Di Balik Ironi Bom Bunuh Diri

Bom bunuh diri itu, akhirnya meledak. Pelakunya merupakan pasangan suami istri yang baru menikah enam bulan. Inilah peristiwa sekian kalinya yang memprihatinkan. Bukan karena skala korban yang jatuh, tetapi lebih-lebih karena persoalan ini menyakut hubungan antar umat beragama. Sasarannya adalah sebuah rumah ibadah.

Hampir setiap bom meledak, selalu saja yang melakukan merupakan orang mengaku atas perintah agama. Pakaiannya, identitik jubah, bercadar dan menerikan slogan, semacam “Allahu Akbar”, “Jihad”, “Kafir” dan sebagainya. Fenomena semacam ini memberikan stigma negatif terhadap kelompok agama tertentu. Menggunakan dasar agama yang tak berdasar akan memancing amarah dan merusak persatuan dan kesatuan bangsa.

Apakah tujuan mereka memang demikian, untuk menghacurkan republik ini. Dengan menyebar teror yang membuat rasa aman dan cemas. Mereka menggunakan cara-cara yang tak terpuji. Mereka menggunakan topeng agama hanya kepentingan diri sendiri. Itu yang menjadi tanda bahwa persoalan radikalisme belum tuntas. Pemerintah melakukan upaya untuk mengatasi persoalan ini, mulai revisi UU Terorisme, sertifikasi ustad radikalisme dan sebagainya. Tetapi hasilnya masih belum membuahkan hasil yang maksimal.

Pertanyaan sekarang muncul di permukaan. Bagaimana solusi atas peristiwa terorisme di Indonesia ? apakah pemahaman agama yang salah menjadi faktor untuk melakukan aksi teror ? Atau, faktor ekonomi menjadi faktor melakukan tindakan itu?

Padahal, tak ada satupun agama yang mengajarkan bom bunuh diri. Tak ada ayat suci di semua agama yang melegalkan terorisme. Justru, agama mengajarkan kedamaian sesama umat manusia.

Baca juga :  Strategi Menangkal Paham Terorisme di Era Disrupsi
Taktik di Balik Aksi Terorisme

Menurut Piscatori dan Eickeleman, kekerasan adalah asumsi-asumsi nyata dari politik muslim. Para fundamentalis berjuang melawan negara sekuler. Mereka menggunakan bom-bom bunuh diri (suicide bombers). Kekerasan telah menjadi penanda perjumpaan muslim modern dan barat. Ini memberikan penjelasan bahwa agama bertugas tidak saja menyediakan ideologi, tetapi juga motivasi dan struktur organisasi bagi para pelakunya.

Aksi yang dilakukan bom bunuh diri menurut Robert Pape, direktur proyek Chicago tentang terorisme bunuh diri. Ia mencatat bahwa dalam beberapa dasarwarsa terakhir serangan bunuh diri sebagai taktik politik digunakan untuk melawan negara-negara demokratis. Opini publik dipermainkan peranan dalam menentukan kebijakan.

Secara teologis,  pelaku teror mengalami suatu persoalan yang serius. Promblema teologis yang dibungkus argumen pembenar, adalah bagian penafsiran agama yang dipahami sepihak. Untuk kemudian diyakininya sebagai tindakan membela agama. Jika dilihat tindakan teror yang menggunakan tindakan bunuh diri, tidak dapat dibenarkan dari aspek manapun.

Orang kafir menjadi objeknya. Dalam pemahaman mereka adalah orang yang tidak percaya pada Tuhan. Bagi para pelaku bom bunuh diri, Gereja adalah salah simbol orang kafir. Sangat masuk akal apabila para teroris menyerang gereja. Tetapi, hukum fiqh dan teologi macam apa yang membolehkan dan memperintahkan untuk mengebom orang kafir dan gereja. Inilah perdebatan mengenai hukum agama (fikih) dan keyakinan (teologis) bagi pelaku bom bunuh diri.

Baca juga :  Pendidikan Pesantren Sebagai Penangkal Radikalisme

Soal ekonomi, menjadi persoalan yang serius. Ada relasi antara faktor ini tentang tindakan melakukan tindakan teror. Ada iming-iming dari uang memberikan motif yang berlipat untuk melakukan aksi itu. Mungkin, tesis tentang studi terorisme erat kaitannya dengan kemakmuran suatu negara. Meskipun, tesis ini cenderung ditolak bagi sebagian ahli. Mereka menggangap bahwa aksi teror lebih kepada persoalan agama.

Dalam konteks ini, teori yang dikembangkan Ted Gurr dalam Why Men Rebel (1970) sangat relevan membantu kita sedikit lebih memahami kekerasan seperti terjadi pada peristiwa aksi teror. Menurut Gurr, ketika kekerasan politik dan ekonomi menjadi marah, khususnya tatkala kondisi atau krisis politik, ekonomi, dan budaya yang ada mendorong meledaknya agresi terhadap agresi terhadap agresi tertentu.

Jika memang dibuktikan bahwa ekonomi menjadi faktor, maka perlu diberikan kajian yang mendalam untuk membuktikan ini. Misalnya, pengaruh pengaruh pendapatan menjadi pengaruh untuk melakukan tindakan teror. Antisipasinya, kesejahteraan dan keadilan menjadi solusi utama yang dihadirkan untuk mengatasi agar tak jerumus terhadap aksi teror.

Memang, terlalu spekulatif untuk persoalan ekonomi. Tetapi, bagaimana mencoba mencari lebih mendalam di balik aktor bom bunuh diri. Mereka keseharian bekerja apa, penghasilan taraf hidup d ibawah atau di atas. Jika itu dilakukan secara kuantitatif, maka bisa dibenarkan bahwa faktor ekonomi menjadi salah satu untuk melakukan tindakan teror.

Baca juga :  Terorisme, Radikalisasi dan Ancaman Bagi Keberagaman Indonesia
Radikalisme Politik dan Ekonomi

Mempertimbangkan semua bukti dan argumen tadi jelas adalah simplistis untuk mengaitkan peristiwa bom bunuh diri dengan Radikalisme Islam. Yang terjadi sesungguhnya adalah “radikalisme politik dan ekonomi” yang menggunakan atau tepatnya memanipulasi simbol-simbol agama.

Di sini diperlukan peran kolaboratif agamawan dan pemerintah untuk merumuskan langkah kongkritnya pengatasan terorisme. Bukan hanya soal pendekatan security, yang termuat dengan adanya revisi undang terorisme. Tetapi, pendekatan humanis bagaimana segala motif sebagai faktor utama aksi teror bisa teratasi dengan baik.

Karena itu, peristiwa bom Makassar menjadi pesan bahwa perang melawan radikalisme tetap dilaksanakan. Ungkap semua.  Mulai jejaring dan pihak pihak yang terlibat hingga ke akar-akarnya. Jika itu diatasi dengan baik, maka terorisme akan pudar sendirinya.

 

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *