakan, “Bisa dibayangkan jika makanan yang berkuah dan panas jelas tidak mungkin disantap dalam wadah semacam pincuk dengan surunya ataupun dengan tangan secara langsung. Dari situ lantas diadopsi juga kebiasaan baru makan dengan peralatan mangkok atau piring dan sendok terutama untuk jenis makanan yang berkuah dan panas.” Apalagi, Indonesia kaya dengan bumbu rempah yang semakin memberikan variasi pada rasa. Indonesia dan Tiongkok membaur dalam semangkuk soto panas.

Jika kita membuka buku-buku resep kuliner Nusantara, kita pastikan soto tersebar di pelbagai daerah di Nusantara. Salah satunya buku Kitab Masakan Nusantara (2010) oleh Tim Dapur Demedia memuat sekitar 22 resep soto. Di antaranya soto Aceh, soto Medan, soto Padang, soto Banten, soto Betawi, soto kuning Bogor, soto Pekalongan, soto Lamongan, soto grombyang (Pemalang).

Kitab resep yang kemungkinan dibaca oleh para ibu atau juru masak, memungkinkan akulturasi di ranah domestik. Di meja makan seorang Jawa, menerima kunjungan rasa dari Padang ataupun Jakarta. Dalam hal kuliner, nyaris kita selalu dibawa membuang prasangka tidak enak atau tidak cocok di lidah. Tetap ada rasa penasaran mengicip soto yang lain.

Baca juga :  Beragama secara Proporsional

Rekonsiliasi

Sedemikian kerakyatan soto, ia pun mampu memasuki wilayah politik dan meredakan letupan ketegangan. Rasa menyatukan lidah yang sempat mengalami perbedaan ideologis. Kita bisa mengingat peristiwa kecil saat Jokowi bersama Megawati dan para pejabat justru pamer santap siang bersama di Soto Gading, Solo, pada 14 Februari 2015.

Peristiwa santap bersama menepis rumor kisruh atau tidak akur (Koran Tempo, 15 Februari 2015). Menu rekonsiliasi justru bukan menu berkelas internasional dan impor. Kuah soto yang hangat lebih sanggup melancarkan alur politik yang sering dilanda prasangka, dendam, atau ambisi. Santap soto dulu sebelum kembali ke gelanggang politik yang panas.

Di warung soto, tidak lagi Jokowi menempatkan diri sebagai orang nomor satu di Indonesia atau Megawati merasa diri sebagai politikus mapan. Mereka sama seperti kebanyakan orang penikmat soto yang bisa sama-sama doyan menyantap soto dengan tusukan ati atau tusukan keong. Tiada peduli siapa yang duduk di hadapan, kedudukan setara selama mengudap di satu atap warung soto. Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah, dan makan sama soto.

Ini mengingatkan kita pada keseharian domestik yang menunjukkan naluriah berkumpul, entah dalam bentuk arisan, pengajian, pernikahan, syukuran, atau reunian, soto ada. Soto menemani kebebasan sipil untuk saling mengobrol, bergosip, bertukar keluh kesah, atau bahkan berdoa.

Mengingat wajah keragaman Indonesia yang baru saja terkoyak oleh teror dan retakan, kita pantas mengingat soto. Siraman kuahnya menghanyutkan setiap komponen yang tersendok bersama untuk menyajikan rasa paling mahaberagam.

Inilah potret toleransi dan kerukunan, bahwa kuah yang hangat tidak mungkin sedemikian sedap tanpa kehadiran daging sapi, daging ayam, taburan bawang goreng, toge, seledri, bumbu koya, telur, kubis, dan nasi. Setiap daerah di Indonesia memiliki soto dengan tampilan serta aroma khasnya. Setiap kita menjejakkan kaki mencari penghiburan dari rasa lapar, soto selalu bisa kita terima darimanapun berasal.

Baca juga :  Tafsir Keberagaman Bangsa Indonesia dalam Alquran

 

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.