Didi Kempot Mengangkat Pariwisata Melalui Lagu

Didi Kempot memang baru saja meninggalkan kita semua, namun karya dan jejaknya akan kekal sepanjanga masa. Salah satunya, saat ia mengangkat pariwisata melalui lagu.

“Semakin banyak yang nyetel lagu Dalan Anyar, aku jadi ingat tempat kerjaku dulu,” celetuk temanku ketika tiba-tiba mendengar alunan musik dari kamar tetangga kos.

Menurut penuturan karibku itu, lagu Dalan Anyar milik Didi Kempot memang mengambil latar tempat yang begitu berkesan buatnya. Hampir dua tahun ia habiskan untuk menjelajah kota yang disebut dalam lirik lagu penyanyi yang masih bersaudara dengan Mamiek Prokoso.

Lantaran belum pernah ke Ngawi, aku langsung sigap mengakses mesin pencarian untuk menemukan apa saja yang menarik dari kabupaten itu. Apa istimewanya wilayah tersebut sehingga dimasukkan ke dalam lirik oleh Didi Kempot? Mengapa Ngawi dipilih sebagai lokasi penceritaan kisah dari lagu Didi Kempot.

Rupanya, lirik tersebut berhasil memantik rasa keingintahuanku untuk menelusuri seluk-beluk sebuah kota. Aku sampai betah menghabiskan waktu untuk sekadar menggali tentang wisata dan kuliner apa yang wajib aku coba jika barangkali bertandang ke sana. Imajinasiku pun semakin liar.

Aku lalu membayangkan menyusuri terminal Kertonegoro yang diceritakan menjadi saksi bisu atas nasib nelangsa yang menimpa kekasih. Sang tokoh memergoki pasangannya tengah berduaan dengan orang lain, yang dicurigai sebagai selingkuhan.

Baca juga :  Sosrokartono, Pangeran Jawa yang Mendunia
Pengaruh Lagu Bertema Pariwisata

Tak sekali ini Didi Kempot berhasil menggiring rasa penasaranku atas suatu tempat. Dari kecil, aku sudah dicekoki lagu campursari yang selalu diputar oleh nenekku. Sehingga beberapa lagu karya Didi Kempot, aku hafal di luar kepala. Terngiang-ngiang di kepalaku yang kala itu masih bocah tentang Stasiun Balapan.

Aku membayangkan gambaran stasiun yang ramai oleh lalu-lalang penumpang yang datang dan pergi. Lalu semakin riuh dengan suara dari mesin pengeras yang mengumumkan keberangkatan kereta. Sesekali berpadu dengan musik yang menemani penumpang di ruang tunggu.

Karena ingatan masih kecil yang masih begitu kuat menempel, aku selalu dilanda kegirangan yang berlebih saat menyambangi Kota Solo dengan menumpang kereta dari Semarang. Selalu kuusahakan untuk turun di Stasiun Balapan.

Lalu setibanya di stasiun legendaris itu, aku selalu menyempatkan mengitari setiap sudutnya sembari pikiranku berkelana. Membawa diriku ke dalam situasi layaknya pemeran utama dalam lagu Didi Kempot. Bahkan aku pernah sengaja datang ke Solo hanya untuk tahu seperti apa stasiun yang begitu melekat di memoriku.

Kesengajaanku bertandang ke Solo lantas kulengkapi dengan agenda jalan-jalan. Mengunjungi tempat makan unik yang sayang dilewatkan selama berada di kota yang penuh dengan wisata budayanya.

Baca juga :  Nasaruddin Umar: Peletak Argumen Kesetaraan Gender dalam al-Qur’an (Bag. I)
Mendongkrak Pariwisata

Memang patut diakui, Didi Kempot turut membantu promosi pariwisata melalui lirik lagunya. Kali ini, ada secuil lirik dari lagu berjudul Banyu Langit yang menyebutkan tentang sebuah obyek wisata. Gunung Api Purba Nglanggeran, di Wonosari, Yogyakarta.

Seiring makin berjayanya penyanyi yang kondang berkat lagu seputar patah hati ini, maka semakin banyak pula pendengar lagu Banyu Langit. Sehingga akan lebih banyak orang yang mengetahui tentang keberadaan Gunung Api Nglanggeran. Mereka yang semula tidak tahu dan diliputi penuh oleh pertanyaan, akan mencari info detail soal wisata yang unggul tentang pengelolaan airnya itu. Selanjutnya setelah membaca penjelasan soal Nglanggeran, para fans Didi Kempot tergerak untuk mampir dan mengeksplor kawasan wisata tersebut.

Lagu memang berdampak luas. Bukan hanya menjadi sarana untuk mengekspresikan diri dan meluapkan emosi, tapi juga alat untuk menggemakan wisata sebuah daerah. Didi Kempot sudah memberi contoh bagaimana mengangkat pariwisata melalui lagu. Selanjutnya, pemerintah mungkin bisa menggandeng para seniman untuk menyelipkan pesan promosi wisata ke dalam lagunya lewat lirik yang diciptakan.

 

 

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *