Desa Talun dalam Kitab Addurus al-Falakiyyah

Addurus al-Falakiyah merupakan salah satu kitab yang cukup fenomenal dalam kajian ilmu falak di Indonesia. Kitab ini banyak digunakan sebagai bahan ajar dalam pelajaran falak di beberapa pondok pesantren, serta sering juga menjadi bahan diskusi dan kuliah di beberapa perguruan tinggi yang mempelajari ilmu falak.

Secara umum, kitab Addurus al-Falakiyah  terdiri dari 3 kitab yang semuanya membahas penggunaan rubu’ mujayyab dan daftar logaritma. Kedua alat hitung klasik tersebut dimanfaatkan untuk perhitungan waktu salat dan arah kiblat.

Selain memuat pembahasan mengenai tata cara penggunaan rubu’ mujayyab dan daftar logaritma, kitab Addurus al-Falakiyah juga memuat beberapa data penting yang selalu digunakan dalam perhitungan waktu salat dan arah kiblat, salah satunya adalah data lintang dan bujur dari suatu tempat. Dalam kitab ini ditampilkan data koordinat beberapa kota/ kabupaten di Indonesia serta beberapa negara di dunia.

Dari data koordinat yang disebutkan dalam Addurusul Falakiyyah, terdapat satu hal unik yaitu disebutnya nama sebuah desa di antara beberapa nama kota/kabupaten. Desa tersebut adalah Talun yang diberi keterangan dalam tanda kurung Sumberrejo; تالون (سومبرجا), artinya desa tersebut berada di kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro.

Berkaitan dengan Pesantren At-Tanwir

Penyebutan desa Talun dalam kitab Addurus al-Falakiyah tentu berhubungan dengan keberadaan Pondok Pesantren Attanwir. Pesantren ini seakan menjadi magnet bagi desa Talun karena telah menjadikan desa tersebut selalu ramai oleh aktivitas santri dalam menuntut ilmu. Sehingga dalam salah satu gapuranya tertulis Talun sebagai Desa Santri.

Baca juga :  Majlis Uraian, Kitab Karya Qadhi Muar Malaya Sebagai Respons Fatwa A. Hassan Bandung

Pondok Pesantren Attanwir didirikan sekitar tahun 1932 oleh seorang Ulama setempat bernama KH. Mohammad Sholeh atau sering disebut Mbah Kiai Soleh. Sebelum mendirikan pesantren, Mbah Kiai Sholeh telah melakukan rihlah ilmiah ke beberapa tempat untuk menimba ilmu.

Mbah Kiai Sholeh sempat belajar kepada beberapa ulama di Makkah dan berniat mukim di sana sebagaimana tradisi para santri Nusantara saat itu. Namun karena kota Makkah yang saat itu dipimpin oleh Syarif Husain mendapat serangan dari Raja Saud, Mbah Kiai Soleh akhirnya kembali ke tanah air.

Sesampainya di tanah Jawa, Mbah Kiai Soleh melanjutkan belajar kepada KH. Faqih bin Abdul Jabbar yang berada di Maskumambang Kabupaten Gresik. Saat itu KH. Faqih merupakan salah satu ulama yang menjadi mata rantai sanad keilmuan Islam dari para ulama Timur Tengah, sehingga tak heran pesantrennya banyak didatangi pelajar dari berbagai penjuru negeri untuk belajar kepada beliau.

Ketika belajar kepada KH. Faqih Maskumambang, Mbah Kiai Sholeh terbilang santri yang istimewa karena pada akhirnya dinikahkan dengan keponakan KH. Faqih yang bernama Rohimah. Dari pernikahan Mbah Kiai Sholeh dengan Bu Nyai Rohimah, lahir KH. Sahal Sholeh yang kelak menjadi penerus kepemimpinan Pondok Pesantren Attanwir.

Baca juga :  Umdatus Salik, Kitab Tasawuf Karya Kiai Muslih Mranggen
Menjalin Kekerabatan dengan Keluarga KH Faqih Maskumambang

Bu Nyai Rohimah sendiri merupakan putri dari KH. Ali yang menjadi adik ipar dari KH. Faqih Maskumambang. Beliau merupakan putri terakhir dari lima saudara yaitu Muhammad Ma’sum, Mahbub, Adlan dan Mus’idah.

Beberapa saudara Bu Nyai Rohimah yang mewarisi kebesaran keluarga Maskumambang di antaranya adalah KH. Muhammad Ma’sum bin Ali dan KH. Adlan bin Ali. KH. Adlan Ali terkenal sebagai pendiri dan pengasuh pesantren putri Walisongo Cukir yang juga pernah menjadi ketua Jam’iyyah Ahli al-Thariqah al-Mu’tabarah al-Nahdliyah (JATMAN).

Sementara saudara pertama, yaitu KH. Muhammad Ma’sum bin Ali terkenal dengan karya monumentalnya dalam gramatika Arab (Sharaf) yaitu kitab Amtsilatut Tashrifiyah. Sebelum populer dengan Amtsilatut Tashrifiyah-nya, KH. Muhammad Ma’sum bin Ali merupakan santri kinasih dari KH. Hasyim Asy’ari yang kemudian diambil menantu oleh beliau.

KH. Muhammad Ma’sum bin Ali kemudian mendirikan pesantren Salafiyah Seblak yang letaknya tak jauh dari Tebuireng.

Selain terkenal sebagai pakar gramatika Arab, KH. Muhammad Ma’sum bin Ali juga terkenal sebagai pakar ilmu Falak. Dua karyanya dalam bidang falak menjadikan beliau sebagai salah satu tokoh ilmu falak yang sangat berpengaruh di Indonesia.

Baca juga :  Mitera Sejati, Kitab Budi Pekerti untuk Santri karya KH Bisri Mustofa

Karya KH. Mohammad Ma’sum bin Ali dalam bidang falak adalah kitab Badi’at al-Mitsal yang menjadi salah satu kitab rujukan dalam hisab Haqiqi bi Tahqiq dan kitab Addurus al-Falakiyah yang di dalamnya tercantum desa Talun tersebut. Dari sinilah terbentuk hubungan saudara antara penulis kitab Addurus al-Falakiyah dengan Mbah Kiai Sholeh.

Sehingga wajar apabila KH. Mohammad Ma’sum bin Ali tidak hanya mencantumkan data untuk kabupaten Bojonegoro saja, melainkan juga mencantumkan data koordinat untuk desa Talun karena di sana terdapat pesantren Attanwir yang diasuh oleh saudara beliau.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *