Dari Fitrah ke Kurban

Islam adalah agama yang mengedepankan dua aspek ajaran, yaitu ajaran yang sifatnya ritual dan ajaran yang sifatnya sosial. Seluruh ajaran ajaran yang sifatnya ibadah mahdah punya aspek sosial yang dikandungnya.

Ajaran yang paling jelas dan merupakan tiang agama adalah ajaran salat. Ajaran salat itu adalah simbol dari ajaran Islam. Dalam diktum agama, bahwa amal yang pertama sekali diperiksa pada hari akhir adalah salat, kalau salat bagus maka baguslah seluruh amal amal yang lain, tapi kalau salatnya buruk, maka amal amal yang lain akan buruk.

Di dalam salat juga ada simbol takbir dan simbol taslim, takbir sebagai simbol kedekatan manusia dengan Tuhannya, dan simbol taslim sebagai simbol kedekatan manusia dengan sesamanya.

Itulah yang menjadi letak keistimewaan salat karena sangat jelas orientasi yang dikandungnya yaitu orientasi vertikal dan orientasi horizontal, dan kedua orientasi ini tidak bisa dipisahkan, memisahkan antar kedua orientasi ini akan membuat salat seseorang menjadi cacat.

Salat menjadi patokan dalam seluruh ajaran ajaran dalam Islam, seluruh ibadah harus punya dimensi ubudiyah dan dimensi sosial. Begitupun ibadah puasa dan ibadah haji itu sangat sarat dengan dimensi ketuhanan dan dimensi kemanusiaan.

Puasa akan melahirkan manusia manusia yang suci, yang biasa disimbolkan  dengan fitrah. Itulah sebabnya di akhir ibadah puasa kita merayakan hari raya Idul Fitri, karena kita kembali ke jati diri sebagai manusia yang hanif dan cenderung kepada kebenaran. Idul Fitri mengembalikan jati diri kita yang paling fitri.

Baca juga :  Niat Puasa Tarwiyah dan Arafah 2020

Dalam ilmu tasawuf, membersihkan diri berbagai dosa atau mengosongkan diri biasa disebut tahalli, dan mengisinya dengan berbagai kebaikan dinamakan dengan takhalli, dan mengejawentahkan kebaikan kebaikan tersebut dinamakan dengan tajalli.

Jadi, Islam itu agama yang sangat condong ke dalam bentuk amaliyah, agama yang berorientasi amal. Dalam surah Al-Ma’un orang yang mendustakan agama adalah orang yang tidak punya perhatian terhadap anak yatim, tidak punya respek terhadap orang miskin.

Keberadaan Idul Fitri dan Idul Adha adalah sangat penting sebagai simbol kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya. Idul Fitri didahului dengan puasa ramadan sebagai simbol pensucian diri. Orang yang suci itu akan mudah merasakan kedekatan dengan Tuhan, karena ruhaninya sangat bersih.

Begitupun dengan Idul Adha yang terkait dengan ibadah haji dan ibadah Kurban. Secara kebahasaan, kurban itu dari asal kata qaruba yang berarti dekat. Orang yang berkurban di hari Idul Adha adalah orang orang yang dekat kepada Tuhan, betapa Nabi Ibrahim rela mengorbankan anaknya, yang masih remaja dan lama dinantikan kelahirannya karena taat kepada perintah Tuhannya, mendahulukan perintah Tuhan dibanding dengan kepentingan pribadinya sebagai salah satu kedekatan Ibrahim dengan Tuhannya.

Mematuhi perintah perintah Tuhan akan merasakan kenikmatan dekat dengan Tuhan, kita akan membunuh apapun yang mencoba menghalangi perjalanan menuju Tuhan.

Demikian yang dipraktikkan nabi Ibrahim as., bahwa perintah Tuhan di atas segala-galanya. Menjalankan perintah Tuhan itu akan semakin mendekatkan diri kita kepada Tuhan. Itulah yang melahirkan konsep tentang ketakwaan yang menjadi muara dari seluruh perintah dan larangan dalam agama, bahwa ketakwaan itu bukanlah sesuatu yang instan, ketakwaan itu membutuhkan sebuah proses yang namanya ibadah.

Baca juga :  Niat Mandi Idul Adha dan Tata Caranya

Perintah dan larangan adalah sesuatu  yang inheren dalam ibadah. Semakin konsisten menjalankan perintah dan larangan itu akan semakin kita merasakan kedekatan dengan Tuhan. Yang menjadi orientasi dari Idul Fitri dan Idul Adha atau antara fitrah dan kurban adalah manusia.

Kefitrahan adalah bagian dari sifat primordial manusia, bagian dari sifat dasar manusia, itulah manusia yang sesungguhnya, manusia yang memunculkan sifat kehanifan yang selalu condong kepada kebenaran. Tentu saja membutuhkan suatu proses dalam memunculkan jati diri manusia tersebut. Di samping potensi ilahiyah, manusia juga punya potensi  lain, yang dalam bahasa Alquran dinamakan  al-fujur  yang merupakan lawan dari takwa

“Fa alhamaha fujuraha wa taqwaha”, Maka saya ilhamkan kepada manusia fujuraha dan ketakwaan, dengan kata lain ada potensi ketuhanan dalam diri manusia dan ada potensi kebinatangan.

Kehadiran Idul Adha juga akan membersihkan potensi potensi kebinatangan yang ada dalam dirinya. Itu sebabnya di hari hari raya kita sangat dianjurkan untuk menyembeli binatang untuk berkurban. Sebagai bentuk untuk menumbuhkan kembali sifat sifat keilahiaan dan kemanusiaan dalam diri manusia. Selalu ada pertentangan antara sifat lahut dan nasut dalam diri manusia.

Oleh sebab itu, ajaran agama yang memiliki banyak simbol punya peran yang sangat besar dalam mengangkat derajat manusia ke derajat yang mulia.

Salah satu yang menjadi orientasi dari ajaran kurban adalah orientasinya yang humanis, yakni mencoba mengikis sifat sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia lewat simbol pemotongan hewan qurban dan membagikan dagingnya kepada sesama.

Ini artinya bahwa simbol pemotongan hewan agar sifat sifat kebinatangan itu bisa terkikis dalam diri manusia dan distribusi daging qurban sebagai simbol pengejawentahan nilai nilai kemanusiaan yang merupakan aspek sosial dari ajaran islam.

Baca juga :  Nasakh dan Ayat Qurban: Imam al-Ghazali Membantah Mu’tazilah

Itulah yang menjadi inti dari nilai nilai fitrah dan kurban, keduanya menjadikan manusia kembali ke jati dirinya, yakni fitrah kemanusiaan yang suci dan mencoba mengubur aspek hewaniah yang ada dalam diri manusia lewat simbol kurban.

 

 

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.