Di Masa Pandemi Waktunya Memuliakan Petani ‘Lagi’

Di pagi hari kala itu untuk memastikan kesehatan keluarga di rumah, saya melakukan video call dengan Emak. Dalam suana rindu, saya bertanya sedang apa Bapak di sana, apakah masih nyawah atau stay di rumah?  “Pak’e nang sawah le, Alhamdulillah sehat & kuat,” jawab emak.

Saya teringat masyarakat sekarang yang pada berbondong-bondong mengikuti anjuran para ahli untuk berjemur di pagi hari. Mereka berebut sinar ultraviolet B untuk menguatkan imunitas tubuh, sebagai tameng ketika virus Corona menyerang (Naudzubillah).

Tentunya saran para ahli itu telah dilaksanakan oleh petani berabad-abad lusa. Ketika Semua profesi yang bersifat perkantoran tutup, segala bisnis serta industri yang bersifat tersier kalang kabut. Termasuk para pejabat juga banyak kerja di rumah. Petani dengan segala budi pakerti dan qona’ah-nya tetap eksis nyawah (berladang di sawah).

Padahal kita tahu sendiri, petani sering terdzalimi di negeri yang ‘katanya’ tanah surga ini. Di tengah pesatnya insfraktuktur petani yang lahannya sering tergusur, majunya teknologi agricultur berakibat para penerus petani pada mundur.

Belum lagi konflik dengan para konglomerat oligarki negeri ini yang sampai hari ini belum menuai jalan pasti. Masih hangat perlawanan rakyat Pegunungan Kendeng menolak pembangunan pabrik semen dilahan pertanian mereka.

Masih lekat pula ketika petani Karawang berjuang mempertahankan lahan pertanian  dari akuisisi perusahaan. Dan bagaimana ironi petani selasih di Bali yang harus merelakan lahan pisangnya bertumbangan digilas alat berat gara-gara kalah di pengadilan. Lahan mereka digusur tanpa belas kasih.

Baca juga :  Nissa, Perempuan Pesantren Pejuang Ketahanan Pangan

Pada situasi pandemi atau pagebluk seperti sekarang, ketika para konglomerat, investor dan perusak alam lainya di rumah diam. Bisa dibayangkan apabila tiba-tiba petani balas dendam. Dengan cara tidak mendistribusikan hasil pertaniannya ke Bulog (Badan Usaha Logistik Negara). Dalam artian mengkonsumsi sendiri hasil panen. Mau makan apa mereka kaum elite?

Kondisi saat ini bagi sebagian yang sadar, pasti berpikir petanilah yang bisa bertahan hidup. Dikala profesi-profesi ‘bergengsi’ ramai tutup. Kondisi manakala mesin tidak dapat menghidupi, di mana kecanggihan teknologi tak dapat memberi konsumsi, dan bagaimana yang pandai bicara dikursi parlemen tidak bisa memenuhi isi perutnya. Tangan kasar petanilah yang saat ini benar-benar bisa diharapkan.

Kemudian timbul pertanyaan, loh kan stok beras Bulog masih mecukupi sampai 3 bulan kedepan? Meskipun petani tidak panen stok pangan masih aman? Kata konglomerat yang alergi pada kaum melarat. Ya, benar mencukupi, ‘hanya tiga bulan’, akan tetapi panen yang saat ini akan berguna 3 bulan kedepannya lagi.

Bisa dibayangkan kalau petani benar-benar balas dendam, menghentikan distribusi panen ke Bulog. Ujung-ujungnya impor dari uang hasil hutang luar negeri dan hasilnya angka inflasi akan tinggi, perekonomian negara lesu. Dan bisa saja kejadian 98 terulang.

Mari kita hargai petani dan jangan main-main sama petani. Rasulullah SAW sudah bersabda ketika ditanya tentang pekerjaan paling baik, Rasul menjawab:

مبرور بيع وكل بيده  لرجل ا عمل

Baca juga :  Lasem, Batik Tulis, dan Sejarah Lahirnya Toleransi

” Pekerjaan seorang laki-laki dengan tanganya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur”

Dan petani adalah salah satu kategori pekerjaan atyabu (yang paling baik) sesuai yang disebutkan  Rasulullah di atas. Hal ini berarti bekerja dengan tangan sendiri, tanpa sedikit pun digaji dari kerja keras orang lain, pajak uang rakyat misalnya.

Selain itu, dalam segi kesehatan petani sudah memberi teladan dari dulu. Di saat para pakar menganjurkan memakai Hand Sanitizer ketika keluar masuk rumah, petani sudah melaksanakan itu berabad-abad silam.

Kita bisa mengamati, petani tidak akan masuk rumah sebelum sekujur badanya benar-benar bersih dan suci, sudah menjadi tradisi petani selesai pulang dari sawah langsung menuju kamar mandi/jeding, membersihkan diri baru kemudian beribadah atau pun masuk ke rumah.

Belum lagi masalah konsumsi, petani memetiknya langsung dari alam. Terjamin higienis bebas dari unsur kimiawi. Dari situ petani sudah sepantasnya mendapat level tertinggi di negeri ini, bukan hanya benteng pangan yang sering terpinggirkan.

Jasa mereka patut diapresiasi  bukan malah dicaci. Bagi investor maupun konglomerat, setidaknya sadar akan hal tersebut, betapa urgenya petani, sebuah profesi mulia bagi seluruh semesta.

Sang Founding Father negeri ini Ir. Soekarno telah mengajarkan kepada kita untuk senantiasa menghargai petani. Saking perhatianya, Soekarno pada masa pra-kemerdekan menjadikan petani sebagai soko guru pergerakan Revolusi. Bahkan, gara-gara petani juga Soekarno menemukan Ideologi yang kemudian terkenal dengan Marhaenisme.

Baca juga :  Islam dan Falsafah Jawa; Titik Temu Spirit Kehidupan

Nahdlatul Ulama (NU) yang notabene mayoritas berprofesi petani, juga tak kalah perhatian pada petani. Sang pendiri NU KH Hasyim Asy’ari secara khusus memuliakan petani melalui tulisan beliau yang dimuat oleh Majalah Moeslimin Indonesia tahun 1336 H.

Kiai Hasyim menyebut “Petani sebagai Penolong Negeri”. Beliau juga mengkategorikan petani menjadi salah satu dari enam syarat ketertiban dunia. Demikian in bukti para pendiri bangsa dan tokoh agama begitu besarnya perhatian dan memuliakanya kepada Petani. Apalagi kita yang hanyalah rakyat jelata. Sudah saatnya kita sadar memuliakan petani.

Bagaimana cara memuliakan petani? Kita bisa memulai dari hal yang sederhana dan dampak secara langsung, dengan tidak berburu burung, berburu ular, maupun predator yang biasanya memakan hama tanaman.

Selain itu dengan cara tidak langsung, dengan membeli produk makanan dalam negeri daripada membeli bahan makanan impor. Di situ kita akan lebih membantu petani dalam mendongkrak nilai penjualan sekaligus turut meningkatkan kesejahteraan mereka. Jayalah Petani Indonesia.

There are 2 comments for this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.